GOWA, UJUNGJARI.COM — Nahas dialami seorang buruh bangunan pekerjaan gedung baru sekolah Alfityan yang berlokasi di Jl Pallantikang, Kelurahan Katangka, Kecamatan Somba Opu.
Buruh pekerja gedung baru sekolah Islam yang bernama Dimas (20) tewas setelah terjatuh dari lantai lima saat sedang bekerja pada Selasa (28/10) sekira pukul 12.00 Wita.
Pada waktu kejadian merupakan jam waktu istrahat pekerja. Namun tiba-tiba para pekerja yang sedang beristirahat dikejutkan dengan suara berdebum keras di lantai pekarangan. Setelah tahu ada pekerja yang terjatuh dari atas, seluruh pekerja langsung panik. Warga yang ada di sekitar lokasi pun ikut histeris dan menghubungi pihak Kepolisian.
Suasana menjadi riuh dan gaduh setelah melihat dengan jelas apa yang terjadi. Tak berselang lama, sejumlah personel Polsek Somba Opu disertai Tim Inafis Polres Gowa dan Biddokkes Polda Sulsel tiba di lokasi untuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP).
Muhammad Amin Majid selaku Pelaksana Lapangan Proyek Pembangunan Gedung Alfityan memberikan keterangan bahwa korban sedang bekerja di lantai lima bersama seorang rekannya bernama Liwang sebelum waktu istirahat dimulai. Dikatakan Amin, jam istrahat yakni pukul 12.00 Wita dan saat itulah kejadiannya. Amin mengaku baru tahu setelah diinformasikan oleh teman kerja korban.
“Kejadian itu pada jam istirahat, sekitar pukul 12.00 Wita. Waktu itu saya diberitahu oleh teman kerjanya,” sebut Amin di lokasi.
Dikatakan Amin, pada jam 12.00 Wita itu, sebagian besar pekerja sudah turun (dari lantai atas tempat bekerja) untuk beristirahat. Namun korban masih berada di atas bangunan. Tak lama kemudian, terdengar teriakan dari salah satu pekerja yang melihat korban terjatuh dari ketinggian.
“Ada yang teriak bilang ada orang jatuh di luar. Saya langsung keluar dan baru terlihat setelah saya mutar ke lokasi,” papar Amin.
Meski demikian, Amin mengaku tidak mendengar suara debum atau benturan di lokasi jatuh sebab dirinya sedang berada dalam ruangan. Amin mengaku, saat melihat korban, posisi Dimas sudah tergeletak di luar pagar sekolah dengan luka parah di bagian kepala.
Meski belum tahu penyebab jatuhnya korban, namun Amin menduga korban terpeleset saat sedang bekerja di area atap lantai lima yang terbuat dari plat besi dan tengah dilapisi bahan waterproofing.
“Dia lagi kasi waterproofing supaya tidak tembus air. Mungkin terpeleset, karena di area itu memang tidak bisa diikat tali pengaman,” duga Amin.
Namun Amin menjelaskan bahwa seluruh pekerja telah difasilitasi alat keselamatan kerja (safety equipment), namun diakuinya pula bahwa kerap sebagian pekerja mengabaikan penggunaan safety equipment tersebut.
“Kalau safety sudah kami siapkan dan selalu mengimbau. Tapi biasanya pekerja itu, satu-dua hari pakai, setelah itu tidak lagi. Nanti kalau ditegur baru pakai lagi,” kata Amin.
Pasca insiden, aktivitas proyek pembangunan gedung baru tersebut dihentikan sementara hingga ada keputusan lebih lanjut dari pihak sekolah.
Jenazah korban kemudian dievakuasi ke RSU Bhayangkara Makassar untuk keperluan visum oleh Tim Biddokkes Polda Sulsel.
Pihak Kepolisian masih melakukan penyelidikan terhadap kasus kecelakaan kerja ini. Sejumlah saksi telah dimintai keterangan, termasuk pihak proyek dan rekan kerja korban.
“Kami masih menyelidiki kecelakaan kerja ini. Beberapa saksi sudah kami panggil untuk dimintai keterangan,” kata Plt Kanit Reskrim Polsek Somba Opu AKP Masjaya.
Sementara itu, pihak keluarga korban sampai ke lokasi dengan begitu histeris melihat kondisi Dimas sebelum dibawa ke rumah sakit.
Terpisah, Ramlah, mertua korban kepada media mengatakan korban bekerja di proyek pembangunan gedung sekolah itu bersama pamannya. Dimas baru bekerja di lokasi tersebut, itupun karena diajak oleh pamannya atau saudara Ramlah.
“Dimas ikut omnya bekerja di proyek itu. Minggu lalu dia baru pulang ke Takalar bawa istrinya yang sedang hamil dua bulan dan anak pertama mereka,” kata Ramlah menangisi menantunya tersebut. –
