MAKASSAR, UJUNGJARI.COM — Di sebuah lorong sempit di Makassar, pagi tak lagi dimulai dengan suara bising kendaraan semata.
Ada gemericik air, gesekan daun, dan tawa ringan warga yang sibuk memetik hasil tanamannya sendiri. Di ruang yang dulu sekadar jalur lalu-lalang, kini tumbuh kehidupan secara harfiah.
Cerita itu bukan datang dari lahan luas di pinggiran kota, melainkan dari sudut-sudut padat di Kecamatan Tamalate hingga lorong-lorong di Wajo. Di sinilah wajah baru kota mulai terbentuk: bukan dari beton yang menjulang, tetapi dari tanah yang dihidupkan kembali.
Ketika Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin yang akrab disapa Appi melangkah menyusuri lorong tersebut, ia tidak sekadar melihat tanaman. Ia menyaksikan bagaimana warga mengubah cara pandang terhadap ruang hidupnya.
Di Kelurahan Tanjung Merdeka, Tamalate, hamparan kangkung tumbuh rapi di bedeng-bedeng sederhana. Tak ada lahan luas, tak ada alat canggih—hanya ketekunan dan kemauan untuk mencoba. Namun hasilnya tak bisa dianggap kecil. Dari ruang terbatas itu, warga mampu memanen hingga ratusan kilogram setiap bulan.
Yang menarik, perubahan itu tidak berhenti di panen. Di sekitar kebun, warga mulai mengolah sampah organik menjadi kompos, memanfaatkan limbah menjadi kerajinan, bahkan mengenalkan edukasi lingkungan kepada anak-anak. Lorong yang dulu mungkin terabaikan, kini menjadi ruang belajar bersama.
Berbeda lagi suasananya di kawasan Wajo. Di dekat SD Negeri Butung, konsep bertani berkembang lebih “ramai”. Di satu sudut ada kolam ikan nila, di sisi lain kandang ayam petelur, sementara tanaman cabai dan sayuran tumbuh berdampingan.
Di sini, urban farming tidak berdiri sendiri. Ia menjelma menjadi ekosistem kecil yang saling terhubung. Hasilnya bukan hanya untuk dijual, tetapi juga untuk memenuhi kebutuhan dapur warga sendiri.
Telur-telur yang dihasilkan setiap hari bahkan punya tujuan yang lebih jauh: membantu memenuhi kebutuhan gizi anak-anak. Dari lorong sempit, muncul kontribusi nyata untuk isu besar seperti stunting.
Appi melihat pola ini sebagai sesuatu yang lebih dari sekadar program pemerintah. Baginya, ini adalah cara baru membangun kota—dimulai dari hal-hal kecil, dari tangan warga sendiri.
Ia menyadari, tantangan kota modern bukan hanya soal infrastruktur, tetapi juga bagaimana memastikan setiap warga punya akses terhadap pangan, penghasilan, dan lingkungan yang sehat. Urban farming, dalam konteks ini, menjadi jembatan.
“Pasarnya ada, lahannya tidak besar, dan hasilnya nyata,” begitu kira-kira pesan yang ingin ditegaskan lewat kunjungan tersebut.
Namun yang paling terasa dari perjalanan ini bukan angka produksi atau target kebijakan. Melainkan perubahan sikap. Warga yang dulu mungkin melihat lorong sebagai ruang sempit, kini melihatnya sebagai peluang.
Di tengah keterbatasan, mereka menemukan cara untuk tetap tumbuh.
Dan mungkin, di situlah inti sebenarnya dari urban farming di Makassar: bukan sekadar menanam sayur, tetapi menanam harapan yang pelan-pelan dipanen, hari demi hari. (rhm)
