Artikel Diklat Wawasan Kebhinekaan Global Universitas Negeri Malang PPG dalam Jabatan Kategori 1 Angkatan II Tahun 2023
Oleh: Kelas Bahasa Jerman
INDONESIA adalah bangsa besar yang memiliki berbagai suku, ras, agama, bahasa, adat-istiadat, tradisi serta kebudayaan yang beragam, sehingga menjadikannya unik dan kaya. Kelebihan ini bisa menjadi berkat bagi kemajuan bangsa dan juga malapetaka jika tidak dipahami dengan baik. Sering kali perbedaan dan kemajemukan ini membuat konflik di antara masyarakat Indonesia.
Penting adanya pemahaman ini diajarkan sejak dini di bangku sekolah, sehingga generasi-generasi penerus bangsa sudah terbiasa akan keragaman yang ada. Oleh karena itu, sangat dibutuhkan peran guru dalam proses pemberian pemahaman kepada para siswa.
Guru profesional adalah pemimpin pembelajaran yang mampu menjadi teladan dalam menuntun tumbuh kembang siswa secara holistik, aktif, dan proaktif dengan mengimplementasikan pembelajaran yang berpihak pada murid, serta mampu menjadi agen perubahan dalam mewujudkan profil pelajar pancasila. Seorang guru yang profesional sebaiknya memiliki wawasan berkebhinekaan yang baik agar dapat menjadi contoh teladan bagi setiap anak didiknya.
Pada hari Minggu tanggal 29 Oktober 2023, Universitas Negeri Malang khususnya Program Studi Pendidikan Bahasa Jerman melaksanakan Diklat Wawasan Kebhinekaan Global bagi para guru Bahasa Jerman yang sedang menjalankan Pendidikan Profesi Guru dalam Jabatan Kategori 1 Gelombang 2 tahun 2023. Diklat ini diikuti oleh guru, baik dari kelas reguler maupun kelas guru penggerak, dengan pembicaranya adalah Dr. Sri Prameswari, M.Pd dan Dr. M. Kharis, M.Hum., yang adalah dosen Prodi Pendidikan Bahasa Jerman di Universitas Negeri Malang. Adapun diklat ini berlangsung pada pukul 07.00 – 18.00 WIB.
Wawasan Kebinekaan Global adalah modul penguatan nilai kebhinekaan, sehingga tema diklat WKG saat itu adalah Beda-beda tetapi Tetap Sama-sama. Alur Materi kegiatan dimulai dari diri yang dimulai dengan pertanyaan pemantik untuk mengantarkan peserta kepada tema pembahasan yang terdiri dari 5 (lima) topik pembahasan.
Langkah selanjutnya adalah aktivitas. Pada langkah aktivitas, peserta diklat diberi konteks yang lebih nyata lewat permainan, peserta akan terlibat dalam permainan ini dan merasakan langsung akan problem yang dihadapi. Kemudian peserta didik membuat refleksi dari aktivitas permainan yang kemudian dikaitkan dengan pengalam hidup dari peserta. Pada tahap konsep/anggitan, peserta diklat menyuguhkan ide/gagasan terkait keragaman secara global.
Pada tahap terakhir, mengajak peserta diklat untuk mengimplementasikan konsep dalam kehidupan sehari-hari mereka. Adapun 5 Topik yang dibahas dalam diklat Wawasan Kebhinekaan Global tersebut, antara lain: (1) Kebhinekaan Global, (2) Kebhinekaan Indonesia, (3) Berdamai dengan diri, (4) Keragaman di sekolah dan (5) Menuju Sekolah Damai.
Topik 1: Kebhinekaan Global, “Dunia yang Berwarna”
Pada dasarnya asal usul manusia di dunia sangatlah beragam. Setiap orang tidak dapat menentukan siapa atau dari mana dia berasal (penduduk asli). Manusia jaman dahulu telah bermigrasi dari satu daerah ke daerah yang lain. Sehingga setiap insan dimanapun berada wajib memiliki perasaan menghargai keberagaman. Kebhinekaan global mencerminkan bagaimana peserta didik Indonesia diharapkan dapat melestarikan budaya dan identitas leluhur lokalnya serta mempunyai pola pikir yang sangat luas dalam berkomunikasi dengan budaya yang berbeda, agar mampu memupuk sikap saling menghargai dan membentuk budaya baru yang positif namun tidak menyimpang dari budaya leluhur (Permendikbud, 2020).
