MAKASSAR, UJUNGJARI.COM – Dinding prasangka yang kerap berdiri di antara perbedaan agama perlahan runtuh lewat sebuah perjumpaan hangat.
Jumat, 13 Februari 2026, siswa Sekolah Kristen Elim Makassar melakukan kunjungan silaturahmi ke Pondok Pesantren Ash-Shalihin, dalam agenda yang sarat pesan toleransi dan persaudaraan.
Kegiatan ini bukan sekadar kunjungan seremonial, melainkan ruang dialog dan perjumpaan untuk saling mengenal lebih dekat.
Tawa dan sapaan hangat para siswa dari dua lembaga pendidikan berbeda latar belakang agama itu menjadi simbol retaknya sekat prasangka yang selama ini mungkin tumbuh karena jarak dan minimnya interaksi.
Wakil Ketua Yayasan Perguruan Kristen Toraja (YPKT) Makassar, Chris Batara, dalam sambutannya menyampaikan rasa haru dan optimisme atas terjalinnya pertemuan tersebut.
Ia merasakan semangat persatuan yang kuat dan berharap ke depan akan lebih banyak kegiatan kolaboratif antara Sekolah Kristen Elim dan sekolah-sekolah Islam, khususnya Pesantren Ash-Shalihin.
“Semangat kebersamaan ini harus terus dirawat. Perlu ada kegiatan lanjutan yang semakin menambah keakraban dan saling pengertian,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Madrasah Aliyah Ash-Shalihin Gowa, Hesti Nurfatihah, menegaskan bahwa kunjungan ini merupakan bagian dari program Literasi Keagamaan Lintas Budaya.
Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi langkah nyata dalam memupuk sikap toleransi dan mempererat silaturahmi antarumat beragama sejak dini.
“Ini bukan sekadar pertemuan biasa, tetapi ruang belajar bersama agar siswa memahami bahwa perbedaan adalah kekayaan yang harus dijaga,” tuturnya.
Sepanjang acara, suasana hangat terasa kental. Para siswa terlibat dalam dialog ringan dan berbagai aktivitas bersama yang mencerminkan wajah Indonesia yang inklusif dan terbuka.
Interaksi tersebut diharapkan mampu melahirkan generasi muda Makassar yang menjadi duta perdamaian dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan tanpa memandang latar belakang agama.
Kegiatan semakin cair dengan sesi ice breaking yang dipandu fasilitator dari Humind Wellbeing Center, Inggrid.
Ia menyebut pertemuan ini sebagai ajang luar biasa untuk meruntuhkan sekat perbedaan dan membangun kecintaan kepada sesama.
Para murid diajak bermain dalam permainan kekompakan yang menekankan kerja sama dan saling percaya.
Di akhir pertemuan, kedua pihak berkomitmen untuk terus menjaga komunikasi dan membuka peluang kolaborasi di masa mendatang demi terwujudnya masyarakat yang harmonis dan saling menghargai.
Pengasuh Pesantren Ash-Shalihin, Muhammad Kafrawy, menutup kegiatan dengan refleksi mendalam.
Ia menyampaikan bahwa prasangka antara Islam dan Kristen perlahan menemukan retaknya dalam perjumpaan tersebut.
“Perjumpaan membuka mata bahwa yang tampak berbeda di permukaan, sejatinya dipersatukan oleh nilai kemanusiaan yang sama,” ujarnya.
Kunjungan ini menjadi bukti bahwa ketika ruang dialog dibuka, dinding prasangka dapat runtuh, digantikan oleh jembatan persaudaraan yang kokoh. (Rls)
