JEPARA, UJUNGJARI.COM — Keputusan wasit dalam laga Persijap Jepara kontra PSM Makassar menuai sorotan tajam. Bek PSM Makassar, Yuran Fernandes, sempat diganjar kartu merah di menit-menit akhir babak pertama. Namun setelah dilakukan peninjauan melalui Video Assistant Referee (VAR), keputusan tersebut direvisi menjadi kartu kuning.
Meski kartu merah dianulir, keputusan lanjutan wasit justru memunculkan tanda tanya besar. Dari tayangan ulang VAR, insiden tersebut dinilai bukan sebagai pelanggaran serius. Anehnya, meskipun tidak dianggap pelanggaran, Yuran Fernandes tetap diberikan kartu kuning oleh wasit.
Pengamat sepak bola nasional, Arianto Silaen, menilai keputusan tersebut menunjukkan inkonsistensi dalam penerapan aturan.
Menurutnya, VAR seharusnya digunakan untuk memperjelas apakah terjadi pelanggaran atau tidak.
“Kalau setelah dicek VAR insiden itu dinyatakan bukan pelanggaran, maka tidak seharusnya ada kartu kuning. Ini jadi aneh, karena pemain tetap dihukum tanpa dasar yang jelas,” ujar Arianto.
Ia juga menambahkan bahwa dalam situasi tersebut, wasit semestinya lebih jeli menilai kemungkinan adanya aksi pura-pura jatuh dari pemain Persijap.
“Dalam Laws of the Game, diving atau simulasi jelas merupakan pelanggaran. Jika terbukti tidak ada kontak signifikan, justru pemain yang melakukan simulasi seharusnya diganjar kartu kuning, bukan sebaliknya,” tegasnya.
Keputusan tersebut dinilai merugikan PSM Makassar dan kembali membuka perdebatan soal kualitas kepemimpinan wasit di kompetisi nasional. Banyak pihak berharap penggunaan VAR tidak hanya bersifat formalitas, tetapi benar-benar menghasilkan keputusan yang adil dan konsisten.
Hingga pertandingan usai, insiden kartu Yuran Fernandes tetap menjadi perbincangan hangat di kalangan suporter dan pemerhati sepak bola Tanah Air. (**)
