MAKASSAR, UJUNGJARI.COM — Universitas Hasanuddin (Unhas) mengambil peran strategis dalam mendukung pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui pengembangan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang dirancang tidak sekadar sebagai penyedia makanan bergizi, tetapi juga sebagai pusat riset, edukasi, dan pengembangan kebijakan pangan nasional.
Komitmen tersebut mengemuka dalam Diskusi Publik bertajuk “SPPG Unhas: Laboratorium MBG untuk Gizi Bangsa” yang berlangsung di Ruang Redaksi Harian Fajar, Graha Pena Makassar, Kamis (4/6).
Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Unhas sekaligus Tim Ahli SPPG Tamalanrea 14, Prof dr Veny Hadju, mengatakan keterlibatan kampus dalam program MBG dilandasi keyakinan bahwa investasi di sektor gizi merupakan langkah paling efektif untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia dalam jangka panjang.
Menurutnya, berbagai negara telah membuktikan keberhasilan program pemberian makanan bergizi di sekolah dalam memperbaiki status kesehatan masyarakat sekaligus memberikan manfaat ekonomi yang signifikan.
Ia menjelaskan, sejumlah penelitian internasional menunjukkan bahwa investasi pada intervensi gizi mampu menghasilkan manfaat berkali-kali lipat dibandingkan biaya yang dikeluarkan. Karena itu, program seperti MBG dinilai menjadi salah satu instrumen penting dalam membangun generasi yang sehat dan produktif.
Veny menambahkan, keberadaan SPPG di lingkungan Unhas membuka ruang yang luas bagi dosen, mahasiswa, dan peneliti untuk melakukan berbagai kajian ilmiah terkait gizi masyarakat, pola konsumsi, hingga efektivitas program MBG.
“Dengan dukungan berbagai fakultas seperti Kesehatan Masyarakat, Kedokteran, dan disiplin ilmu lainnya, Unhas memiliki kapasitas untuk menjadikan SPPG sebagai laboratorium pembelajaran yang menghasilkan rekomendasi berbasis riset,” ujarnya.
Selain memenuhi kebutuhan nutrisi peserta didik, program MBG juga diharapkan mampu mengubah pola pikir masyarakat tentang pentingnya konsumsi pangan yang beragam dan seimbang.
Veny menilai selama ini masyarakat masih cenderung mengandalkan satu jenis sumber karbohidrat dan belum memaksimalkan konsumsi sayur, buah, maupun variasi protein hewani. Melalui MBG, anak-anak dapat diperkenalkan sejak dini pada pola makan sehat yang lengkap, cukup, dan beragam.
“Ketika setiap hari mereka melihat dan mengonsumsi menu yang seimbang, proses edukasi gizi akan berlangsung secara alami,” katanya.
Dalam mendukung operasional SPPG, Unhas juga mendorong keterlibatan pelaku UMKM sebagai bagian dari rantai pasok bahan pangan. Skema tersebut dinilai penting untuk memperluas manfaat ekonomi program sekaligus mencegah terjadinya monopoli pemasok.
Sementara itu, Dekan Fakultas Peternakan Unhas, Prof Dr Syahdar Baba, mengungkapkan pihaknya mendapat mandat untuk merancang model penyediaan pangan berbasis riset yang dapat mendukung kebutuhan SPPG secara berkelanjutan.
Salah satu fokus yang tengah dikembangkan adalah produksi telur berkualitas tinggi melalui penerapan inovasi pada sistem budidaya dan pakan ternak yang melibatkan peternak mitra.
“Kami ingin menghasilkan produk pangan yang memiliki nilai tambah dari sisi kualitas gizi, namun tetap dapat diproduksi dengan biaya yang efisien sehingga terjangkau bagi program MBG,” jelasnya.
Tak hanya memperkuat rantai pasok, Fakultas Peternakan juga menyiapkan program edukasi yang memperkenalkan kepada siswa proses produksi pangan dari tingkat petani dan peternak. Upaya ini diharapkan dapat menumbuhkan penghargaan terhadap produsen pangan sekaligus mengurangi perilaku membuang makanan.
Dalam forum yang sama, pengamat kebijakan publik Maqbul Halim menegaskan bahwa posisi Unhas sebagai kampus yang diproyeksikan menjadi percontohan nasional harus dimanfaatkan untuk menghasilkan inovasi dan model tata kelola MBG yang dapat diterapkan secara luas.
Menurutnya, peran kampus tidak berhenti pada penyediaan layanan, tetapi juga harus melahirkan gagasan, penelitian, dan rekomendasi kebijakan yang mampu menyempurnakan program MBG di tingkat nasional.
Melalui sinergi lintas fakultas, dukungan riset, serta keterlibatan berbagai pemangku kepentingan, Unhas menargetkan SPPG menjadi laboratorium pengembangan MBG yang tidak hanya melayani kebutuhan gizi peserta didik, tetapi juga menjadi pusat inovasi dalam membangun sistem pangan dan gizi yang lebih baik bagi Indonesia. (rhm)
