MENGENAKAN busana adat perpaduan Bugis, Gorontalo, dan Palembang, mantan Wali Kota Makassar, Ilham Arief Sirajuddin menyalami satu per satu tetamunya yang datang di persta penikahan putranya, Zulfikar Nur Alamsyah di Hotel Four Points by Sheraton Makassar, Jalan Andi Djemma, Kota Makassar, Minggu (23/11/2025).
Politisi yang akrab disapa IAS itu menyapa tetamunya dengan ucapan terima kasih atas kehadiran dan doa restunya. Sejumlah tokoh politik, pejabat pusat dan daerah, pengusaha, hingga kerabat dekat keluarga terlihat silih berganti memasuki ballroom yang dihiasi dekorasi elegan itu. Di antara yang hadir tampak Sekretaris Provinsi (Sekprov) Sulsel, HM Jufri Rahman, anggota DPR RI dari PDI Perjuangan, Andi Ridwan Wittiri, anggota DPR RI dari Partai Nasdem, Rudianto Lallo, dan lainnya.
Beberapa kepala daerah juga hadir. Di antaranya ada Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, Bupati Maros, Chaidir Syam, Bupati Barru, Andi Ina Kartika Sari, Wakil Bupati Soppeng, Selle KS Dalle, dan sejumlah kepala daerah lainnya. Mantan Wakil Presiden RI, HM Jusuf Kalla sendiri hadir sebagai saksi dalam akad nikah sehari sebelum resepsi pernikahan digelar.
Sejak siang, arus kendaraan para tamu mulai terlihat mengular di jalan masuk menuju hotel. Petugas keamanan dan staf hotel tampak berjibaku mengatur lalu lintas kendaraan yang datang silih berganti.
Penulis termasuk salah satu tamu yang ikut antre. Seperti sebagian tamu lainnya, penulis memilih tidak menggunakan kendaraan roda empat menuju lokasi resepsi perjamuan. Penulis lebih memilih transportasi ojek motor untuk mengantisipasi kemacetan lalu lintas itu.
Putra IAS, Zulfikar mempersunting Roidah Halilah Falih Ichsan, putri mantan Bupati Gowa dua periode, almarhum Ichsan Yasin Limpo. Roidah juga merupakan adik kandung mantan Bupati Gowa, Adnan Purichta Ichsan dan ponakan mantan Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo.
Resepsi pernikahan Putra IAS dan putri Ichsan Yasin Limpo menyita perhatian publik di Makassar. Bukan semata karena resepsinya yang berlangsung meriah dan dihadiri sejumlah pejabat serta tokoh politik. Yang membuat ramai dan menyita perhatian publik adalah sosok orang tua kedua mempelai: Ilham Arief Sirajuddin dan Ichsan Yasin Limpo.
Keduanya merupakan tokoh politik berpengaruh di Sulawesi Selatan. Dalam peta politik Sulsel, IAS dan almarhum Ichsan Yasin Limpo dan keluarga merupakan ‘musuh abadi’ dalam sejumlah pentas demokrasi. Baik dalam skala rebutan partai politik maupun rebutan kursi kepala daerah.
Pada pemilihan gubernur Sulawesi Selatan tahun 2013, IAS menjadi rival Ichsan. IAS menjadi penantang incumbent Gubernur Syahrul Yasin Limpo saat itu. IAS berpasangan dengan Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar sedangkan Syahrul tetap dengan pasangannya, Agus Arifin Nu’mang. Pemilihan gubernur saat itu dimenangkan pasangan Syahrul-Agus. Almarhum Ichsan sendiri merupakan ketua tim pemenangan kakaknya, Syahrul Yasin Limpo.
Yang membuat tensi politik di Sulawesi Selatan kerap memanas adalah kontribusi relawan pendukung kedua tokoh ini. Relawan dan pendukung Syahrul dan Ilham dikenal militan. Mereka rela mengorbankan segalanya demi jagoannya. Dalam kontestasi pilgub Sulsel, relawan dan pendukung keduanya sering bentrok dan mengakibatkan korban luka di kedua kubu. Kesigapan aparat kepolisian-lah yang kerap bisa meredam konflik di antara dua kelompok pendukung itu.
