Site icon Ujung Jari

MBG Dikecam, Gapembi Sebut Program Baik Jika Dikelola Profesional

JAKARTA, UJUNGJARI.COM – Kecaman terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digulirkan pemerintah pusat saat ini bertubi-tubi. Kecaman ini muncul menyusul adanya laporan dugaan keracunan makanan MBG yang terus bermunculan.

Hal ini membuat Gabungan Pengusaha Makan Bergizi Indonesia (Gapembi) pun bersuara. Gapembi menilai program MBG yang merupakan salah satu program prioritas Presiden Prabowo Subianto merupakan program baik. MBG sebuah gerakan kebaikan yang terstruktur.

“Bila dikelola dengan amanah, profesional, dan kolaboratif, program MBG ini mampu menjadi sumber keberkahan, penggerak ekonomi umat, solusi gizi anak bangsa dan wujud nyata gotong royong,” jelas Sekjen DPP Gapembi Hasan Basri dalam rilisnya, Sabtu (27/09).

Hasan mengungkapkan, Gapembi bersama pemerintah berharap MBG bukan hanya jadi harapan di atas kertas, tapi benar-benar menjadi jalan bersama menuju kebaikan yang berkelanjutan untuk anak-anak, keluarga dan masa depan Indonesia.

Sebagai wadah berhimpun para pelaku usaha dapur makan bergizi yang menjadi mitra BGN dalam mengelola dapur MBG, Gapembi yang membawahi sekitar 1.500 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) pada dapur MBG.

Gapembi berkomitmen akan menjalankan dapur secara profesional sesuai dengan petunjuk teknis yang ditetapkan BGN sehingga tata kelola untuk Program MBG dapat berjalan dengan baik.

Hasan yang juga putra asli Kabupaten Gowa ini, menyebut Gapembi hadir sebagai representasi dunia usaha makanan bergizi Indonesia dalam menjembatani kepentingan pengusaha dengan pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya.

Poin Kebaikan

Dari kacamata Gapembi menurut Hasan, MBG memiliki dampak kebaikan yang cukup besar. Meski berita tentang keracunan bermunculan, menurutnya, hal tersebut tidak akan terjadi jika pengelola dapur MBG menjalankan SOP (standart operational procedure) yang telah ditetapkan BGN secara ketat.

Beberapa poin kebaikan MBG antara lain, memberikan dampak ekonomi positif bagi pihak yayasan dan mitra, dampak sosial secara langsung, berdampak secara spiritual dan keberkahan, pemberdayaan ekosistem umat serta berpotensi dilakukan pengembangan dan duplikasi ke sektor lainnya seperti pertanian mandiri untuk suplai sayur, buah dan bahan pangan dapur MBG.

“Secara ekonomi positif berdampak pada banyak pihak yayasan dan mitra. Antara lain pemilik dapur mendapat income pasif dari sewa dapur oleh BGN, pengelola dan pengawasan mendapat gaji tetap, relawan dapur mendapat upah sambil berkontribusi sosial, pemasok makanan mendapat laba penjualan dari suplai rutin dan sebagainya,” terang Hasan.

Mantan Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Kabupaten Gowa menjelaskan, dampak secara sosial bisa dirasakan langsung oleh anak-anak sekolah, orang tua dan keluarga serta lingkungan sekitar dapur. Anak-anak mendapatkan makanan bergizi yang berpengaruh ke tumbuh kembang, semangat belajar dan kebahagiaan mereka.

“MBG bukan hanya program bantuan tapi wadah nyata untuk membangun ekosistem ekonomi umat berbasis kasih sayang, meningkatkan kemandirian dan ketahanan pangan lokal serta menjadikan yayasan sebagai pusat pemberdayaan bukan sekadar pusat distribusi bantuan,” kata Hasan. –

Exit mobile version