MAKASSAR, UJUNGJARI.COM — Tim relawan dan komunitas ADAMA’ terus bergerak untuk memenangkan pasangan calon Walikota dan Wakil Walikota Makassar, Moh Ramdhan “Danny” Pomanto dan Fatmawati Rusdi (ADAMA’) di Pilwali Makassar, 9 Desember mendatang.
Memasuki 52 hari menuju pencoblosan, totalitas untuk terus mendukung perjuangan ADAMA’ kian bergelora dengan semangat tak kunjung padam, seperti loyalitas yang diperlihatkan oleh komunitas Bara 11.
Dibawah bayang-bayang pandemi covid-19 dan ancaman resesi ekonomi, Pilwali Makasssar tetap diselenggarakan pada 9 Desember 2020 dengan melibatkan sekitar 901.087 jiwa pemilih yang majemuk dan multikultural.
Melalui konsolidasi di Pa’rimpunganna Bara 11 bertujuan untuk mengikrarkan diri bahwa kita adalah satu dan tidak mudah terprovokasi dengan dinamika politik belakangan ini, terutama menyasar kandidat ADAMA’ yang mulai menyimpang dari tata cara berdemokrasi.
Ketua Bara 11, Moh. Abri, SH, mengatakan bahwa proses politik bukan sebatas perkara kuasa menguasai yang tidak lain wujud pragmatisme karena ketidakpahaman politik secara fungsional.
Hal demikian sudah mulai menjurus ke politik Machiavelistik yang pastinya akan menyasar sendi-sendi demokrasi dengan daya rusak polarisasi sosial sehingga melenceng jauh dari rasa persaudaraan dan perdamaian.
“Kontestasi bukan akhir dari segalanya melainkan awal dari restorasi mendasar, menyeluruh dan terpadu dengan menjadikan masyarakat sebagai subjek demokrasi yang berlandaskan nilai A’bulo Sibatang Acera’ Sitongka-tongka warisan leluhur,” jelas Moh Abri.
Lebih khusus, Moh Abri menilai bahwa serangan negatif yang ditujukan kepada pasangan ADAMA’ hanya menegaskan keunggulan dari program-program dalam visi misi yang memang sudah terukur juga terencana berdasarkan pengalaman.
Sedangkan tanpa mengurangi rasa hormat kepada kandidat lain, belum memiliki konsep jelas terhadap arah pembangunan apalagi kesejahteraan masyarakat yang sifatnya masih lips service seolah memandang pemilih hanya sebatas angka.
Tidak lupa Moh. Abri mengingatkan agar pesta demokrasi jangan dijadikan seremonial 5 tahunan, mari kita sukseskan dengan menjadi role model yang membuat rakyat gembira dan penuh rasa nyaman melalui sikap saling menghargai dan menghormati.
“Karena sudah menjadi kewajiban kita semua dalam menjaga dan memelihara kehormatan tanah kelahiran dengan memberi pembelajaran dan pemahaman politik yang baik, agar merangsang partisipasi pemilih demi pilwali Makassar yang berkeadilan,” terang Moh Abri. (Rls)
