Site icon Ujung Jari

1.600 Warga Gowa Lakukan I’tiqaf di Masjid Agung Syekh Yusuf, Pengurus Masjid Fasilitasi Makan Sahur

GOWA, UJUNGJARI.COM — Tercatat sekira 1.600 masyarakat Gowa terdiri dari jemaah lakilaki 640 orang dan jemaah perempuan 960 melakukan I’tiqaf di Masjid Agung Syekh Yusuf, Sungguminasa, Kabupaten Gowa.

I’tiqaf ini dimulai Kamis (12/3) malam dan dilakukan selama tiga hari atau pada malam ke-23, malam ke-25 dan malam ke-27 Ramadan. Jemaah I’tiqaf di malam pertama cukup membludak dan ini akan berlangsung tiga hari ke depan.

Para warga yang berdomisili di wilayah Sungguminasa dan sekitarnya memang menjadikan I’tiqaf sebagai bagian dari ibadah penting selama Ramadan.

I’tiqaf adalah melaksanakan ibadah dengan berdiam diri di dalam masjid dengan niat lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan melakukan sejumlah amalan seperti salat, zikir dan membaca Alquran.

I’tiqaf ini pada umumnya dilaksanakan umat Islam pada 10 hari terakhir Ramadan untuk mendapatkan keutamaan Lailatul Qadar. Hukumnya sunnah yang ditekankan atau Muakkadah.

Pengurus Masjid Agung Syekh Yusuf Mardani Hamdan kepada ujungjari.com, Jum’at (13/3) pagi mengatakan, pelaksanaan I’tiqaf ini terbuka bagi seluruh masyarakat muslim.

“Tadi malam usai pelaksanaan salat tarawih dan menjelang tengah malam, masyarakat sekitar masjid berbondong-bondong datang dan mereka mulai melakukan I’tiqaf mulai pukul 02.00 dinihari hingga pukul 03.15 Wita. Masya allah ruang masjid kebanggaan kita dipadati jemaah I’tiqaf. Mereka melakukan I’tiqaf hingga memasuki waktu makan sahur. Jadi jemaah ini makan sahur di masjid dan alhamdulillah difasilitasi oleh pengurus Masjid Agung, ” kata Mardani yang juga adalah Kepala Bagian Kesra Setkab Gowa ini.

Dikatakan Mardani, para jemaah ini beri’tiqaf untuk mendekatkan lebih dalam ketaqwaan dan keimanannya. I’tiqaf ini dilakukan pada malam ganjil di 10 Ramadan terakhir karena biasanya di waktu itulah turun mukjizat Lailatul Qadar.

“Tadi malam itu makanan untuk sahur jemaah I’tiqaf ditanggung oleh pengurus masjid melalui bantuan donasi dari para dermawan seperti pak Hasrul Abdul Rajab (HAR), keluarga almarhum Haji Najiran, dari PMI Sulsel, Ibu Ulfa Lestari, pak Ardiansyah dan sumbangan dari warung coto Paraikatte serta partisipasi jemaah I’tiqaf lainnya yang tak mau disebutkan namanya. Jadi masyarakat akan melaksanakan I’tiqaf ini dua malam lagi. Semoga seluruh jemaah mendapatkan amalan dari ibadahnya yang khusyuk, ” kata Mardani.

Dikatakannya, Lailatul Qadar adalah malam mulia di bulan Ramadan yang nilainya lebih baik dari seribu bulan.

“Malam Lailatul Qadar itu adalah tempat diturunkannya Qu’ran sehingga menjadi malam penuh keberkahan, penuh ampunan dan keselamatan dimana malaikat turun ke bumi. Pada umumnya terjadi pada malam ganjil di 10 hari terakhir Ramadan. Semoga kita semua menjadi orang-orang pilihan yang mendapatkan Lailatul Qadar itu, Aamin yaa rabbal alamin, ” ucap Mardani.

Salah seorang warga Sungguminasa bernama Sahabuddin Dg Sutte yang ikut melaksanakan I’tiqaf di Masjid Agung Syekh Yusuf mengaku ibadah jelang akhir Ramadan itu sudah tiga tahun dilakukannya.

Salah satu yang dirasakannya adalah ketenangan batin meskipun diakuinya ibadah-ibadah yang dilakukannya setiap kali Ramadan dirasakan belum sempurna.

“Kesempurnaan itu hanya milik Allah. Saya sebagai hambaNya hanya berupaya melakukan apa yang harus saya lakukan demi meraih keistimewaan bulan mulia ini. Semoga Allah memberi saya yang terbaik. Semoga I’tiqaf saya tiga hari ke depan ini mendapatkan berkah Allah SWT, Aamin, ” kata Sahabuddin Dg Sutte. –

Exit mobile version