Site icon Ujung Jari

Operasi Modifikasi Cuaca Jadi Opsi Percepat Pencarian Korban ATR 42-500 di Gunung Bulusaraung

PANGKEP, UJUNGJARI.COM – Operasi modifikasi cuaca menjadi salah satu opsi yang dipertimbangkan untuk membantu percepatan pencarian korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) yang jatuh di kawasan Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan.

Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii mengatakan, cuaca ekstrem yang melanda lokasi pencarian selama beberapa hari terakhir menjadi hambatan utama operasi SAR.

Oleh karena itu, koordinasi lintas instansi telah dilakukan guna membuka peluang pelaksanaan operasi modifikasi cuaca.
“Kondisi cuaca saat ini memang ekstrem dan sudah kami koordinasikan.

Mudah-mudahan bisa dilaksanakan operasi modifikasi cuaca sehingga dapat membantu percepatan pelaksanaan operasi SAR,” ujar Syafii, Selasa (20/1).

Ia mengungkapkan, hingga hari ketiga operasi SAR, tim gabungan masih dihadapkan pada tantangan medan terjal serta cuaca buruk.

Lebih dari 1.200 personel dikerahkan dengan fokus utama pada pencarian, penemuan, dan evakuasi korban.

“Prioritas SAR menggunakan sarana udara karena jarak lokasi kejadian dengan bandara relatif dekat. Namun kondisi cuaca membuat pengoperasian pesawat belum maksimal,” jelas Syafii.

Untuk memperkuat pencarian, unsur udara terus ditambah, termasuk pengerahan pesawat Boeing milik TNI AU untuk misi pengawasan udara (air surveillance).

Operasi ini dilanjutkan dengan penurunan tim rescuer berkemampuan khusus menggunakan helikopter.

Selain itu, bantuan helikopter dari Polda Sulawesi Selatan serta Basarnas yang didatangkan dari Surabaya turut dilibatkan.
Meski demikian, cuaca ekstrem masih menjadi kendala utama dalam proses evakuasi.

Dalam masa golden time ini, Syafii berharap tim SAR gabungan dapat menemukan seluruh korban.

“Kepastian hanya milik Tuhan. Selama belum ditemukan seluruhnya, kami akan terus berupaya maksimal dalam waktu yang ada,” ujarnya.

Terkait sejumlah bagian atau properti pesawat yang telah ditemukan, Syafii memastikan seluruhnya akan diserahkan kepada Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) untuk kepentingan penyelidikan lebih lanjut.

Namun, ia menegaskan fokus utama saat ini tetap pada pencarian dan evakuasi korban.
“Korban memang sudah ditemukan di lapangan, tetapi karena cuaca dan kondisi medan, evakuasi ke rumah sakit rujukan dan Posko DVI belum dapat dilakukan,” katanya.

Pada hari ketiga operasi SAR, tim gabungan kembali menemukan satu jenazah korban berjenis kelamin perempuan di jurang Gunung Bulusaraung dengan kedalaman sekitar 50 meter dari puncak.

Sehari sebelumnya, tim juga menemukan jenazah korban laki-laki di lereng jurang.
Diketahui, jumlah korban dalam kecelakaan pesawat ATR 42-500 tersebut tercatat sebanyak 10 orang.

Basarnas mengapresiasi kerja keras tim SAR gabungan yang dalam waktu kurang dari 24 jam berhasil menemukan lokasi jatuhnya pesawat serta dua korban pertama.

Syafii pun memohon doa dan dukungan masyarakat agar proses pencarian seluruh korban dapat segera diselesaikan dengan lancar. (drw)

Exit mobile version