Kebhinekaan global adalah salah satu bentuk penghargaan terhadap sikap toleransi terhadap keberagaman atau perbedaan yang ada. Karakter kebhinekaan global menjadi faktor penting untuk meminimalisir isu-isu yang berkaitan dengan karakter anak Indonesia.
Maraknya permasalahan terkait penyimpangan karakter yang menimpa sebagian besar generasi muda Indonesia di semua jenjang pendidikan, termasuk sekolah dasar. Siswa yang berkebhinekaan global mempunyai semangat untuk melestarikan budaya, tempat, serta identitas luhur Indonesia (Widiyanti et al., 2022).
Selain itu, siswa mengetahui bagaimana bersikap terbuka ketika berhadapan dengan budaya lain, menumbuhkan rasa saling menghormati dan menciptakan bentuk budaya baru yang sejalan dengan nilai luhur budaya bangsa. Guru memikul tanggung jawab besar dalam keberhasilan pembentukan karakter kebhinekaan global siswa.
Dalam pendidikan Bahasa Jerman, guru diharapkan mampu memperkenalkan dunia luas kepada peserta didik agar dapat membandingkan kebudayaannya dan budaya asing serta dengan bijak berperilaku menghargai perbedaan.
Topik 2: Kebhinekaan Indonesia, “Negeri Penuh Harmoni”
Kegiatan pada topik ini, mahasiswa diajak untuk merenung dan mendalami makna pentingnya toleransi dan perdamaian dalam kehidupan mereka sehari-hari. Ini dimulai dengan refleksi tentang diri sendiri. Mahasiswa diberikan kesempatan untuk memahami perbedaan yang mereka miliki, baik dalam hal agama, budaya, maupun pandangan politik.
Toleransi adalah sikap saling menghormati, saling menerima, dan saling menghargai keberagaman budaya, kebebasan ekspresi dan karakter manusia. Sikap toleransi harus ditumbuhkan sejak dini. Dalam kehidupan sehari-hari contohnya menghargai perbedaan suku, agama, budaya, bahasa dan pandangan politik.
Tidak mudah untuk mempersatukan membentuk kebhinekaan tersebut bahkan sampai menelan korban jiwa akibat konflik. Kerentanan penyebab masalah tersebut adalah kurangnya pendidikan dan kesadaran diri tentang keberagaman dan adanya prasangka/stereotip negatif terhadap individu atau kelompok tertentu, serta ketidaksetaraan sosial dan ekonomi dalam masyarakat.
Berkaitan dengan moderasi dalam konteks dunia pendidikan, guru diharapkan mampu memberikan pemahaman kepada siswa
tentang indahnya keberagaman melalui implementasi profil pelajar pancasila, yaitu toleransi, empati, keadilan, dialog dan kepatuhan terhadap nilai-nilai Pancasila.
Topik 3: Berdamai dengan Diri, “Damai Mulai dari Diri”
Setiap manusia memiliki identitas sejak lahir. Ketika memasuki lingkungan masyarakat identitas seseorang menjadi lebih banyak. Tidak dipungkiri banyak masyarakat yang memandang identitas berdasarkan standar tertentu dan berusaha untuk menjadi orang lain demi mencapai standar itu.
Sebagai teladan dan penuntun, guru diharapkan mampu memberikan pemahaman kepada siswa bahwa setiap manusia itu unik dan tidak bisa dibandingkan dengan orang lain. Oleh karenanya sebaiknya seseorang memiliki welas asih pada diri sendiri yang menimbulkan hal-hal positif.
Sikap welas asih pada diri sendiri adalah langkah awal dalam membangun hubungan yang sehat dan bermanfaat dengan orang lain. Dengan merawat diri sendiri dan merasakan kasih sayang terhadap diri sendiri, seseorang akan lebih mampu memberikan dukungan dan empati pada orang lain dalam konteks yang beragam.
Topik 4: Keragaman di Sekolah, “Sekolahku yang Bhineka”
Keberagaman tidak hanya ditemukan dalam lingkungan masyarakat namun terdapat juga dalam dunia pendidikan. Sebagai sekolah heterogen, sangat diperlukan budaya saling menghargai.
