GOWA, UJUNGJARI.COM — Sebuah buku berjudul Topeng-Topeng ditulis oleh seorang pria asal Kabupaten Gowa. Buku ini mengulas tentang kehidupan manusia dan seolah membuka mata dan telinga manusia untuk memaknai kehidupan dengan sadar. Bahwa sampai kapan kita tertidur pulas, berbantal kepalsuan.
Itu adalah salah satu kalimat penyadar untuk manusia yang dituangkan penulis dalam buku setebal 88 halaman dan diterbitkan oleh Gapura Biru Jakarta ini. Buku ini terbit pada April 2025 dan ditulis oleh Mustamin Raga yang merupakan sosok pecinta, penggiat fotografi dan penyuka dunia menulis. Mustamin selama ini aktif menulis artikel di berbagai media.
Buku pertama yang ditulisnya adalah Topeng-Topeng dan sebentar lagi buku kedua yakni ‘Mata Melihat, Hati Mengabadikan’ akan dirilisnya. Buku kedua ini tentang filosofi seni dan teknik fotografi 2025.
Pria kelahiran Takalar 28 Juli 1968 dan suami dari St Wardaningsih Djawad (seorang alumni Sastra Inggris) ini kesehariannya adalah ASN dan menjabat sebagai Sekretaris Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Gowa.
Menyoal buku Topeng-Topeng ini, Mustamin mengatakan berisi kumpulan puisi. Ada 30 essay puisi didalamnya yang semuanya merupakan sebuah refleksi kritik kontemplasi (mengamati sesuatu secara mendalam) dan kritik kontemporer (modern, kekinian atau berkaitan dengan masa sekarang) terhadap berbagai masalah baik itu masalah pemerintahan, masalah sosial dan kehidupan manusia sehari-hari.
“Jadi di dalam buku Topeng-Topeng ini adalah perspektif saya. Saya melihat berbagai persoalan yang kita hadapi sehari-hari dan sangat aktual. Nah itu yang saya tumpahkan dalam 30 essay puisi ini. Jadi yang subjek dan objek dari isi buku itu, tidak ada yang lepas, semua ada. Mulai dari pemerintah, masyarakat, legislatif, eksekutif, yudikatif sampai pada rakyat jelata, ” kata Mustamin di sela bedah buku di Perpustakaan Daerah Kabupaten Gowa, Rabu (28/5/2025).
Bagi dirinya, apa yang terjadi masa sekarang kalau itu adalah sebuah capaian yang baik, maka itu adalah kontribusi dari seluruhnya. Begitupun sebaliknya. Kalau itu ada hal yang tidak baik, maka itu bukan perbuatan atau akibat dari dosa sebagian orang tapi dari seluruhnya. Menurut Mustamin, sekurang kurangnya ketika melihat kesalahan, kemungkaran, jangan diam karena kalau diam maka juga ikut berpartisipasi mendiamkan kesalahan dan kekeliruan itu.
“Puisi utama yang ada di dalam Topeng-Topeng itu menggambarkan bagaimana kita bersikap sangat introvert. Kadang-kadang kita dipaksa untuk mengatakan sesuatu itu baik tapi sesungguhnya dalam hati kita itu berlawanan arah. Nah itu yang saya ungkapkan. Kita melapor ke atasan kita, everything is oke, semuanya baik, padahal itu semua tidak seperti itu. Nah ini yang saya kritik, kita terlalu banyak berdusta, terlalu banyak berbohong, padahal kita tahu sesungguhnya yang benar itu ada dalam hati kita, ” imbuh Mustamin.
Dia pun berharap bukunya ini mendapatkan ruang dan tempat di hati pembacanya. Dan juga salah satu buku bacaan referensi pengunjung Perpustakaan Daerah Kabupaten Gowa. Buku Topeng-Topeng ini menjadi bagian dari bedah buku yang digelar di Perpustakaan Daerah Gowa pada Rabu (28/5/2025). –
