GOWA, BKM — Terbentuknya Kampung KB di 27 desa di Kabupaten Gowa ternyata berdampak baik bagi Gowa sendiri. Jika sebelumnya laju pertumbuhan penduduk di Gowa mencapai 2 persen maka sekarang pada 2019 ini turun jadi 1,7 persen.
Hal ini tentu membuat Pemkab Gowa terbantu dalam segi upaya menekan laju penduduk dari tahun ke tahun.
Kadis Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (PPKB) Kabupaten Gowa Sofyan Daud mengatakan, dengan adanya Kampung KB ini tentu akan menjadi hal baik bagi Gowa dimana Pemkab Gowa memang sedang gencar melakukan program menekan laju kependudukan dengan menggiatkan berbagai upaya tersebut.
” Sejauh ini kita sudah memiliki 27 Kampung KB yang tersebar di 27 desa di 18 kecamatan. Ini saja baru sedikit dan sudah memperlihatkan hasil. Jika kita bentuk Kampung KB lebih banyak lagi maka saya yakin laju pertumbuhan pendudukan akan lebih optimal kita lakukan. Disisi lainnya juga akan mendongkrak kesejahteraan masyarakat,” jelas Sofyan Daud didepan peserta sosialisasi Dampak Kependudukan yang berlangsung di aula Wisata Kebun Bontomanai, Kelurahan Bontomanai, Kecamatan Bontomarannu, Kabupaten Gowa, Rabu (23/10/2019) siang.
Sosialisasi ini diikuti sejumlah kepala desa pelaksana Kampung KB, para penyuluh KB, LSM serta unsur media. Juga menghadirkan dua pemateri masing-masing dari Dinas PMD dan Bappeda serta dihadiri Staf Ahli Bupati Gowa Bidang Kesra Jafaruddin.
Pertemuan antar lintas sektor ini menurut Sofyan Daud, dilaksanakan untuk memberikan pemahaman kepada stakeholder terutama aparat desa yang bersentuhan langsung dengan masyarakat, bagaimana bersama-sama meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan menekan laju pertumbuhan dan peka terhadap dampak kependudukan.
“Dalam pertemuan ini kita membahas bagaimana bersama-sama menangani masalah kemiskinan masyarakat dan stunting (kekerdilan) di masyarakat. Kenapa kita singgung stunting? Karena kondisi ini tentu akan berdampak pula pada kependudukan. Kita harus cegah stunting dengan cara berkolaborasi bersama berbagai pihak. Jika kita mampu cegah stunting maka tingkat kualitas SDM masyarakat akan lebih baik. Dan ini tentu berdampak pada kesejahteraan masyarakat juga. Salah satu cara mencegah stunting adalah memperbaiki gizi masyarakat sejak dini. Inilah yang menjadi bagian dari sasaran kita dalam mengembangkan Kampung KB dimana mindset masyarakat kita ubah sehingga mampu berbuat lebih baik, mampu paham bagaimana memperhatikan gizi keluarga sehingga terlahirlah generasi sehat. Jika gizi keluarga terpenuhi dengan baik maka yakin stunting tidak akan terjadi dalam keluarga maupun lingkungan kita,” jelas Sofyan Daud.
Karena itu sosialisasi ini menjadi wadah untuk tukat pikiran dan saling berdiskusi untuk mendapatkan solusi mengentaskan berbagai masalah di masyarakat termasuk pencegahan stunting tersebut.
Dikatakan Sofyan Daud, stunting ini menjadi fokus diperhatikan semua pihak lantaran Gowa ini berusaha menghapus peringkat lima stunting di Sulsel.
” Awalnya kita anggap Gowa jauh dari stunting ternyata diam-diam terungkap bahwa Gowa peringkat lima stunting di Sulsel. Karena itu melalui diskusi lintas sektoral ini kita mau semua pihak bekerja bersama dan berpikir bersama untuk melahirkan cara tepat mencegah stunting-stunting baru (generasi yang mengalami stunting),” kata kadis.
Salah satu kolaborasi lintas sektoral mencegah stunting adalah pelibatan seluruh kepala desa untuk mendeteksi stunting di wilayah masing-masing dan kemudian melakukan pembiayaan pencegahan stunting di masyarakat melalui anggaran dana desa (ADD).
“Melalui sosialisasi ini kami anjurkan para kepala desa proaktif mendeteksi dini gejala stunting di wilayahnya dengan aktif berkunjung ke posyandu dan memperhatikan TMS masing-masing posyandu. Lihatlah TMS nya apakah ada balita yang mengalami gangguan gizi atau bagaimana. Setelah itu laporkan ke tingkat atas untuk sama-sama kita lakukan penanggulangan seperti ke Dinkes untuk soal gizinya, ke PPKB terkait pemahaman tentang kualitas hidup keluarga dan lainnya. Peran PKK di tingkat bawah juga cukup penting. Apalagi saat ini TP PKK Gowa bersinergi dengan pemerintah dalam mencegah stunting di Gowa dengan cara mengedukasi masyarakat dari tidak tau, tidak paham menjadi tau dan paham dan mau berubah,” beber Sofyan Daud.
Dikatakannya faktor kemiskinan sangat menunjang mulusnya berbagai masalah mendera termasuk stunting itu.
“Karena miskin, maka sebuah keluarga tidak mampu memenuhi asupan gizi anak-anaknya. Akibatnya berpengaruh pada otak anak dan membuatnya lamban berpikir (otaknya tidak berfungsi optimal) dan berdampak pada pertumbuhannya. Dengan memberikan pemahaman kepada keluarga untuk ber-KB maka ada kesempatan keluarga untuk berpikir jernih menciptakan generasi emas yang lebih berkualitas. Dengan keluarga kecil akan mampu mendidik anak lebih baik dan berkualitas sebab gizinya tercukupi,” tambah Sofyan Daud. (saribulan)
