MAKASSAR,UJUNGJARI.COM – Kepala Laboratorium Jurusan Bahasa Inggris, Fakultas Bahasa dan Sastra (FBS), Universitas Negeri Makassar (UNM), Chairil Anwar Korompot, S.Pd., M.A., Ph.D., menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Redefinisi Laboratorium Bahasa Inggris” pada Kamis, 7 Agustus 2025 di Ruangan Rapat Senat FBS UNM Kampus Parangtambung.
Kegiatan yang dihadiri para dosen Jurusan Bahasa Inggris FBS UNM ini bertujuan membangun pemahaman komprehensif tentang konsep laboratorium bahasa yang lebih luas dan inovatif.
“Laboratorium bahasa tidak lagi dapat dipandang secara sempit hanya sebagai ruangan berisi peralatan belajar-mengajar bahasa Inggris, khususnya untuk keterampilan mendengarkan dan berbicara,” ungkap Dr. Korompot dalam FGD tersebut. “Konsep laboratorium perlu diperluas, baik sebagai ruangan maupun sebagai berbagai aktivitas kurikuler dan kokurikuler untuk peningkatan kemampuan bahasa Inggris secara nyata, yang dapat dilaksanakan di dalam dan luar ruangan, di dalam atau di luar kampus,” lanjutnya.
Ketua Jurusan Bahasa Inggris FBS UNM, Dr La Sunra, S.Pd., M.Hum., yang membuka kegiatan dan turut menjadi peserta kegiatan tersebut, sangat mendukung kegiatan ini.
“Saya setuju dengan Pak Kepala Lab bahwa perlu ada terobosan dalam meningkatkan efektivitas laboratorium bahasa di tengah berbagai perubahan dan disrupsi yang terjadi dalam proses belajar dan mengajarkan bahasa Inggris saat ini.”
Peluncuran Empat Program Kokurikuler Inovatif
Dalam kesempatan yang sama, Dr. Korompot meluncurkan dan menguraikan empat program kokurikuler strategis Laboratorium Jurusan Bahasa Inggris untuk periode 2025-2026.
Keempat program tersebut adalah Plethora (program diskusi bebas dalam bahasa Inggris yang memfasilitasi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan berkomunikasi secara natural dan spontan); Panacea (klinik khusus untuk mengatasi berbagai masalah dan kesulitan dalam berbahasa Inggris, menyediakan solusi personal bagi setiap mahasiswa); Presenta (program pelatihan intensif untuk menyajikan presentasi akademik yang efektif, mempersiapkan mahasiswa menghadapi tuntutan akademik dan professional); serta Professa (program pelatihan mengajar bahasa Inggris yang diperuntukkan bagi semua mahasiswa Jurusan Bahasa Inggris, memperkuat kompetensi pedagogis calon guru.
Menanggapi peluncuran keempat program tersebut, salah seorang peserta, Dr. Riny Jefri, S.E., M.Ak., Ak. memberikan apresiasinya.
“Kegiatan-kegiatan di lab bahasa sudah saatnya dikembangkan dan diperluas dari yang konvensional atau bersifat kurikuler saja, kepada kegiatan kokurikuler, bahkan ekstrakurikuler. Lab bahasa bahkan perlu juga dimaksimalkan agar menjadi income generating unit bagi kemajuan institusi UNM sebagai sebuah badan layanan umum atau BLU,” ujar Dr. Jefri yang merupakan pakar akuntansi dan dosen di Program Studi D4 Business English Communication, salah satu dari tiga program studi di Jurusan Bahasa Inggris FBS UNM.
Langkah Strategis Menuju Transformasi Pembelajaran
Program-program tersebut, menurut Dr. Korompot, merupakan langkah awal transformatif dalam mengoptimalkan fungsi laboratorium bahasa. Dr. Korompot menyampaikan harapan agar program-program ini dapat terus dikembangkan dan diperluas dengan inisiatif-inisiatif inovatif lainnya pada masa mendatang.
Inisiatif redefinisi laboratorium bahasa ini diharapkan dapat menjadi katalisator peningkatan kualitas pembelajaran bahasa Inggris di Jurusan Bahasa Inggris FBS UNM, sekaligus mempersiapkan lulusan yang lebih kompeten dan adaptif terhadap perkembangan zaman.
