Site icon Ujung Jari

Kepala Donald Trump 1,1 T,  Armin: Sebelumnya Salman Rusdhie

 

Selang beberapa hari, pasca sang komandan tertinggi Pasukan Pengawal Revolusi Iran, Jenderal Qassem Soelimani, dibunuh lewat berondongan peluru dari Drone MQ-9, milik militer Amerika Serikat, seketika itu Pemimpin Tertinggi Islam Iran, Ayatullah Ali Khomeini, resmi mengeluarkan maklumat.

Siapa berhasil memenggal kepala Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, bakalan diganjar upah US$ 80 juta, setara Rp 1,1 triliun. Uang dikumpulkan dari 80 juta jiwa rakyat Iran.

Membaca isi maklumat itu, sekelebat di benak Armin Mustamin Toputiri melayang pada kisah 14 Februari 1989. Kala itu, Pemimpin Spiritual Iran, Ayatullah Rohullah Khomeini, mengeluarkan maklumat yang isi dan ancamannya sama. “Jika maklumat terbaru dialamatkan kepada presiden negara paling berkuasa di dunia. Sementara maklumat 31 tahun lalu, ditujukan pada seorang novelis terkemuka dunia. Gegara novel ditulisnya, “The Satanic Verses”, Salman Rusdhie diserukan agar segera dipenggal”tulis Armin Mustamin, Sabtu (18/1).

Menurut politisi Partai Golkar ini,
di kala itu, sang Imam menjanji upah bagi pemenggal kepala Salman Rusdhie, sebesar US$ 500. Bahkan saking bencinya kepada novelis Inggris kelahiran India itu, akibat karya novelnya dinilai berimaji liar dan menghina ummat Islam, menyusul September 2012, “Khordad Foundation” — yayasan keagamaan di Iran — menambah upah itu enam kali lipatnya senilai US$ 3,3 juta, setara Rp 31 miliar. “Namun, telah 31 tahun titah itu dikeluarkan, maklumat itu belum pernah berbukti”jelas mantan anggota DPRD Sulsel dua periode ini.

Armin mengakui bila memang, ketika novel itu pertama kali terbit 1988, situasi dunia sangat memanas. Tak hanya di Iran, tetapi hampir di seluruh negara — terutama yang penduduknya mayoritas muslim — ramai gelombang demonstrasi memenuhi jalan-jalan, meneriakkan yel-yel kemarahan, meminta agar Salman Rusdhie dipenggal. Tak terkecuali pula di Indonesia, tidak hanya kemarahan massa, tapi pemerintahan orde baru, melalui Kejaksaan Agung mencekal novel itu beredar di Indonesia.

“Saya teringat, mendiang majalah “Jakarta-Jakarta”, terbitan kali itu memuat testimony singkat 40-an tokoh agama, budayawan, cendekiawan terkemuka Indonesia. Semua dengan nada penuh emosi, mengutuk keras imaji liar Salman Rusdhie dalam novelnya itu. Hanya Gus Dur, seorang diri berkomentar terbalik. Kira-kira Gus Dur menyampaikan begini, “saya ini mau menolak apa, mau mengutuk siapa, novelnya saja belum pernah saya baca”. Seolah menyindir testimony lain”tuturnya.

Namun ironisnya, di saat seluruh dunia mengutuk keras novel itu, bahkan penulisnya diwanti-wanti untuk dipenggal, sebaliknya justru membuat saya penasaran. Rasa ingin tahu, sekira apa cerita sebenarnya di dalam novel itu, membuat ummat Islam seluruh dunia berang. Wara-wiri saya mencari novel itu, meski saya tahu di sekian negara sudah dibakar. Di Indonesia pun sudah dicekal. Tapi kala gejolak aktifis mahasiswa saya memuncak, kian dilarang kian getol mencari.

Namanya juga usaha. Beruntung sahabat saya pulang dari pertukaran mahasiswa di Canada. Ia meloloskan satu eksemplar, novel sangat terlarang itu. Larut malam, saya mengendap ke toko buku mencopynya. Kini genap 31 tahun, copyan novel itu merana di rak “my personal library”. “Tak sekalipun saya tamatkan. Sejak malam tadi, kembali saya memulai. Mumpung dapat edisi terjemahan. Apalagi maklumat sang imam, upah penggal kepala kini dialih ke Donald Trump”pungkas Armin. (*)

Exit mobile version