GOWA, UJUNGJARI.COM — Zero dose adalah kondisi di mana seorang anak belum pernah menerima dosis vaksin imunisasi dasar apapun seperti BCG, Polio, DPT-HB+Hib, campak/MR.
Karena anak tidak pernah tersentuh sekalipun dosis vaksin imunisasi dasar mengakibatkan anak rentan terserang penyakit berbahaya. Padahal semua jenis penyakit berbahaya dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I).
Terkait zero dose ini, Pemkab Gowa mendorong penguatan intervensi penurunan zero dose imunisasi pada anak melalui pendekatan berbasis data, integrasi layanan, dan kolaborasi lintas sektor.
Hal ini ditegaskan Bupati Gowa Husniah Talenrang pada kegiatan Advokasi dan Sosialisasi Imunisasi Nasional tingkat Kabupaten Gowa yang dilaksanakan di Baruga Karaeng Galesong, kantor Pemkab Gowa pada Rabu (1/4) lalu.
Husniah menekankan pentingnya validitas atau pemutakhiran data sasaran, perluasan jangkauan layanan imunisasi serta optimalisasi peran Puskesmas dan Posyandu sebagai titik layanan terdepan.
Dikatakannya, pendekatan jemput bola menjadi prioritas untuk menjangkau kelompok rentan di wilayah dengan akses terbatas.
“Intervensi penurunan zero dose harus dimulai dari validitas data. Tanpa basis data yang presisi, kebijakan tidak akan tepat sasaran. Hal ini juga ditunjang dengan penguatan peran kecamatan, desa dan kelurahan dalam fungsi monitoring wilayah. Semua harus ditingkatkan. Dukungan kader posyandu dan PKK harus diposisikan sebagai penggerak perubahan perilaku masyarakat melalui edukasi yang kontekstual dan berkelanjutan. Selain itu, layanan tidak boleh bersifat pasif. Puskesmas dan tenaga kesehatan perlu mengubah pola kerja menjadi proaktif dengan menjangkau langsung sasaran di lapangan,” tandas Bupati Gowa.
Diakuinya, penanganan zero dose dipandang sebagai bagian dari strategi jangka panjang untuk menekan risiko penyakit menular dan gangguan tumbuh kembang anak. Sinergi dengan tokoh masyarakat dan tokoh agama juga diperkuat untuk memastikan akurasi informasi publik terkait imunisasi.
“Penurunan zero dose adalah kerja sistemik. Dibutuhkan koordinasi lintas sektor yang konsisten agar capaian kesehatan anak dapat meningkat secara terukur,” ucap Husniah.
Sementara itu, Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman mengingatkan masyarakat untuk tidak terpengaruh informasi yang tidak valid terkait vaksin serta mendorong konsolidasi seluruh elemen pemerintah kabupaten dalam mencapai target yang telah ditetapkan.
“Masyarakat tidak perlu ragu terhadap vaksin. Jangan mudah percaya pada informasi yang tidak benar. Kita butuh kerja bersama seluruh jajaran pemerintah daerah agar target intervensi ini bisa tercapai sesuai rencana,” kata gubernur yang hadir dalam kegiatan advokasi tersebut.
Sementara itu, di Kabupaten Gowa berdasarkan data Dinas Kesehatan, intervensi penurunan zero dose dijalankan dengan target terukur dan penjadwalan yang ketat. Saat ini, total sasaran mencapai 5.787 anak dengan target intervensi awal 50 persen atau sekitar 2.894 anak. Pelaksanaan dimulai hari ini sampai 7 April, kemudian masuk tahap monitoring nasional pada 7 sampai 9 April.
Tantangan utama dalam penurunan zero dose masih pada persepsi sebagian orang tua terhadap imunisasi, sehingga pendekatan edukasi berbasis kolaborasi lintas sektor terus diperkuat.
Penjangkauan dilakukan secara aktif hingga ke wilayah sulit akses dengan melibatkan camat, pemerintah desa dan kelurahan, puskesmas serta kader PKK, guna memastikan seluruh sasaran by name by address dapat ditemukan dan dilayani secara efektif.
Kegiatan advokasi zero dose turut hadir Ketua Bidang Kesehatan dan Lingkungan PKK Pusat Safriati Safrizal, Sekretaris Kabupaten Gowa Andy Azis Peter, Kegua TP PKK Sulsel Noami Octaria dan Ketua TP PKK Gowa Andi Tenri Indah, Ketua DWP Gowa Suryanti Azis, para pimpinan SKPD dan Camat lingkup Pemkab Gowa. –
