Site icon Ujung Jari

Salat Ghaib dan Doa Bersama Iringi Duka Petugas Haji di Madinah

MADINAH, UJUNGJARI.COM – Suasana haru menyelimuti Kantor Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Daerah Kerja Madinah, Jumat (15/5/2026), menjelang salat asar. Aktivitas para petugas yang biasanya sibuk melayani jemaah mendadak melambat setelah kabar duka datang dari Tanah Air.

Supriadi, petugas haji yang bertugas di Sektor Bir Ali, kehilangan istri tercintanya, Diah Retnaningtiyas, yang wafat usai menjalani perawatan selama sepekan di rumah sakit.

Di tengah tugas pelayanan jemaah yang masih berlangsung di Tanah Suci, Supriadi tak dapat mendampingi sang istri pada saat-saat terakhir kehidupannya. Namun dukungan dan doa dari rekan-rekan sesama petugas haji di Madinah menjadi penguat di tengah duka yang mendalam.

Suasana semakin mengharukan ketika Supriadi sendiri maju menjadi imam salat ghaib untuk almarhumah istrinya. Dengan suara lirih dan mata berkaca-kaca, ia meminta seluruh petugas turut mendoakan sang istri.

“Mohon doanya semoga istri saya husnul khatimah dan mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT,” ucap Supriadi.

Usai salat ghaib, doa bersama dipimpin oleh Ustadz Agus Susanto dari layanan Pembimbing Ibadah (Bimbad). Seluruh petugas menadahkan tangan, memanjatkan doa untuk almarhumah serta keluarga yang ditinggalkan.

“Kami turut berduka cita sedalam-dalamnya. Semoga almarhumah husnul khatimah dan Pak Supriadi diberikan ketabahan hati,” ujar Ustadz Agus.

Dukungan moril juga mengalir melalui doa bersama secara daring melalui Zoom yang diikuti sejumlah petugas dari berbagai sektor dan layanan di lingkungan PPIH Madinah.

Momen tersebut menjadi bukti kuatnya persaudaraan di antara para petugas haji di tengah padatnya operasional pelayanan jemaah.

Rekan satu tugas Supriadi di Sektor Bir Ali, Farid Supriadi, mengungkapkan bahwa sahabatnya itu telah menahan kesedihan sejak sepekan terakhir ketika mendapat kabar sang istri dirawat di ICU.

“Beliau sangat tegar. Selama ini tetap menjalankan tugas melayani jemaah, meski sedang menghadapi ujian berat,” kata Farid.

Menurut Farid, Supriadi juga sempat mendapat tawaran untuk pulang ke Indonesia demi mendampingi istrinya. Namun ia memilih tetap menjalankan amanah pelayanan jemaah dan menyerahkan pendampingan keluarga kepada kerabat di rumah.

“Beliau memilih bertahan menjalankan tugas sambil terus mendoakan istrinya dari Tanah Suci. Itu yang membuat kami semua tersentuh,” lanjutnya.

Usai doa bersama, satu per satu petugas mendekat untuk memeluk dan menyalami Supriadi. Kebersamaan itu menjadi penguat bagi seorang sahabat yang sedang dirundung kehilangan.

“Di sini kami bukan hanya rekan kerja. Kami keluarga. Ketika ada yang berduka, semua ikut merasakan,” ujar salah seorang petugas.

Sebelumnya, suasana doa bersama juga mewarnai rapat konsolidasi PPIH Daker Madinah pada Kamis (14/5/2026) malam. Seluruh petugas membacakan Surat Yasin dan doa untuk Sahroni, petugas dari Daker Bandara yang wafat beberapa hari lalu.

“Semoga almarhum diterima iman Islamnya, diampuni dosa-dosanya, dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan,” ujar Kepala Daerah Kerja Madinah, Khalilurrahman.

Di balik padatnya layanan haji dan panjangnya jam pengabdian, para petugas haji di Madinah menunjukkan bahwa pelayanan tidak hanya dibangun dengan kerja keras, tetapi juga rasa kemanusiaan dan persaudaraan yang saling menguatkan. (haji.go.id)

Exit mobile version