Site icon Ujung Jari

647 CJH Gowa Periksa Kesehatan Tahap Dua

GOWA, UJUNGJARI.COM — Calon jamaah haji (CJH) Kabupaten Gowa yang berjumlah 647 orang kini mulai menjalani pemeriksaan kesehatan tahap dua.

Pemeriksaan tahap dua ini berlangsung tiga hari di Dinas Kesehatan (Dinkes) Gowa dipandu Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P).

Kadis Kesehatan Gowa dr Hasanuddin didampingi Kabid P2P dr Gaffar, disela memantau pemeriksaan kesehatan CJH, Kamis (12/3/2020) pagi menjelaskan secara total CJH Gowa berjumlah 647 orang.

Ke-647 CJH ini menjalani pemeriksaan terbagi tiga hari. Hari pertama Selasa (10/3/2020) diikuti CJH asal enam kecamatan, kemudian Rabu (11/3/2020) diikuti dari sembilan kecamatan dan hari ketiga, Kamis (12/3/2020) diikuti tiga kecamatan.

” Pemeriksaan haji ini sudah berjalan tiga hari. Hingga hari kedua kemarin tercatat 288 orang CJH yang datang memeriksa termasuk hari pertama yakni lakilaki 91 orang dan perempuan 197 orang. Untuk pemeriksaan tahap tiga nanti dilakukan di Embarkasi pada saat akan dilakukan pemberangkatan. Kalau pemeriksaan kesehatan tahap pertama itu dilakukan di tingkat Puskesmas,” jelas kadis.

Dijelaskannya untuk pemeriksaan dilakukan secara umum. Tapi khusus perempuan ada pemeriksaan  urine untuk mengetahui kehamilan. Jika ada CJH yang diketahui hamil maka tidak akan diberangkatkan, apalagi kalau hamilnya cukup berisiko.

Kadis Kesehatan Gowa juga mengimbau kepada seluruh calon jamaan haji agar rutin mericek kesehatannya. Disamping itu harus menjaga kesehatan sehingga pas berangkat kondisinya dalam keadaan sehat.

Sementara itu selama proses pemeriksaan tercatat dominan CJH sudah lanjut usia dan kondisi berisiko tinggi, namun belum ditemukan adanya CJH yang mengalami penyakit-penyakit menkuatirkan. 

Seperti dikatakan St Sarah, Kasi Penyakit tidak Menular dan Kesehatan Jiwa Bidang P2P Dinkes Gowa. Sarah menjelaskan kondisi berisiko tinggi yang dimaksud adalah yang para lansia yang karena penyakit tua dan karena umur. 

” Kemarin hasil pemeriksaan rata-rata para lansia menderita hipertensi. Ada juga kami dapati yang stroke yakni usia diatas 40 tahun. Ada yang dimensia atau yang sudah agak pikun. Jadi pada prinsipnya kita juga melakukan screaning dan memantau secara berkala apalagi kita temukan beberapa calon jamaah yang berpotensi TB. Ini yang kita pantau terus dan diberi minum obat secara teratur. Sekarang proses pengobatan terus dilakukan dengan harapan pada saat pemberangkatan nanti, penyakit TB nya sudah sembuh. Sedang khusus penyakit pikun atau calon jamaah yang habis mengalami stroke misalnya maka dilakukan sistem pendampingan baik pendampingan obat maupun keluarga yang akan turut berangkat,” jelas Sarah.-

Exit mobile version