SOPPENG, UJUNGJARI.COM — Dewan Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Soppeng resmi menangguhkan rencana pendirian kembali SMA Muhammadiyah dengan konsep baru bertajuk SMA Muhammadiyah Ulul Albab.
Sekolah tersebut sebelumnya dirancang mengusung branding pendidikan berbasis Al-Qur’an dengan tiga pilar utama, yakni Tahfidz, Sains, dan Digital.
Program ini merupakan inisiatif dari Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) Muhammadiyah Soppeng dan telah masuk dalam prioritas pengembangan pendidikan di daerah tersebut.
Ketua Majelis Dikdasmen Muhammadiyah Soppeng, Drs. Misran Efendy, SH, M.Si, membenarkan bahwa berbagai persiapan sebenarnya telah dilakukan secara matang. Mulai dari administrasi, konsep pendidikan, hingga pembentukan panitia penerimaan siswa baru tahun ajaran 2026/2027.
“Semua persiapan sudah kami lakukan, bahkan dukungan moril dari ribuan alumni yang tergabung dalam Ikatan Alumni SMA Muhammadiyah Soppeng juga sangat besar. Namun keputusan akhir tetap berada di tangan pimpinan daerah,” ujarnya.
Keputusan penangguhan tersebut diambil dalam rapat Dewan Pimpinan Daerah Muhammadiyah Soppeng yang digelar di kompleks eks SMA Muhammadiyah Soppeng, Sabtu (11/4/2026).
Rapat dipimpin oleh Ketua PDM Soppeng, Drs. Arsyad Makmur, dan dihadiri sejumlah pimpinan majelis lainnya.
Hasil rapat memutuskan untuk menunda pendirian SMA Muhammadiyah Ulul Albab, meskipun program tersebut dinilai memiliki potensi besar dan relevan dengan kebutuhan pendidikan saat ini.
Penangguhan ini dinilai memupus harapan Majelis Dikdasmen Muhammadiyah Soppeng untuk menghadirkan lembaga pendidikan berbasis Qur’ani dengan pendekatan modern.
Padahal, konsep tiga pilar yang diusung dinilai belum dimiliki oleh sekolah umum lain di Kabupaten Soppeng.
Sementara itu, Ketua Ikatan Alumni SMA Muhammadiyah Soppeng, Nurhadi Muharram, mengungkapkan kekecewaannya atas keputusan tersebut.
Ia menyebut para alumni sebelumnya telah menyatakan dukungan penuh terhadap pendirian sekolah tersebut sebagai bentuk kontribusi nyata dalam dunia pendidikan.
“Ini momentum yang sangat tepat, apalagi belum ada sekolah dengan konsep seperti ini di Soppeng. Kami berharap keputusan ini bisa ditinjau kembali,” ujarnya dalam sebuah forum seminar terkait rencana pendirian sekolah.
Pihak alumni juga menilai keputusan tersebut belum sepenuhnya mempertimbangkan rekomendasi dari berbagai elemen, termasuk dukungan kuat dari Ikatan Alumni.
Mereka berharap Dewan Pimpinan Daerah Muhammadiyah Soppeng dapat membuka ruang evaluasi demi keberlanjutan program pendidikan tersebut.
Selain itu, alumni turut mengingatkan pentingnya pemanfaatan aset-aset Muhammadiyah yang nilainya mencapai miliaran rupiah.
Aset tersebut diharapkan dapat difungsikan secara optimal sebagai sarana mencerdaskan kehidupan bangsa melalui pendidikan berbasis Al-Qur’an.
“Jangan sampai aset yang dibangun dari perjuangan para orang tua dan alumni justru terbengkalai. Ini bisa menjadi catatan sejarah yang kurang baik jika tidak dimanfaatkan dengan maksimal,” tegas Misran Efendy.
Dengan keputusan ini, rencana pendirian SMA Muhammadiyah Ulul Albab di Soppeng dipastikan belum dapat direalisasikan pada tahun ajaran 2026/2027, meskipun harapan dari berbagai pihak masih terus bergulir. (Daus)
