Site icon Ujung Jari

Durian Umpungeng Melimpah, Wisatawan Hanya Bisa Berpose karena Sudah Dikontrak Pedagang

SOPPENG, UJUNGJARI.COM — Desa Umpungeng, Kecamatan Lalabata, Kabupaten Soppeng kini menjadi magnet bagi pencinta durian.

Namun, di balik melimpahnya buah durian di kawasan tersebut, wisatawan kerap harus gigit jari karena tidak bisa membeli durian, bahkan yang sudah jatuh dari pohon.

Hal ini terjadi karena sebagian besar petani durian di desa tersebut telah lebih dulu mengikat kontrak dengan pedagang dari luar daerah. Kontrak pembelian bahkan dilakukan jauh sebelum musim berbuah tiba.

“Betul-betul luar biasa. Pedagang sudah kontrak jauh hari, bahkan sebelum ada tanda-tanda mau berbuah,” ujar Kepala Desa Umpungeng, Salahuddin, S.Ag, saat ditemui, Jumat (30/4/2026).

Menurut salah seorang warga Jolle, Ahmad Yani, kondisi ini membuat wisatawan yang datang hanya bisa menikmati suasana kebun durian tanpa bisa mencicipi buahnya secara langsung.

Senada dengan itu, petani setempat, Pagga (58), mengungkapkan nilai kontrak durian cukup menggiurkan. Ia menyebut, nilai kontrak terendah bisa mencapai Rp150 juta per tahun, tergantung jumlah pohon yang dimiliki.

“Bahkan ada petani dengan puluhan pohon durian yang mendapat kontrak Rp300 juta untuk dua tahun. Angka yang sangat menggiurkan,” ujarnya.

Kepala Desa Umpungeng, Salahuddin, menambahkan, karena sudah dikontrak, wisatawan yang datang disarankan memastikan terlebih dahulu adanya akses atau kerja sama dengan penyedia durian.

Jika tidak, kemungkinan besar hanya bisa berpose di bawah pohon yang sedang berbuah lebat.

“Durian tidak bisa dipetik, bahkan yang sudah jatuh pun tidak bisa diambil karena pada umumnya sudah menjadi milik pedagang luar dan akan diangkut keluar daerah,” jelasnya.

Ia juga mengungkapkan, setiap harinya pedagang bisa mengangkut hingga tiga mobil durian dari desa tersebut.

Dalam satu mobil diperkirakan memuat sekitar satu ton durian, sehingga total sekitar tiga ton durian keluar dari Umpungeng setiap hari.

Jika dihitung dengan harga durian jenis otong di tingkat petani sekitar Rp35 ribu per kilogram, maka perputaran uang yang masuk ke petani bisa mencapai Rp105 juta per hari.

Sementara untuk jenis musang king dengan harga Rp150 ribu per kilogram, nilainya bisa menembus Rp450 juta per hari.
“Ini angka yang sangat fantastis bagi perekonomian petani di desa kami,” tutup Ahmad Yani.  (Daus)

Exit mobile version