Site icon Ujung Jari

Proyek Irigasi Rp29 M di Takalar Diduga Tak Sesuai Bestek, Warga: Gunakan Material Batu Bercampur Tanah

TAKALAR, UJUNGJARI–Proyek rehabilitasi jaringan irigasi sepanjang 4 kilometer di Dusun Bontomani, Desa Bontomanai, Kecamatan Mangarabombang, Kabupaten Takalar, menuai sorotan warga. Soalnya,  pengerjaan proyek yang bersumber dari APBN 2025 itu, dinilai tak transparan dan diduga tidak sesuai spesifikasi teknis (bestek)

Kamal Rajamuda Daeng Tojeng, warga setempat sekaligus penerima manfaat, mengungkapkan kekhawatirannya terhadap kualitas material yang digunakan. Ia menyebut batu gunung yang dipasok ke proyek tersebut,  bercampur dengan tanah, diduga berasal dari tambang ilegal di Bulujaya, Kecamatan Bangkala Barat.

“Kami khawatir, kualitas material seperti batu gunung yang tercampur tanah akan mengurangi kekuatan bangunan irigasi ini. Apalagi jika benar diambil dari tambang ilegal,” keluh Daeng Tojeng kepada wartawan, Rabu (16/07/2025).

Menurutnya, proyek ini juga dinilai tidak transparan karena tidak memasang papan informasi di lokasi, padahal hal itu sudah menjadi kewajiban sesuai Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik (KIP).

Diketahui, proyek tersebut merupakan bagian dari kegiatan Rehabilitasi Jaringan Irigasi D.I Pammukulu yang dikerjakan oleh PT Jaya Etika Beton dengan nilai kontrak sebesar Rp29,8 miliar.

Leading sektor proyek ini adalah Balai Besar Wilayah Sungai Pompengan Jeneberang SNVT PJPA Pompengan Jeneberang Provinsi Sulawesi Selatan, dengan nomor kontrak HK.02.01/AU8 3/68/V/2025, dan masa pelaksanaan selama 210 hari kerja terhitung mulai 23 Mei hingga 18 Desember 2025.

Warga meminta pihak terkait segera turun tangan melakukan pengecekan lapangan.“Kami minta Satker Balai Besar Wilayah Sungai Pompengan Jeneberang segera menindaklanjuti temuan ini. Jangan sampai proyek bernilai miliaran ini berakhir sia-sia karena pengerjaan yang diduga asal-asalan,” tegas Daeng Tojeng.

Sementara itu, Helmi selaku Kepala Proyek dari PT Jaya Etika Beton belum memberikan tanggapan saat dikonfirmasi wartawan pada Rabu (16/07/2025). Ia memilih bungkam saat berusaha dikonfirmasi.

Terpisah, Alim selaku Koordinator Lapangan proyek saat dikonfirmasi via WhatsApp, tidak menampik adanya material batu yang bercampur tanah.

“Saya sudah  arahkan untuk dipisahkan terkait meterial tersebut,” tandas Alim, singkat. (*)

 

 

Exit mobile version