GOWA, UJUNGJARI.COM — Tidak semua informasi yang melintas bebas di ruang media sosial (medsos) itu, benar. Lebih besar unsur hoaksnya ketimbang kebenarannya. Hanya saja terkadang hoaks yang menggulir lancar di medsos itu dibungkus dugaan ‘benar’ sehingga kadang masyarakat terjebak informasi palsu atau hoaks.
Agar masyarakat mampu memilah mana informasi aktual dan valid maka perlu paham tentang literasi informasi. Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Disperpusarsip) Kabupaten Gowa pun menangkap keresahan masyarakat akibat banyaknya hoaks bertebaran di medsos tanpa bisa ditertibkan.
Bertolak dari itu, Disperpusarsip membuka bimbingan teknik tentang literasi informasi dengan harapan melalui bimtek ini masyarakat punya filter menghadapi informasi yang beragam.
Seperti dikatakan Achmad Ilham, seorang professional literacy dari Widyaiswara BPSDM Sulsel. Achmad menyebutkan, AI atau kecerdasan buatan saat ini merajai dunia digital. Menurutnya, AI perlu diketahui masyarakat sebagai media penelusuran informasi khususnya di medsos.
Achmad membeberkan bagaimana seharusnya masyarakat menggunakan kecerdasan buatan ini sehingga tidak mudah terjebak informasi bohong atau palsu.atau hoaks.
“Peserta bimtek maupun masyarakat luas harus mampu memanfaatkan AI untuk mencari, mengevaluasi, menganalisis informasi yang ada. Jadi jangan asal membaca, menerima dan langsung mempercayai. Ini kecerdasan buatan bisa dimanfaatkan oleh semua orang. Karena itu kita harus mampu mencermati itu, mencari, menganalisis, kemudian mengolah informasi menjadi valid lalu kemudian disebarluaskan secara kritis, etis dan efektif, ” kata Achmad saat menyampaikan materinya bertajuk AI Untuk Literasi Informasi dihadapan peserta Bimtek Literasi Informasi yang digelar di aula gedung Perpustakaan Umum Daerah Gowa pada Selasa (4/11).
Dikatakan Achmad, banyak platform yang bisa dimanfaatkan untuk menelusuri informasi yang diperoleh. Platform yang bisa digunakan seperti ChatGPT atau Gemini, Perplexity, Gork, DeepSeek dan lainnya.
“Gunakan platform ini. Caranya pertama pilih artikel atau informasi apa saja yang ditemukan di medsos, kemudian salin tautan ke ChatGPT atau Gemini. Lalu gunakan prompt evaluatif untuk menilai sumber. Setelah itu bandingkanlah hasil antar platform. Jadi kita belajar menelusuri sebuah informasi. Yang kita harapkan, peserta atau masyarakat luas mampu memanfaatkan AI untuk mencari, mengevaluasi, menganalisis sebelum menyebarluaskan satu informasi secara etis dan efektif ke publik, ” urai Achmad.
Terpisah, Kepala Dinas Perpusarsip Kabupaten Gowa Suhriati yang dimintai komentarnya seputar pelaksanaan bimtek literasi informasi mengatakan, masyarakat perlu memperbanyak kemampuan literasinya. Banyak membaca adalah salah satu cara masyarakat tidak mudah diperdaya informasi sesat.
Menurut Suhriati, kuncinya ada pada manusianya. Manusia yang menentukan arah dan nilai dari setiap informasi yang dikelola.
“Literasi informasi itu bukan sekadar tentang membaca, tapi tentang cara kita menjadi bijak dalam menyikapi informasi. Dan alhamdulillah kami Disperpusarsip melaksanakan bimtek literasi informasi dengan target teknologi dapat membantu kita mencari, mengolah dan menyajikan informasi dengan lebih cepat dan akurat. Alat seperti ChatGPT, Copilot dan platform cerdas lainnya bukan ancaman melainkan peluang,” kata Suhriati.
Diakuinya, Pemerintah Kabupaten Gowa memiliki program Gowa Caradde’ atau Gowa Cerdas. Karena itu, kata Suhriati, Pemkab Gowa melalui Disperpusarsip membuat bimtek untuk menambah wawasan masyarakat sehingga tumbuh minat literasi.
“Saya ingin mengajak semua peserta membangun jejaring dan memperkuat semangat literasi di tempat masing-masing. Kita butuhkan insan insan literasi yang mampu menuntun masyarakat agar dapat memanfaatkan literasi informasi untuk kemajuan pendidikan, ekonomi dan kesejahteraan, ” kata Suhriati. –
