Site icon Ujung Jari

Ahli Konstruksi Soroti Pembangunan Perumahan di Atas Hamparan Batu BTP: Berisiko dan Tak Ideal!

MAKASSAR, UJUNGJARI.COM — Ahli konstruksi menyoroti proyek pembangunan perumahan yang berdiri di atas hamparan batu di belakang SMP 30 BTP Makassar.

Ia menilai, kondisi gunung batu berpotensi menimbulkan masalah teknis pada pondasi bangunan jika tidak dilakukan analisa geoteknik secara mendalam.

“Pembangunan di atas hamparan batu membutuhkan perencanaan khusus, bukan sekadar meratakan permukaan dan langsung membangun pondasi. Jika analisa struktur tanahnya tidak detail, bisa berisiko terhadap kestabilan bangunan dalam jangka panjang,” kata Ir. Ahmad Rahman, ahli konstruksi dan dosen teknik sipil di salah satu universitas negeri di Makassar, Sabtu (25/10/2025).

Menurutnya, tanah berbatu memiliki daya dukung tinggi, namun tantangan utamanya adalah bagaimana memastikan pondasi dapat menempel dan menyatu secara kuat dengan permukaan batuan. Tanpa teknik khusus, bangunan bisa mengalami retak struktural, terutama saat terjadi pergeseran kecil pada lapisan batu atau saat menerima beban berat.

“Banyak pengembang yang mengira tanah berbatu itu otomatis kuat. Padahal kalau pondasi tidak dikaitkan dengan benar atau tidak di-bore hingga menancap ke batuan induk, itu bisa jadi masalah besar,” tambahnya.

Ia juga menyoroti indikasi bahwa proyek perumahan tersebut dilakukan tanpa kajian Analisis Dampak Lingkungan (AMDAL) dan tanpa uji laboratorium tanah yang memadai. Padahal, menurut regulasi, setiap proyek besar seharusnya memiliki dokumen teknis yang jelas untuk menjamin keselamatan warga yang akan menempati hunian.

“Kalau hanya mengandalkan perataan batu pakai alat berat, lalu langsung cor pondasi, itu sangat berisiko. Pemerintah dan instansi teknis harus turun meninjau ulang,” tegasnya.

Warga sekitar juga mulai resah dengan aktivitas pembangunan tersebut. Selain menimbulkan debu dan kebisingan, mereka khawatir pembangunan di atas batuan tinggi akan berdampak pada aliran air dan menimbulkan genangan di area pemukiman sekitarnya.

“Kalau hujan deras, air tidak meresap ke tanah karena semuanya batu. Akhirnya air lari ke bawah dan bisa banjir,” keluh salah seorang warga.

Ahli konstruksi pun mendesak pihak pengembang dan pemerintah kota untuk membuka hasil kajian teknis secara transparan. Ia menegaskan bahwa keselamatan penghuni jauh lebih penting daripada mengejar target pembangunan cepat.

“Lebih baik tertunda daripada jadi bom waktu. Kualitas pondasi adalah nyawa bangunan,” pungkasnya. (drw)

Exit mobile version