GOWA, UJUNGJARI.COM — Hasrul Abdul Rajab (HAR) adalah salah satu sosok pimpinan di DPRD Gowa yang dinilai cukup gesit menjalankan perannya. Sebagai Wakil Ketua 1, HAR mengaku banyak mendapatkan hal luar biasa dalam hidupnya.
Sebagai seorang politisi yang mendapat hoki yang baik, HAR terbilang memang sangat mujur karena perjalanan karier politiknya diridhai Yang Maha Kuasa. Politisi Gen Y (milenial) ini tak dipungkiri sebagai pendatang baru yang berkelas dan punya keberuntungan.
Masuk di proses pencalegan pada 2024 lalu, HAR yang mengibarkan bendera Partai Gerindra ini, berhasil terpilih di Dapil 1 Gowa (Kecamatan Somba Opu) dengan raihan di atas 5.000-an suara. Dan setelah masuk legislator, hokinya terus menanjak. HAR duduk sebagai unsur pimpinan di DPRD Gowa dan menjabat sebagai wakil ketua 1.
Itu sekelumit kisah keberadaan HAR saat berproses masuk dunia parlemen. Dan ternyata di level pimpinan pengalaman politiknya makin bertambah. Posisi HAR memang di garis kedua, namun perannya seolah lebih besar dari jabatan pimpinan atau ketua. Pasalnya, pucuk pimpinan di DPRD Gowa beberapa kali mengalami pergantian pimpinan.
Awalnya, sebelum ada ketua definitif, HAR dipercaya menjadi pimpinan sementara. Setelah pimpinan terpilih definitif, tugas HAR tetap sama apalagi pimpinan tertinggi di dewan yang dijabat politisi PPP terus mengalami perubahan.
Tempaan hari dan beban tugas telah membentuk karakter HAR makin kuat. Pikirannya makin jernih, dan strategi politiknya makin matang. Tak heran, HAR mengakui jika pengalaman politik yang didapatkannya selama ini, sungguh luar biasa.
HAR pun mengisahkan bagaimana dirinya menjalankan hari-harinya sebagai anggota dewan sekaligus unsur pimpinan di DPRD Gowa.
Menurutnya, enteng tapi berat. Entengnya, bagi HAR hampir sama dengan pandangan publik bahwa duduk di legsilatif hanya datang rapat, bicara serius hingga bicara santai, atau lakukan perjalanan dinas dan kemudian awal bulan terima gaji.
Beratnya menurut HAR tak semudah yang dibayangkan masyarakat. Beban moril dan tanggung jawab sebagai wakil rakyat sungguh besar. Ada tiga fungsi yang dimiliki yakni fungsi legislasi (membentuk Perda), fungsi anggaran (APBD) dan fungsi pengawasan.
Dia pun memberikan satu contoh, bagaimana seorang HAR harus tampil meredakan emosi masyarakat yang melayangkan aspirasi. Salah satu aspirasi rumet dan pelik adalah saat melakukan rapat dengar pendapat (RDP) yang dilakukan terbuka untuk umum namun masalahnya (topiknya) sangat sensitif dan potensi konflik besar.
“Maka disinilah kedewasaan berpikir saya diuji, kedewasaan bertindak saya diuji, kalimat-kalimat saya harus terukur dan harus dilandasi etika. Dan disinilah pula otak saya harus saya gunakan untuk berpikir lebih jernih dan melahirkan solusi tepat tanpa ada pihak terluka, juga berupaya menciptakan kondisi yang kondusif. Memang berat. Dan ini bukan mainan, ” papar HAR dalam bincang-bincangnya pada Senin (11/5).
Dia membeberkan, saat dirinya tampil mendampingi ketua dewan memimpin jalannya RDPU yang penuh dengan kejutan, maka disinilah dirinya berupaya tampil bijak dan arif padahal dalam RDPU itu yang banyak peserta rapat yang terbawa perasaan, apalagi peserta yang diundang RDPU dominan kawula muda atau kalangan gen Z (generasi Z). Suasana memang memanas dan potensi ricuh, namun HAR mampu menguasai kondisi sehingga suasana RDPU tetap dinamis hingga selesai.
“Suasana begitu memang tidak mudah.
Tapi saya memandang suasana itu sebagai bagian dari proses demokrasi dan bentuk kepedulian semua pihak terhadap persoalan yang dibahas, ” ungkap pemuda berlatar ilmu ekonomi ini.
HAR pun mengemukakan triknya membawa suasana tetap adem.
“Yang paling penting bagi saya dalam memimpin rapat adalah tetap tenang, objektif dan memastikan semua pihak mendapat ruang untuk menyampaikan pandangannya secara proporsional. RDPU ini bukan forum peradilan dan bukan forum penghakiman. Ini salah satu edukasi tang saya tanamkan, agar peserta RDPU tidak bablas menyampaikan aspirasinya. Semua ada kadar dan etikanya. Inilah yang saya sampaikan di setiap awal rapat, ” ungkap HAR.
HAR mengaku punya resep jitu dalam menghadapi setiap momen berat. Menurutnya, ketika suatu rapat dengar pendapat naik suhu, ada filter yang menjadi strateginya.
” Iya, ketika situasi mulai memanas, yang pertama saya lakukan adalah mengendalikan suasana, bukan ikut terbawa emosi. Saya harus menjadi penengah, menjaga ritme forum dan mengingatkan semua peserta agar tetap menghargai forum ini dan fokus pada substansi, bukan pada emosi ataupun menyerang personal. Karena kalau pimpinan ikut terpancing, suasana akan semakin sulit dikendalikan. Bagi saya, dalam kondisi seperti itu pola pikir sangat menentukan. Kita harus membiasakan diri untuk tidak bereaksi spontan terhadap tekanan,” kata HAR.
HAR mengatakan, ada prinsip sederhana yang dia pegang. Pertama, dengarkan lebih dulu, lalu pahami inti persoalan, kemudian respon dengan bahasa yang tenang dan terukur. Menurutnya, terkadang seseorang hanya ingin didengar, sehingga ketika diberi ruang dengan baik, emosinya perlahan mereda.
Selain itu, pilihan kata juga penting. Dikatakan HAR, dalam forum yang tegang, dirinya berusaha menggunakan kalimat yang menenangkan, tidak menyudutkan dan tidak memperkeruh keadaan.
“Jadi memang tidak ada trik instan, tapi ada disiplin dalam mengelola emosi, menjaga komunikasi dan tetap menghormati semua pihak. Karena tugas pimpinan rapat bukan hanya memimpin jalannya diskusi tetapi juga memastikan forum tetap kondusif dan menghasilkan keputusan yang baik, ” pungkasnya.-
