GOWA, UJUNGJARI.COM — Saat ini globalisasi teknologi makin kencang. Salah satu efek paling trend digunakan masyarakat dan kini merajai dunia informasi dan komunikasi adalah kecerdasan buatan atau AI (Artificial Intelligence).
Dan karena efek AI inilah bisa menjadi modus bagi pelaku kejahatan. Terbukti nama, suara dan wajah Kapolres Gowa AKBP Muhammad Aldy Sulaiman dicatut oknum tidak bertanggung jawab.
Bermodal video ‘diri’ Kapolres Gowa ini, pelaku kejahatan mulai beraksi melakukan modus operandi penipuan dengan menjual kendaraan sitaan Polres Gowa.
Dengan bantuan AI, oknum pelaku membuat video menyerupai wajah Kapolres Aldy Sulaiman. Bukan cuma face tapi juga suaranya terdengar persis suara Kapolres Gowa tersebut.
Video berisikan ‘jualan’ kendaraan sitaan Polres Gowa mulai menyebar dan beberapa warga Gowa yang dikirimi video oleh oknum tersebut pun kaget dan akhirnya melakukan konfirmasi kebenaran dari video yang diduga Kapolres Gowa.
Sejumlah aduan konfirmasi masuk dan akhirnya Kapolres Gowa langsung melakukan klarifikasi.
“Video yang beredar menyerupai saya itu adalah palsu. Itu bukan saya. Dan bisa dipastikan video menyerupai saya adalah buatan AI. Sekarang masyarakat harus waspada model penipuan ala AI. Suara dan wajah kita bisa dipalsukan seolah-olah kita sendiri padahal itu hasil olahan oknum pelaku kejahatan, ” kata AKBP Muhammad Aldy Sulaiman kepada media ini saat ditemui di ruang kerjanya di mako Polres Gowa di Jl Syamsuddin Tunru, Sungguminasa pada Rabu (1/4) malam.
Menurut Aldy, deepfake voice cloning (salinan suara sangat palsu) atau video yang dimanipulasi menggunakan kecerdasan buatan (AI) seperti ini sangat berbahaya. Dikatakannya, pelaku kejahatan memang memanfaatkan teknologi AI untuk menghadirkan wajah dan suara yang menyerupai orang dikenal korban atau tokoh publik guna memerintahkan maupun menjebak korban.
“Teknologi sekarang semakin canggih. Pelaku dapat membuat video palsu yang menampilkan sosok kerabat atau keluarga atau atasan di tempat kerja, pejabat atau tokoh publik. Korban biasanya diminta melakukan tindakan mendesak seperti mengirim uang atau memberikan data penting. Pelaku juga bisa menggunakan AI melalui telepon (phishing call) dengan memanfaatkan teknologi voice cloning, ” kata Kapolres Gowa.
Dikatakannya, pelaku bisa berpura-pura sebagai kerabat yang sedang mengalami keadaan darurat, atau sebagai atasan yang meminta bantuan segera, berpura-pura memjadi pejabat atau pihak instansi tertentu. Dan dengan alasan mendesak, korban diminta mentransfer uang atau memberikan data sensitif seperti kode OTP, PIN maupun password.
Karena kejadian ini, bahkan karena dirinya pun sudah menjadi obyek bagi para pelaku penipuan menggunakan teknologi AI ini maka Kapolres Gowa pun mengingatkan masyarakat tentang bahaya social engineering 2.0.
“Jangan mudah percaya video dan telepon yang masuk ke hape anda. Masyarakat harus meningkatkan kewaspadaan terhadap perkembangan modus kejahatan siber terbaru yang dikenal sebagai social engineering 2.0 ini, bisa melalui video deepfake maupun panggilan suara melalui voice cloning. Pahami dan jangan mudah percaya. Imbauan ini sebagai langkah pencegahan agar masyarakat tidak menjadi korban penipuan yang kini semakin canggih dan sulit dikenali.
Kapolres Gowa pun memberikan beberapa langkah pencegahan seperti masyarakat harus selalu melakukan verifikasi ulang melalui nomor resmi atau komunikasi langsung.
“Ingat, jangan panik jika menerima telepon atau video yang meminta bantuan mendesak. Ingat, jangan pernah membagikan kode OTP, PIN atau password apapun kepada siapa pun dan tingkatkan literasi digital dan keamanan siber keluarga anda, ” imbuh AKBP Muhammad Aldy Sulaiman. –
