PAREPARE, UJUNGJARI.COM — Tidak semua konsolidasi politik berbicara tentang keramaian, panggung besar, atau euforia kader.
Sebagian justru berlangsung senyap. Namun menentukan. Di kawasan Kebun Raya Jompie, suasana santai dalam balutan silaturahmi dan buka puasa bersama Partai NasDem Sulawesi Selatan Dapil II, menyimpan pesan politik yang jauh lebih dalam.
Di sana, Syaharuddin Alrif tidak sekadar hadir. Ia mengamati, Membaca dan—secara perlahan—memetakan ulang kekuatan internal partai.
Konsolidasi yang Berubah Makna
Didampingi Andi Rachmatika Dewi dan tuan rumah Tasming Hamid, Syaharuddin tidak tampil dengan retorika keras.
Ia memilih pendekatan berbeda. Tenang, tetapi terukur. Di balik suasana santai, ada satu pesan yang mengemuka: tidak semua kader akan berjalan sampai garis akhir.
Ini bukan sekadar pertemuan, dan ini adalah proses penyaringan.
Dari Menang ke Dominasi
Data kemenangan sudah ada di tangan. Enam dari sembilan daerah di Dapil Sulsel II berhasil dimenangkan.
Sebuah capaian yang bagi banyak partai sudah cukup membanggakan. Namun tidak bagi Syaharuddin.
Baginya, kemenangan bukan tujuan akhir. Dominasi adalah target sebenarnya.
Di Parepare, misalnya, target delapan kursi dari tiga yang ada bukan sekadar ambisi.
Itu adalah tekanan yang sengaja diciptakan.
Tekanan yang akan memisahkan kader yang mampu bertumbuh—dari yang tertinggal.
Arah Baru: Dari Legislatif ke Eksekutif
Menariknya, arah konsolidasi mulai bergeser. Tidak lagi berhenti pada kursi legislatif.
Syaharuddin mulai mendorong kader untuk berani melangkah lebih jauh—ke panggung eksekutif. Kepala daerah serta Pusat kekuasaan.
Dan nama Tasming Hamid dijadikan contoh konkret. Bahwa jalur itu nyata.
Bisa dicapai. Bukan sekadar wacana.
Seleksi Alam Dimulai
Di titik inilah makna konsolidasi berubah total, Bukan lagi sekadar memperkuat solidaritas.
Tetapi menyaring kualitas. Siapa kader petarung. Siapa yang hanya hadir tanpa daya dorong.
Tidak ada pengumuman resmi. Tidak ada deklarasi terbuka.
Namun proses itu berjalan meski pelan dan halus Tapi pasti.
Gerak Cepat Menuju 2029
Agenda tidak berhenti di Parepare. Langkah berikutnya sudah disiapkan.
Pergerakan akan berlanjut ke daerah lain, termasuk rencana konsolidasi di Danau Matano.
Ini menandakan satu hal penting: Proses ini masih panjang. Dan baru saja dimulai.
Dalam politik, waktu adalah variabel penentu. Dan Syaharuddin tampaknya memilih satu strategi: bergerak lebih cepat dari yang lain.
Saat sebagian masih membangun wacana, ia sudah menyusun peta. Saat yang lain masih membaca situasi, ia mulai menekan dan menata ulang.
Penutup: Sunyi yang Menentukan
Di Jompie, tidak ada sorotan berlebihan. Tidak ada panggung besar.
Namun justru di situlah kekuatannya. Sebuah konsolidasi yang sunyi—tetapi menentukan arah. Seleksi telah dimulai. Bukan dengan teriakan.
Melainkan dengan pengamatan. Dan bagi Syaharuddin Alrif, 2029 bukan lagi soal masa depan.
Melainkan tentang siapa yang sudah siap sejak saat ini. (Wan)
