Site icon Ujung Jari

Daeng Sona, Motivator Pupuk dari Takalar dan Peluang Bisnis untuk Pupuk Indonesia

SEPERTI hari-hari sebelumnya, Kamis, 25 Desember 2025, Daeng Sona sudah mempersiapkan diri bergegas ke areal pertanian binannya di Dusun Bontopanno, Desa Paddinging, Kecamatan Sanrobone, Kabupaten Takalar. Secara geografis, letaknya sekira 45 kilometer dari Makassar, ibu kota Provinsi Sulawesi Selatan.

Pagi itu Daeng Sona ke lapangan memantau petani binaan dan tanaman yang dibudidayakannya dengan menggunakan pupuk organik. Melalui lembaga yang didirikannya, Sofresna, perempuan bernama lengkap Irmawati itu mengedukasi petani dan kelompok tani dalam mewujudkan kedaulatan pangan dan petani berkelanjutan. Sofresna ia dirikan sejak tahun 2018.

Ia mengatakan profesi bertani harus menjadi pekerjaan yang terus ada sepanjang masa. Profesi petani tidak boleh punah hanya karena kemajuan teknologi yang begitu pesat. “Teknologi bisa membantu pekerjaan pertanian, tetapi profesi petani tidak bisa hilang,” katanya kepada ujungjari.com.

Salah satu program yang dijalankan Daeng Sona dalam melakukan pendampingan petani adalah edukasi penggunaan pupuk organik. Alasannya di Desa Paddinging, bahan baku pupuk organik tersedia cukup banyak. Mulai dari kulit buah, keong sawah, kompos, hingga ikan lele. Menurut dia, petani perlu diedukasi agar bisa memanfaatkan sumber daya lokal dalam memberi nutrisi pada tanamannya.

“Bahan-bahan itu semua ada di desa dan bisa menjadi pupuk organik cair. Ini bisa memenuhi kebutuhan pupuk petani satu hingga dua hektare sawah atau areal pertanian lainnya,” kata Daeng Sona.

Penggunaan pupuk organik dapat membantu tanaman mendapatkan nutrisi dengan lebih efisien. Penggunaan pupuk organik juga membantu menggemburkan struktur tanah agar tanah memiliki unsur hara yang baik. Menurut dia, pupuk organik merupakan pupuk alternatif yang ramah lingkungan dan berperan dalam meningkatkan kesuburan tanah serta memberikan nutrisi yang penting bagi tumbuhan.

Gerakan Senyap yang Makin Meluas

Gerakan senyap Daeng Sona dalam edukasi petani menggunakan pupuk organik ini terus berkembang. Jika semula hanya di Takalar, kini kelompok petani binaannya sudah tersebar di beberapa kabupaten. Di antaranya Jeneponto, Sinjai, Bantaeng, dan di Provinsi Sulawesi Barat.

“Alhamdulillah makin banyak petani dan kelompok tani yang mengundang saya sebagai pendamping untuk pengembangan pertanian alami dan petani berkelanjutan,” katanya.

Di Takalar sendiri, Daeng Sona memiliki site atau markas tersendiri. Tepatnya di Dusun Bontopanno, Desa Paddinging, Kecamatan Sanrobone. Lahan di belakang rumahnya ia jadikan lokasi bertani alami. Beragam tanaman dibudidayakan secara alami di sini.

Daeng Sona juga mendirikan Sekolah Perempuan Petani (Sepakat) sebagai wadah belajar bersama bagi perempuan pedesaan untuk mengembalikan peran-peran perempuan  dalam pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan, berkeadilan dan berkearifan lokal melalui pertanian alami.

Road show keliling daerah yang dijalani Daeng Sona dalam mengedukasi petani juga terbilang alamiah. Petani-petani baru dampingannya datang dengan tiba-tiba. Ia menceritakan, suatu hari saat berada di kelompok petani binannya di Jeneponto. Usai memberi penjelasan kepada petani binaan, beberapa petani lainnya datang menghampirinya dan menyatakan ikut bergabung. Mungkin juga karena sudah mendengar testimoni dari petani kelompok binaan Daeng Sona sebelumnya.

Selain kelompok tani, Irma yang juga anggota Perserikatan Petani Sulawesi Selatan dan aktivis gerakan perempuan pedesaan itu juga sering diundang kampus untuk berbagi inspirasi dalam pengembangan petani alami dan penggunaan pupuk organik. Kampus-kampus yang pernah mengundangnya antara lain Universitas Hasanuddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar, Universitas Muhammadiyah, dan Universitas Sulawesi Barat di Majene.

Daeng Sijaya, salah seorang petani di Jeneponto yang menjadi binaan Daeng Sona mengaku berterima kasih dengan gerakan pemanfaatan sumber daya lokal untuk pupuk organik. Ia mengatakan setelah mendapat pembinaan dan edukasi dari Daeng Sona, ia dan beberapa petani di wilayahnya bisa berhemat dengan membuat pupuk organik sendiri.

“Alhamdulillah berkat bimbingan dan pengetahuan dari Daeng Sona, kami di sini sudah bisa membuat pupuk organik sendiri dari keong sawah,” katanya.

Peluang untuk Pupuk Indonesia

Sejatinya gerakan senyap Daeng Sona untuk pertanian alami, petani berkelanjutan, dan penggunaan pupuk organik bukanlah antitesa dari penggunaan pupuk kimia. Apalagi memprovokasi petani untuk tidak menggunakan pupuk kimia. Tentu saja tidak. Gerakan yang dilakukan perempuan yang pernah menerima beasiswa bekal pemimpin dari United in Diversity (UID) Foundation itu lebih pada pemberdayaan sumber daya lokal.

Dalam penuturannya kepada ujungjari.com, Daeng Sona menegaskan komitmennya untuk berkolaborasi dengan pemerintah dan industri. Beberapa tahun lalu ia juga menjadi Pendamping Penyuluh Lapangan (PPL) Dinas Pertanian Kabupaten Takalar untuk program pengembangan budi daya pertanian.

“Dengan industri pupuk memang belum. Tetapi saya terbuka untuk berkolaborasi dengan semua pihak secara profesional,” katanya.

Pupuk Indonesia sebagai salah satu industri pupuk terbesar di Indonesia berpotensi mengembangkan bisnisnya dengan memproduksi lebih pupuk organik berkolaborasi dengan penggiat dan kelompok petani di pedesaan. Selain menjadi sumber pendapatan baru, produksi pupuk organik secara massif juga akan mendorong penguatan pertanian alamiah dan petani berkelanjutan. (fachruddin palapa)

Exit mobile version