Perseteruan serupa juga terjadi pada pemilihan gubernur Sulsel 2008. IAS menjadi ketua tim pemenangan calon gubernur Sulsel, HM Amin Syam yang berhadapan dengan Syahrul Yasin Limpo. Kala itu Ichsan juga menjadi ketua tim pemenangan Syahrul.
Rivalitas keduanya tidak berhenti di situ. Pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Makassar 2013, IAS dan keluarga Yasin Limpo juga berhadap-hadapan. IAS mendorong pasangan Moh Ramdhan Pomanto-Syamsu Rizal sebagai calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Makassar 2013-2018. Keluarga Yasin Limpo mendorong Irman Yasin Limpo-Busrah Abdullah. Pilkada Makassar saat itu dimenangkan pasangan Ramdhan Pomanto-Syamsu Rizal.
Selain dalam konteks pilkada, rivalitas IAS dan keluarga Yasin Limpo juga terjadi dalam rebutan pimpinan partai politik. Dalam Musyawarah Daerah (Musda) Golkar Sulsel tahun 2009, IAS head to head dengan Syahrul. Kala itu Syahrul menjabat Gubernur Sulawesi Selatan dan Ilham sebagai Wali Kota Makassar.
Musyawarah daerah yang berlangsung di Hotel Aryaduta Makassar itu berlangsung panas. Pendukung dua kubu bersitegang. Tidak hanya di Alamanda Room, ruang forum Musda, tetapi juga di halaman hotel. Bahkan di luar hotel, pendukung kedua kubu sudah saling serang.
Tetapi kedewasaan berpolitik keduanya membuat suasana berakhir damai. Sebagai junior, IAS legowo dan memilih mundur dalam pertarungan. Syahrul Yasin Limpo akhirnya ditetapkan sebagai Ketua DPD Partai Golkar Sulawesi Selatan secara aklamasi.
Bagi IAS, besanan dengan mantan rival politik bukanlah yang pertama. Pada 2023 lalu, Ilham juga menyatu dengan mantan lawan politiknya. Putri IAS, Siti Hamsinah Khairatunnisa dipersunting putra HM Idris Manggabarani, Andi Anugrah Manggabarani.
IAS dan Idris Manggabarani pernah bersaing dalam memperebutkan posisi Wali Kota Makassar. Pada Pilkada Makassar 2008, keduanya bertarung sebagai calon wali kota. IAS berpasangan dengan Supomo Guntur. Sedangkan Idris berpasangan dengan HM Adil Patu. Pilkada kala itu dimenangkan pasangan Ilham Arief Sirajuddin-Supomo Guntur.
Persahabatan Mengalahkan Rivalitas
Kendati sering berhadap-hadapan di panggung politik, hubungan persahabatan IAS dan keluarga Yasin Limpo tetap kental. Pada momentum-momentum tertentu seperti lebaran idulfitri, kedua keluarga ini rutin bersilaturahmi. Saling berkunjung ke kediaman masing-masing.
Dalam beberapa kesempatan Ilham Arief Sirajuddin mengatakan persahabatan dan kekeluargaan jauh di atas rivalitas dan persaingan politik. Ia mengakui persaingan dalam kontestasi politik merupakan sesuatu yang lumrah. Kata dia, perbedaan politik tidak bisa meruntuhkan persahabatan dan kekeluargaan.
IAS mengenalkan tagline: tanpa teman kita bukan siapa-siapa. Adigium ini sarat makna. Menurut Ilham, kalimat ini terdengar sedikit gaul. Bahasa sederhana dalam agama sebenarnya adalah kekuatan silaturahmi. Jadi, kata dia bersaing atau berkompetisi dalam konteks politik juga bagian dari silaturahmi.
“Dalam politik, kekuatan paling dasar lahir dari kekuatan silaturahmi. Jika mengedepankan silaturahmi, fondasinya pasti akan kuat,” katanya.
Hal sama juga disampaikan Syahrul Yasin Limpo. Mantan Gubernur Sulawesi Selatan itu beberapa kali menyebut IAS adalah sahabat dan keluarga. Karenanya meskipun sering bersaing di panggung politik, Syahrul dan IAS tetap akrab.
Begitulah politik. Tidak ada musuh atau rivalitas abadi. Kata banyak pakar dan pengamat di dunia politik yang abadi hanyalah kepentingan. (fachruddin palapa)
