MALILI,UJUNGJARI.COM — Panggung perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke 23 Kabupaten Luwu Timur kembali menguliti kedewasaan berpolitik para mantan penguasanya. Sebuah pemandangan kontras yang teramat mencolok tersaji di kursi undangan VIP: Andi Hatta Marakarma duduk dengan takzim menghormati sejarah, sementara Budiman kembali tidak hadir.
Absennya Budiman secara berturut-turut sejak ditumbangkan oleh Irwan Bachri Syam (IBAS) dalam Pilkada lalu, kini bukan lagi sekadar urusan “kesibukan” atau kendala jarak. Publik mulai membaca ini sebagai bentuk resistensi politik, atau dalam bahasa yang lebih ekstrem: ketidakmampuan seorang mantan penguasa untuk berdamai dengan kenyataan kekalahan.
Ironisme ini terasa semakin menyengat ketika sebuah informasi berembus ke publik: Budiman sebenarnya berada di wilayah Luwu Timur saat perayaan HUT tersebut digelar. Beliau tidak sedang berada di luar daerah, tidak pula sedang mengemban tugas negara yang darurat di luar provinsi.
Fakta bahwa dirinya secara fisik ada di Bumi Batara Guru namun memilih untuk menutup diri dari acara resmi daerah, mempertegas spekulasi yang berkembang. Sikap ini dinilai publik bukan lagi sekadar absen biasa, melainkan sebuah tindakan sengaja untuk menjauhkan diri dari panggung yang kini dipimpin oleh rival politiknya.
”Kalau beliau sedang di luar daerah, publik mungkin maklum. Tapi ketika beliau ada di Luwu Timur dan tetap memilih tidak hadir, ini mengirimkan pesan politik yang sangat negatif. Menolak hadir di hari jadi daerah sendiri disaat fisik ada di tempat, itu menunjukkan ego personal yang belum selesai,” ungkap salah seorang warga yang enggan dikutip namanya.
Sentilan dari Konsistensi Andi Hatta
Sikap Budiman ini semakin terlihat “kecil” jika disandingkan dengan figur Andi Hatta Marakarma. Sebagai bupati legendaris Luwu Timur dua periode, Opu Hatta tidak pernah membiarkan dinamika politik merusak komitmennya pada daerah. Siapa pun bupatinya—termasuk di era IBS sekarang—Andi Hatta selalu hadir paling depan memenuhi undangan.
Kehadiran intens Andi Hatta seolah menjadi tamparan keras sekaligus cermin besar bagi Budiman. Andi Hatta memberikan pelajaran nyata bahwa kekuasaan itu ada batasnya, namun pengabdian dan penghormatan terhadap tanah kelahiran tidak boleh dikebiri oleh sentimen kekalahan.
Ego Politik yang Merugikan Citra Sendiri
HUT Luwu Timur bukanlah panggung milik pribadi Irwan Bachri Syam, melainkan momentum sakral milik seluruh rakyat. Dengan memilih “sembunyi” di wilayah sendiri ketimbang menghadiri undangan resmi negara, Budiman dinilai telah memberikan preseden buruk dalam etika publik dan tata krama politik.
Dengan terus mempertahankan sikap antipati ini, Budiman justru sedang merugikan investasi politiknya sendiri. Alih-alih memanen simpati, publik justru akan mengingatnya sebagai mantan pemimpin yang hanya mau menampakkan wajah saat berkuasa, namun memilih mengunci diri saat tak lagi bertahta. (*)
