MAKASSAR, UJUNGJARI –– Nama Almaz Fried Chicken mulai melejit memeriahkan keberagaman kuliner di Kota Makassar yang dikenal dengan kota makan enak. Oleh sang pemilik, Okta Wirawan, Almaz Fried Chicken ini kemudian viral karena terkenal sebagai pengusaha yang berorientasi pada nilai – nilai umat muslim, pedoman dalam memilih makanan yang halal.
“Dengan hadirnya Almaz di Antang ini kita sama, ingin menyebarkan nasehat kepada orang bahwa kita bikin restoran, begini makanan yang baik, tidak pakai musik dan bagaimana cara menjaga makanan itu halal dan thayyib, bagaimana hasil dari penghasilan kita juga banyak kita bagikan pada kebaikan, kepada orang, sekolah dan lain-lain. Jadi kita menasihati bukan hanya dengan kata-kata tapi karena akhlaknya karena kebaikannya.
Kita hadir di setiap daerah dan saat ini juga ada di Jepang, yang harapannya saat ini ada di Jepang minoritas muslim ke depannya mereka bisa jadi mayoritas Islam,” ungkap Okta Wirawan, usai peresmian outlet Almaz di Ruko Antang Business Center, Jl. Antang Raya, Selasa (12/8).
Founder Almaz Fried Chicken, Okta Wirawan, mengatakan kehadiran outlet ke 7 di Sulsel ini bukan semata urusan bisnis.
Ia menyebut Almaz Fried Chicken hadir untuk semangat kolaborasi membangun ekonomi umat yang mandiri dan penuh keberkahan.
“Aksi dakwah melalui pendekatan ekonomi. Kita wajibkan mereka (karyawan) untuk shalat lima waktu, bahkan shalat shubuh pun harus di masjid yang laki-laki, absen yah setiap Senin sampai Jumat itu ada ustadz yang datang jadi mereka bukan hanya belajar bagaimana mengoperasikan outlet, bagaimana caranya mencari omset, bagaimana mereka menjalankan sholatnya dengan baik, mereka diajari cara berkomunikasi yang baik sesuai dengan agama, kita ajarin semua. Jadi kita bukan hanya sekedar jualan tapi kita meninggalkan jejak history kebaikan lewat Almaz.
Sebagaimana kita disarankan untuk infaq kepada keluarga terdekat sama dengan perusahaan kita berinfaq kepada karyawan-karyawan dulu dan menyelesaikan masalah karyawan yang punya masalah keuangan dan sebagainya seperti tadi ada yang punya hutang dan lain-lain bisa kita selesaikan. Setelah itu baru kita naik ke level yang diluar.
Harapannya orang itu bisa paham bukan hanya sekedar memakan yang halal tapi juga kita bisa memberikan nasehat sumber makanannya jelas, kita makan ayam mungkin makanannya halal tapi sumber uang mungkin dari korupsi dan lain-lain itukah haram.
Makanya kita memberi nasehat kepada karyawan bahwa jangan mencuri atau memakan yang bukan hak mereka dan itu yang kita kampanyekan,” tutup Okta. (*)
