BANTEN, UJUNGJARI.COM – Pengurus Wilayah (PW) Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia (SEMMI) Sulawesi Selatan mengecam penyelenggaraan Kongres IX SEMMI yang dinilai mengabaikan identitas historis dan ideologis organisasi sebagai bagian yang lahir dari rahim Syarikat Islam.
Kritik tersebut disampaikan setelah PW SEMMI Sulsel menilai tidak terlihat simbol-simbol utama Syarikat Islam, seperti bendera maupun representasi kepemimpinan Syarikat Islam, di arena utama kongres.
Di sisi lain, mereka menyoroti adanya visual figur politik yang dinilai tidak memiliki keterkaitan historis dengan Syarikat Islam.
Ketua Umum PW SEMMI Sulawesi Selatan, Andi Muh. Idik Indra Maulana, menegaskan bahwa kondisi tersebut bukan sekadar persoalan dekorasi, melainkan menyangkut penghormatan terhadap sejarah dan jati diri organisasi.
“Kami mengecam pengabaian terhadap identitas Syarikat Islam dalam arena Kongres IX SEMMI. Sangat disayangkan apabila forum tertinggi SEMMI justru tidak menghadirkan simbol-simbol yang menjadi akar sejarah lahirnya organisasi ini. Bagaimana mungkin kita berbicara tentang masa depan SEMMI jika penghormatan terhadap sejarahnya sendiri mulai diabaikan,” tegas Idik.
Menurutnya, Kongres IX seharusnya menjadi momentum memperkuat identitas serta nilai-nilai perjuangan SEMMI, bukan justru menghadirkan kesan bahwa akar historis organisasi mulai dikesampingkan.
PW SEMMI Sulsel menilai persoalan tersebut perlu menjadi bahan evaluasi bagi Organizing Committee (OC) maupun Pengurus Besar SEMMI.
Mereka meminta penyelenggara memberikan penjelasan terkait tidak tampilnya simbol-simbol Syarikat Islam dalam forum permusyawaratan tertinggi organisasi tersebut.
“Kongres memiliki tanggung jawab moral untuk menampilkan identitas organisasi secara utuh dan proporsional,” ujar Idik.
Ia menambahkan, pihaknya tidak mempersoalkan pihak mana pun yang memberikan perhatian terhadap SEMMI. Namun, menurutnya, penghormatan kepada pihak lain tidak boleh mengaburkan identitas organisasi.
“Kami menghormati siapa pun yang memberikan perhatian terhadap SEMMI. Namun penghormatan itu tidak boleh mengaburkan identitas organisasi. SEMMI lahir dari rahim Syarikat Islam, sehingga sudah semestinya simbol, sejarah, dan nilai-nilai Syarikat Islam mendapatkan tempat yang terhormat dalam setiap agenda resmi organisasi, terlebih pada forum tertinggi seperti Kongres,” katanya.
PW SEMMI Sulawesi Selatan menegaskan bahwa menjaga identitas organisasi bukan hanya soal simbol, tetapi juga bentuk penghormatan terhadap sejarah, konstitusi, serta nilai-nilai perjuangan yang menjadi fondasi berdirinya SEMMI.
Sebagai bentuk sikap organisasi, PW SEMMI Sulsel menyatakan akan tetap berada di garis terdepan dalam menjaga marwah dan jati diri SEMMI.
“Kami tidak akan tinggal diam terhadap setiap upaya yang mengaburkan jati diri organisasi. Bagi kami, menjaga identitas SEMMI adalah menjaga kehormatan perjuangan, dan itu merupakan tanggung jawab yang tidak dapat ditawar. Kami akan berdiri di garda paling depan terkait persoalan ini,” tutup Idik. (Rls)
