KAIRO, UJUNGJARI.COM — Meskipun jadwal beliau begitu padat—hingga saya sempat mengira beliau tidak sempat makan siang—Menteri Agama RI tetap menunjukkan energi dan ketulusan luar biasa dalam setiap agenda.
Sejak mengikuti seminar di ACC yang membahas fiqh lingkungan hidup, berkeliling di Majma’ Buhuts Islamiyah, hingga pertemuan dengan OIAA (Organisasi Alumni al-Azhar), rangkaian kegiatan terus berlanjut tanpa jeda berarti.
Agenda kemudian dilanjutkan dengan ziarah maqam Sayyiduna Ibn Athaillah as-Sakandari rahimahullah, sebelum beliau menyempatkan diri hadir dan berdialog langsung dengan seluruh lapisan Mahasiswa/i Indonesia di Mesir (Masisir) di Barusan. Setelah itu, beliau kembali menghadiri penutupan seminar internasional Kementerian Wakaf Mesir.
Di hadapan para mahasiswa, Pak Menag RI menyampaikan sejumlah nasihat penting yang terasa sangat membumi dan relevan:
- Perkuat Persaudaraan
Saling menguatkan, menjaga ukhuwah, dan membantu sesama yang membutuhkan. Hidup di negeri orang menuntut solidaritas yang lebih kuat. - Manfaatkan Waktu Belajar dengan Maksimal
Kesempatan belajar di Mesir adalah nikmat besar. Baik melalui perkuliahan formal maupun majelis para masyayiikh, semuanya harus dimanfaatkan sebaik mungkin.
Beliau mengingatkan, di era teknologi saat ini, orang di Indonesia saja bisa belajar dari jauh. Maka jika mahasiswa di pusat ilmu justru menyia-nyiakan waktu, tentu akan tertinggal. - Jangan Terlalu Sering Umrah
Nasihat yang cukup menggelitik namun penuh makna: jika terlalu sering ke Tanah Suci, waktu belajar justru bisa terabaikan. - Perbaiki Hubungan dengan Allah SWT
Menjaga ibadah, terutama shalat di waktu yang terbaik. Jangan membiasakan tidur pagi, karena ada hadits yang melarangnya.
Beliau juga menganjurkan ziarah para awliya di Mesir, yang cahaya dan manfaatnya melampaui batas geografis. Pengaruh mereka bukan hanya lokal atau nasional, tetapi mendunia. - Jaga Akhlak dan Jejak Digital
Pesan ini disampaikan dengan sangat tegas. Chat, aktivitas media sosial, dan data digital tidak pernah benar-benar hilang.
Jejak digital bisa menjadi boomerang di masa depan. Perilaku buruk seperti mencuri, narkoba, miras, atau hubungan terlarang dapat mencoreng nama pribadi, keluarga, bahkan bangsa. - Manfaatkan Teknologi untuk Berkarya dan Mengabdi
Jangan hanya fokus belajar hingga lupa kondisi umat. Bersosial dan berkarya memang menyita waktu, tetapi itu penting untuk membangun empati dan kontribusi nyata bagi masyarakat. - Perkuat Kemampuan Bahasa Arab
Kemampuan bahasa adalah kunci. Beliau mencontohkan sosok senior seperti Dr. Mukhlis Hanafi, serta mendorong mahasiswa untuk aktif berkomunikasi dengan warga lokal agar bahasa Arab semakin hidup dan terasah.
Semoga Allah SWT senantiasa menjaga beliau dan seluruh jajaran Kementerian Agama, serta menjadikan setiap ikhtiar ini sebagai jalan menuju Indonesia dan umat Islam yang lebih baik. (*)
Aamiin.
