MAKASSAR, UJUNGJARI.COM – Pemandangan kanal yang dipenuhi sampah di berbagai kota di Indonesia kembali menjadi sorotan.
Tumpukan limbah rumah tangga, mulai dari plastik, kemasan makanan, hingga sampah organik, mengalir bebas ke selokan dan aliran air kecil di sekitar permukiman.
Fenomena ini dinilai bukan hanya mencerminkan rendahnya kesadaran masyarakat, tetapi juga menunjukkan gagalnya edukasi lingkungan yang seharusnya dijalankan secara konsisten dan berkelanjutan.
Kanal yang idealnya berfungsi sebagai jalur aliran air kini berubah menjadi tempat penampungan sampah terbuka. Saat hujan turun, arus air membawa limbah tersebut ke sungai-sungai yang lebih besar hingga akhirnya bermuara ke laut.
Setiap hari, sampah dari kawasan permukiman dan pusat ekonomi memperparah tingkat pencemaran laut, mengancam ekosistem pesisir, biota laut, hingga kesehatan manusia.
Masalah ini dinilai tidak dapat sepenuhnya dibebankan kepada masyarakat. Minimnya fasilitas pengelolaan sampah, lemahnya pengawasan, serta tidak konsistennya kampanye edukasi turut menjadi faktor utama.
Tanpa pembenahan sistemik, kanal-kanal kota akan terus menjadi jalur distribusi sampah menuju laut dan kerusakannya semakin sulit dipulihkan.
Kotornya Kanal-Kanal Kota
Kondisi kanal-kanal di Makassar, termasuk Kanal Pasar Terong, saat ini berada pada titik yang memprihatinkan. Tumpukan sampah tampak memenuhi aliran air dan menghambat fungsi kanal sebagai saluran drainase.
Forum Komunitas Hijau menilai kondisi ini menjadi bukti nyata bahwa edukasi lingkungan hidup belum berjalan efektif dan berkelanjutan, baik di tingkat masyarakat maupun pemangku kepentingan.
“Setiap hari kanal yang seharusnya menjadi jalur aliran air justru berubah menjadi tempat pembuangan sampah terbuka. Limbah plastik, kemasan makanan, dan berbagai jenis sampah rumah tangga terus menumpuk. Ini menunjukkan kesadaran warga untuk menjaga kebersihan masih rendah, sementara pengawasan dan penegakan aturan juga belum optimal,” kata Yusran, Ketua Forum Komunitas Hijau, Sabtu (14/2/2026).
Khusus di wilayah Kanal Pasar Terong, persoalannya semakin kompleks karena tingginya aktivitas ekonomi di kawasan tersebut. Minimnya fasilitas pengolahan sampah, ditambah kebiasaan membuang limbah langsung ke kanal, membuat aliran air hampir tidak berfungsi.
Pada musim hujan, kanal yang tersumbat berpotensi memicu banjir. Sementara itu, limbah yang terbawa arus air memperburuk kondisi pencemaran di kawasan pesisir dan laut.
“Kami menegaskan bahwa masalah ini bukan hanya persoalan perilaku warga, tetapi juga kegagalan sistemik, mulai dari edukasi lingkungan yang tidak berkesinambungan, manajemen sampah pasar yang buruk, hingga koordinasi lintas sektor yang lemah. Tanpa langkah serius, kanal-kanal di Makassar akan terus menjadi jalur sampah menuju laut,” tegas Yusran.
Forum Komunitas Hijau pun menyerukan tindakan terpadu melalui edukasi lingkungan yang lebih intensif, penyediaan fasilitas pengelolaan sampah yang memadai, pengawasan yang tegas, serta kolaborasi nyata antara pemerintah, pedagang, dan masyarakat.
“Dengan perubahan menyeluruh, kita dapat memulihkan kanal-kanal Makassar dan mencegah kerusakan lingkungan yang lebih parah. Ini bukan sekadar persoalan kebersihan, tetapi tentang masa depan kota dan keberlanjutan lingkungan yang kita warisi,” tutupnya. (Rls)