Keragaman dalam dunia pendidikan juga tercermin dalam pembelajaran yang berdiferensiasi yaitu pembelajaran yang menekankan pada kebutuhan belajar siswa. Penting juga mempromosikan nilai-nilai toleransi, empati, serta menghindari perundungan dan diskriminasi dalam lingkungan sekolah.
Kemitraan dengan komunitas, orang tua, masyarakat lingkungan sekolah dan dukungan kepala sekolah adalah kunci dalam menciptakan lingkungan yang baik serta pemantauan dan evaluasi secara berkala untuk meningkatkan upaya promosi keragaman di sekolah. Selain itu, sekolah dapat mengadakan kegiatan-kegiatan yang menunjukkan adanya toleransi dalam keberagaman.
Topik 5: Menuju Sekolah Damai, “Sekolahku yang Damai”
Sebagai bagian dari kegiatan ini, mahasiswa juga diajak untuk merenungkan peran mereka dalam menciptakan sekolah yang Bhineka dan Damai. Mereka mengakui bahwa lingkungan sekolah adalah tempat yang ideal untuk mempromosikan keberagaman dan membangun hubungan yang penuh harmoni. Kegiatan ini mendorong mahasiswa untuk merancang suatu program aktivitas kebhinekaan global dalam lingkungan sekolah mereka yang bertujuan untuk memahami dan merayakan perbedaan serta mempromosikan perdamaian.
Menuju Sekolah Damai menjadi tujuan utama dalam praktik penanaman nilai-nilai keberagaman di sekolah. Untuk mencapainya maka dibutuhkan 3K (Keteladanan, Kolaborasi, dan Kontribusi) dari semua pemangku kepentingan. Dalam menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan menyenangkan, maka warga sekolah juga harus terlebih dahulu paham apa sebenarnya yang menjadi hak dasar dari anak-anak peserta didik. karena pemahaman akan hak dasar anak ini akan menjadi instrumen penting pemahaman kita akan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan menyenangkan.
Di antaranya adalah anak berhak mendapatkan hak hidup yang layak, anak berhak untuk tumbuh kembang secara optimal, anak berhak mendapatkan perlindungan dari segala bentuk kekerasan, anak berhak mendapatkan kesempatan berbicara dan
menyampaikan pendapat, dan berikutnya adalah anak berhak memilih pendidikan yang sesuai dengan minat dan bakatnya.
Berbagai cara untuk menjaga sekolah tetap damai dan aman yaitu setiap ekosistem sekolah harus bekerja sama, baik warga sekolah, orang tua, masyarakat sekitar sekolah maupun para mitra sekolah. Agar damai dapat tercipta, sekolah sebaiknya meningkatkan kapasitas dan meminimalisir kerentanan serta mencegah terjadinya ancaman.
Beberapa langkah yang dapat membantu menciptakan sekolah yang damai, antara lain: mempromosikan budaya damai, memberikan pendidikan tentang damai, penanggulangan perundungan, komitmen sekolah terkait sekolah damai, konseling, dan kerja sama dengan orang tua.
Sebagai kesimpulan dari artikel ini, kami sebagai guru Bahasa Jerman yang sedang menjalankan Pendidikan Profesi Guru dalam Jabatan Kategori 1 Gelombang 2 tahun 2023 berpendapat bahwa Diklat Wawasan Kebhinekaan Global yang diadakan oleh Universitas Negeri Malang adalah contoh nyata dari komitmen untuk menciptakan dunia yang berwarna, penuh harmoni, dan damai.
Melalui pemahaman, refleksi, dan Tindakan. Mahasiswa dan Akademisi di Universitas ini telah membuktikan bahwa perbedaan dapat menjadi kekuatan, bukan penyebab konflik.
Harapan dari kegiatan diklat Wawasan Kebhinekaan Global ini adalah agar guru terkhusus guru bahasa jerman yang mengikuti PPG dalam Jabatan Kategori 1 Gelombang 2 dapat mengajarkan nilai-nilai toleransi, perdamaian, dan keberagaman di sekolahnya masing-masing, sehingga tercipta dunia yang lebih baik dan lebih damai, mulai dari diri sendiri dan dunia pendidikan. (*)
