MAKASSAR,UJUNGJARI.COM–Sesuai data yang ada, empat besar tim Liga Super 2025-2026 memiliki nilai pasar tertinggi dalam merekrut pemain. Mereka adalah Persib Bandung (Rp128 miliar), Persija Jakarta, Dewa Uniter, dan PSM Makassar di kisaran Rp80 miliar.
Seringkali nilai pasar tertinggi setiap tim mencerminkan sebuah kekuatan besar. Tetapi faktanya hari ini, tim berjuluk ayam jantan dari timur itu sepertinya kehilangan taji.
Dari empat laga yang dilewati, PSM tidak mampu memenangkan pertandingan meskipun itu bermain di kandang sendiri. Tragisnya melawan tim juru kunci papan bawah, Persita Tangerang , PSM kalah 1 – 2.
Padahal sebelumnya pelatih Bernardo Tavares sesumbar akan menampilkan gabungan gaya permainan Samba plus. Alasannya semua pemain baru asal Brasil diturunkan saat melawan Persita. Di antaranya Alex Tanque, Savio Roberto, Lucas Diaz, dan Gledson Paixao selaku gelandang jangkar.
Selanjutnya juga ada Jacques Medina asal Kongo dan Abu Kamara dari Liberia. Tetapi ternyata pernyataan pelatih Tavares tidak terbukti.
Apa yang salah dari empat laga yang sudah dilakoni PSM ini? Apakah disebabkan karena pelatih Bernardo Tavares satu-satunya pelatih terlama di tim Liga BRI? Tavares sudah lebih empat tahun melatih PSM sehingga semua strategi yang diterapkan selama ini mudah terbaca oleh pelatih tim lawan.
Ataukah Bernardo Tavares memang sudah kehabisan strategi sehingga dia tidak mampu meningkatkan performa tim?
Apapun alasannya, pelatih Bernardo Tavares layak dikritisi. Bukan saja tujuannya fokus untuk meraih kemenangan tetapi terselip makna bahwa PSM itu adalah tim besar kebanggaan masyarakat Sulawesi Selatan sehingga tidak boleh dibiarkan terpuruk. Setidak-tidaknya Bernado Tavares layak diberi peringatan atau sekalian dievaluasi.
(Nasruddin Arif, suporter dan pemerhati PSM Makassar)
