LUWU TIMUR – Hari masih beranjak siang ketika kerumunan rambut memutih mulai memadati Kantor Camat Malili dan beberapa titik desa di Luwu Timur pada Kamis (16/7/2026). Di antara garis-garis keriput di wajah mereka, terselip sebuah binar baru—sebuah harapan kecil yang kini mewujud dalam genggaman sepotong kartu plastik tipis.
Kartu ATM Lansia, begitu program ini akrab disebut, bukan lagi sekadar urusan birokrasi pemerintahan, melainkan tali asih yang membuktikan bahwa mereka tak dilupakan di masa senja. Bagi 1.346 jiwa penerima manfaat baru yang tercatat di tahun 2026 ini, kartu tersebut adalah kepastian bahwa negara hadir di tengah-tengah mereka.
Bagi sebagian orang, nominal tiga juta rupiah mungkin sekadar angka operasional bulanan. Namun, bagi para lansia ini, uang tersebut adalah jaminan bahwa dapur mereka tetap mengepul dan obat-obatan penting di atas meja tetap tersedia tanpa perlu membebani anak cucu. Penyaluran rapel dana untuk tiga bulan pertama (Januari-Maret) yang langsung masuk ke rekening masing-masing bagaikan oase di tengah peliknya kebutuhan hidup.
Langkah progresif Pemerintah Kabupaten Luwu Timur dalam memperluas jangkauan perlindungan sosial ini kian nyata. Di tahun 2026, total penerima manfaat melonjak drastis hingga menyentuh angka 4.000 lansia. Sebanyak 2.654 di antaranya telah lebih dulu menikmati kemudahan pencairan nontunai secara berkala, dan kini, barisan penerima baru pun ikut bersiap merajut senyum yang sama.
Sebelum mesin-mesin ATM mulai berdecit mengeluarkan lembaran rupiah, Ilyas, Staf Dinas Sosial P3A Luwu Timur yang mendampingi prosesi ini, dengan sabar memberikan arahan demi arahan. Di depan para orang tua, ia tak sekadar menyerahkan kartu, tetapi juga menyelipkan edukasi finansial yang ramah.
”Gunakan bantuan ini dengan sebaik-baiknya untuk memenuhi kebutuhan yang benar-benar penting bagi keluarga. Semoga bantuan ini dapat memberikan manfaat dan meringankan beban bapak dan ibu sekalian,” pesan Ilyas dengan tulus.
Ia juga mengingatkan agar para penerima menyisakan saldo minimal Rp100.000 di dalam rekening agar status kartu sakti tersebut tetap aktif.
Penyaluran hari itu bergerak serentak membelah beberapa titik geografis. Distribusi besar dipusatkan di Kantor Camat Malili dan Kantor Desa Manurung, merangkul ratusan lansia dari berbagai pelosok seperti Desa Laskap, Ussu, Puncak Indah, hingga wilayah pesisir Lakawali Pantai dan Tarabbi.
Gerakan kemanusiaan ini bahkan menjangkau wilayah pelosok lainnya, memusatkan titik temu di Kantor Desa Parumpanai untuk merengkuh para tetua dari wilayah Wasuponda hingga Desa Matano di Kecamatan Nuha.
Di balik dinginnya sistem perbankan nontunai yang diadopsi, ada kehangatan yang menjalar di sanubari para lansia ini. Di tengah keterbatasan fisik dan hari-hari sepi yang kerap mereka lalui, langkah nyata pemerintah daerah kali ini terasa sangat personal.
Program ATM Lansia ini mengaburkan jarak geografis dan birokrasi, menegaskan satu pesan kuat bagi seluruh orang tua di Luwu Timur: di hari tua yang sunyi, mereka tidak pernah berjalan sendirian. (aris)
