Site icon Ujung Jari

BTN Kodam III Banjir Kronis: Relokasi Dinilai Solusi Paling Realistis

MAKASSAR, UJUNGJARI.COM — Permasalahan banjir yang terus berulang di BTN Kodam III, Kelurahan Katimbang, Kecamatan Biringkanaya, Kota Makassar, kembali menjadi sorotan.

Setiap hujan deras turun, kawasan permukiman itu nyaris selalu tergenang hingga menyebabkan aktivitas warga lumpuh dan menimbulkan kerugian materi.

Banjir yang terjadi bukan hanya sesekali, namun sudah berlangsung bertahun-tahun. Tingginya curah hujan, minimnya sistem drainase, serta kondisi wilayah yang berada pada cekungan rendah membuat upaya penanganan sementara tak lagi efektif.

Sejumlah warga mengaku kelelahan dengan situasi yang tak kunjung ditangani secara permanen.

“Setiap hujan besar pasti banjir parah. Perabot rusak, anak-anak tidak bisa sekolah. Sudah terlalu lama kami begini,” ujar M. Syafril salah satu warga BTN Kodam III, Jumat (14/11/2025).

Evaluasi Penanganan dan Usulan Solusi

Pemerintah Kota Makassar dan Pemprov Sulsel mengaku telah melakukan berbagai langkah, mulai dari pengerukan drainase, pembuatan kanal kecil, hingga kerja bakti rutin. Namun, upaya itu tidak membuahkan hasil.

Menurut sejumlah pemerhati tata kota, kondisi topografi BTN Kodam III membuat penanganan fisik seperti drainase besar pun kemungkinan tidak akan menyelesaikan persoalan banjir secara total.

“Jika kawasan tersebut memang berada pada daerah cekungan dan tidak memiliki jalur pembuangan air yang memadai, maka relokasi menjadi salah satu opsi yang layak dipertimbangkan,” kata Renaldi seorang pengamat tata ruang di Makassar.

Seiring kajian teknis yang menunjukkan besarnya risiko banjir di kawasan tersebut, wacana relokasi warga mulai muncul.

Relokasi dianggap sebagai solusi jangka panjang yang dapat memberikan keamanan dan kenyamanan bagi warga yang selama ini terjebak dalam siklus banjir tahunan.

Relokasi harus direncanakan dengan matang, termasuk penyediaan hunian pengganti yang layak serta skema relokasi yang tidak merugikan masyarakat.

“Relokasi solusi terbaik, pemerintah harus memikirkan itu. Tapi relokasi, jangan hanya pindahkan warga, tapi harus ada kejelasan tempat tinggal baru dan kompensasinya,” ujar Renaldi.

Warga Menunggu Keputusan Pasti

Hingga kini, warga BTN Kodam III berharap adanya keputusan tegas dari pemerintah kota. Mereka menginginkan solusi yang benar-benar menyelesaikan masalah, bukan hanya penanganan sementara yang kembali membuat mereka terendam banjir di musim penghujan berikutnya.

“Yang penting ada solusi permanen. Kami cuma ingin hidup tenang tanpa takut banjir setiap kali mendengar suara hujan,” ujar Rahman warga lainnya.

Sejumlah pihak menilai relokasi adalah solusi paling realistis, mengingat kondisi geografis wilayah itu yang memang berada di cekungan dan menjadi jalur pembuangan air dari Kabupaten Maros.

Secara topografi, BTN Kodam III berada di area rendah yang menerima limpasan air dari wilayah hulu. Ketika intensitas hujan tinggi, air dari Maros mengalir dan berkumpul di kawasan ini sehingga genangan sulit surut dalam waktu cepat.

“Wilayah itu memang cekungan alami. Air pasti tertahan di sana. Selama aliran air dari Maros tidak dialihkan, maka banjir akan terus berulang,” ujar salah satu sumber dari unsur pemerintah yang mengetahui kajian teknis penanganan banjir di kawasan tersebut.

Ia menegaskan, pemerintah sebenarnya telah mengkaji berbagai alternatif, mulai dari pembangunan infrastruktur drainase besar hingga normalisasi jalur air. Namun hasil kajian menunjukkan bahwa karakteristik lahan membuat penanganan teknis tidak efektif dalam jangka panjang.

“Tidak ada solusi lain yang benar-benar menyelesaikan masalah selain relokasi. Jika tetap dihuni, warga akan terus menjadi korban banjir setiap musim hujan,” tambahnya.

Dengan kondisi geografis yang tidak berubah dan risiko banjir yang terus mengancam, relokasi dipandang sebagai opsi paling memungkinkan untuk melindungi keselamatan dan masa depan warga BTN Kodam III.  (drw)

Exit mobile version