MAKASSAR, UJUNGJARI.COM — Balai Besar Karantina Pertanian (BBKP) Makassar selama ini mendukung akselerasi ekspor di Sulawesi Selatan.
Berbagai komoditi unggulan yang akan dikirim ke mancanegara harus melalui pemeriksaan ketat dari BBKP untuk memastikan kualitas produk baik dan sehat.
Seperti saat PT Kakao Indonesia Cemerlang (PT KIC) akan mengirim biji kakao ke Jepang.
Pejabat Karantina Pertanian Makassar Wilayah Kerja Pelabuhan Laut Soekarno-Hatta melakukan pemeriksaan kelengkapan dokumen persyaratan eskpor dan pemeriksaan kesehatan terhadap biji kakao yang akan dikirim.
Sebanyak dua ton biji kakao milik PT. KIC tersebut berasal dari beberapa wilayah di Sulawesi Selatan.
Menurut Pejabat Karantina Pertanian Makassar, Sukmawati Saleh, biji kakao yang melewati proses pemeriksaan tersebut merupakan produk ekspor perdana PT. KIC.
Setelah dinyatakan bebas dari organisme pengganggu tumbuhan karantina, maka dilakukan penertiban Sertifikat Kesehatan Karantina Tumbuhan (Phytosanitary Certificate).
“Pemeriksaan yang dilakukan adalah kelengkapan dokumen persyaratan ekspor dan pemeriksaan kesehatan terhadap biji kakao yang akan dikirim.
Setelah dinyatakan bebas dari Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina, maka Sertifikat Kesehatan Karantina Tumbuhan) diterbitkan,” ujar Sukmawati Saleh.
Sementara itu, Kepala Balai Besar Karantina Pertanian Makassar, Lutfie Natsir menjelaskan selama ini, Sulawesi Selatan merupakan salah satu penghasil cokelat terbaik di Indonesia.
Selama ini, produksi perkebunan cokelat Sulsel mendapat pengakuan di pasar internasional dan sudah diekspor ke beberapa negara.
Selain Jepang, kakao Sulsel juga di ekspor ke China, Singapura, Malaysia, Italia, Jerman dan beberapa negara Eropa lainnya.
Lebih jauh Luthfi mengemukakan, pandemi covid yang terjadi saat ini tidak mempengaruhi ekspor kakao dari Sulsel.
“Jadi ekspor kakao Sulsel ke mancanegara tetap berjalan lancar walaupun terjadi pandemi covid,” ungkap Luthfi.
Dari data sistem pengkarantinaan, IQFAST Barantan tercatat, volume ekspor biji kakao Sulawesi Selatan terus mengalami peningkatan dengan jenis produk yang beragam.
Selain dalam bentuk biji, kakao juga diekspor dalam bentuk bubuk, residu, dan kakao pasta. Tercatat di tahun 2020, volume ekspor kakao mencapai 20 ribu ton. Sementara hingga September 2021, total ekspor tercatat sebanyak 17,7 ribu ton.
“Kami berharap dengan adanya pendampingan yang dilakukan karantina dan geliat ekspor yang dicanangkan Kementerian Pertanian, tahun ini ekspor komoditas ini mampu naik tiga kali lipat dari tahun 2020,” harap Luthfi.
Dia juga berpesan agar setiap kegiatan lalulintas produk pertanian harus dilaporkan pada pejabat karantina agar
produk yang akan diekspor dipastikan aman dan sehat. (*)
