Site icon Ujung Jari

Disnakbun Gowa Ajak Para Peternak Sapi Manfaatkan RPH Tamarunang

GOWA, UJUNGJARI.COM —  Pemkab Gowa memiliki rumah pemotongan hewan yang dinamai RPH Tamarunang. RPH ini terletak di kawasan Bukit Tamarunang Indah, Kelurahan Tamarunang, Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa.

Hanya saja sejak terbangun. Para peternak terlihat enggan memotong sapinya di RPH baik sebelum maupun setelah RPH direnovasi. Jajaran Dinas Peternakan dan Perkebunan (Disnakbun) Kabupaten Gowa pun bergerak aktif mengedukasi para pemilik rumah potong hewan yang masih enggan memanfaatkan RPH Tamarunang.

Sejak terbangun, RPH Gowa tidak optimal dimanfaatkan oleh para penjagal atau pemilik ternak hewan sapi yang ada di Gowa. Mereka lebih memilih memotong atau menyembelih sendiri di RPH buatannya yang dominan ditempatkan di rumah sendiri padahal tidak memenuhi akses pengolahan limbah yang baik.

” Makanya kami ajak dan arahkan semua pemilik ternak yang melakukan usaha pemotongan agar memanfaatkan RPH milik pemerintah ini sehingga kualitas kebersihan daging potongnya terjamin. Apalagi jelang hari raya Idul Adha atau hari raya kurban ini. Namun sayang para pemilik ternak sepertinya enggan dengan alasan terlalu jauh dari rumahnya. Tidak ada alat transportasi untuk pengangkutan dan tempat pemotongan di RPH berskala kecil karena hanya bisa memotong 3 sampai 6 ekor sapi per hari,” jelas Kadis Nakbun Gowa Suhriati kepada BKM, di kantornya, Jumat (24/7/2020) lalu.

Dikatakan Suhriati, sejauh ini pihaknya terus menerus melakukan edukasi hingga door to door kepada para pemilik ternak di kawasan Somba Opu, seperti dilakukan Kamis (23/7/2020) lalu di RPH swasta milik seorang warga bernama Ahmad Dg Lala di Kelurahan Samata, Kecamatan Somba Opu tepat wilayah perbatasan Gowa-Antang Kota Makassar.

Diakui Suhriati, RPH Gowa sempat fakum saat dilakukan pembenahan. Karena itu pihaknya kembali mengajak para peternak atau pengusaha pemotongan hewan agar memanfaatkan kembali RPH yang sudah berstandar internasional ini.

Sementara di penangkaran sapi milik Ahmad Dg Lala terdapat 120 ekor sapi jenis sapi bali. Penangkaran ini sekaligus sebagai stok untuk penjualan dan pemotongan jika pembeli menginginkan.

Selain sebagai rumah potong hewan, Ahmad Dg Lala juga membuka usaha industri kulit bahan baku krupuk kulit yang kemudian dikirim ke Surabaya dan Lombok.

Sayangnya, rumah potong Ahmad Dg Lala ini belum memiliki pengolahan limbah sehingga belum bisa dijadikan RPH yang memenuhi syarat potong.

” Termasuk Dg Lala inilah salah satunya pemilik rumah potong yang kami edukasi untuk memanfaatkan RPH pemerintah. Soalnya belum memiliki pengolahan limbah yang sangat bisa mengganggu lingkungan sekitarnya. Selain kami arahkan dia masuk ke RPH, dia juga kami persyaratkan agar segera mengurus dan membuat pengolahan limbahnya dan berkoordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup jika memang tetap menggunakan rumah potong miliknya,” jelas Suhriati menyatakan salut atas usaha rumah potong Ahmad Dg Lala ini yang berdiri di atas area 4 hektare dan ditata baik dilengkapi taman-taman dan area parkir di kawasan rumah potongnya yang sekaligus sebagai industri pengolahan kulit sapi.

Penangkaran sapi milik Ahmad Dg Lala ini cukup luas dilengkapi sarana potong sapi yang berkapasitas hingga 20 ekor sapi dan sangat bersih.

” Saya tentu punya keinginan tempat usaha yang baik makanya saya lengkapi semua sarana rumah potong saya ini. Hanya saja terus terang saya belum membuat pengolahan limbah dan belum mengurus amdalnya tapi saya sudah persiapkan. Untuk kebersihan tempat pemotongan, saya jamin higienis. Liat sendiri maki. Ruangannya bersih berlantai keramik dan ventilasi udara lebar sehingga yakin sirkulasi udara dalam ruangan pemotongan ini sangat baik. Kapasitasnya pun sampai 20 ekor per hari,” jelas Ahmad Dg Lala.

Selain itu, Ahmad Dg Lala juga mengaku telah mengantongi sertifikasi halal dari MUI (Majelis Ulama Indonesia).

” Yang saya belum punya adalah dokter hewan dan pengolahan limbah. Itu yang tengah saya urus. Selama ini saya hanya menggunakan tenaga kesehatan mantri peternakan. Saya punya penjagal (pemotong) lima orang. Dan yakin maki rumah potong saya mungkin yang terbaik dan terbersih (tidak berbau) di Sulsel. Saya sangat utamakan kebersihan rumah potong saya ini, mulai dari tempat penyembelihan, lalu pencacahan dan pembersihannya,” ungkap Ahmad Dg Lala yang masih berusia 40-an tahun dengan gaya nyentrik, berambut gondrong ini.-

Exit mobile version