MAKASSAR,UJUNGJARI.COM– Komposisi pemegang saham di Fajar Indonesia Corporindo (Fajar Holding) mengalami perubahan signifikan. Itu setelah pengusaha nasional sekaligus pendiri Bosowa Corporindo, HM Aksa Mahmud, resmi menjadi pemegang saham terbesar PT Fajar Indonesia Corporindo setelah mengakuisisi 40,5 persen saham milik Jawa Pos dan 5,6 persen saham milik Dorothea Samola.
Keputusan ini merupakan salah satu hasil yang disepakati dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Fajar Indonesia Corporindo di gedung Graha Pena Makassar, Kamis (23/7/2026).
Langkah tersebut disebut bukan semata keputusan bisnis, melainkan upaya menjaga kesinambungan sejarah serta semangat tiga pendiri Harian Fajar, yakni HM Alwi Hamu, HM Jusuf Kalla, dan HM Aksa Mahmud.
PT Fajar Indonesia Corporindo merupakan perusahaan induk (holding) yang menaungi seluruh unit usaha Fajar Group, mulai dari media cetak, media siber, televisi dan radio, sektor properti, klinik, transportasi, universitas, hingga berbagai lini bisnis lainnya.
Direktur Utama PT Fajar Indonesia Corporindo, Suhendro Boroma, mengungkapkan bahwa setelah transaksi tersebut, kepemilikan saham Aksa Mahmud mencapai 49,88 persen, menjadikannya pemegang saham terbesar di perusahaan.
“Posisi Pak Aksa itu hampir 50 persen, tepatnya 49,88 persen,” ungkapnya dalam konferensi pers di Gedung Graha Pena, Jalan Urip Sumoharjo, Makassar, Kamis (23/7).
Konferensi pers tersebut turut dihadiri HM Aksa Mahmud, para pemegang saham PT Fajar Indonesia Corporindo, yakni Andi Syafiuddin Makka dan Syamsul Nur, serta Rektor Universitas Bosowa Prof. Batara Surya.
Ia menjelaskan, transaksi pembelian saham dilakukan atas nama pribadi Aksa Mahmud, bukan melalui Bosowa Corporindo. Menurutnya, keputusan tersebut lebih didorong oleh pertimbangan historis dan kedekatan emosional dengan para pendiri Fajar Group dibanding kepentingan investasi.
“Pembelian saham Jawa Pos dan Ibu Dorothea oleh Pak Aksa dilakukan atas nama pribadi. Pertimbangannya lebih kepada sejarah, hubungan emosional, serta kedekatan beliau dengan almarhum Bapak Alwi Hamu sebagai sesama perintis Fajar. Jadi bukan karena agenda bisnis tertentu,” jelasnya.
Ia menambahkan, selain Aksa Mahmud, komposisi kepemilikan saham perusahaan juga masih diisi oleh ahli waris Chairman Fajar Group almarhum HM Alwi Hamu, HM Jusuf Kalla, Syamsul Nur, Andi Syafiuddin Makka, Zulkifli Gani Otto, dan Fajar Perintis. Namun, rincian kepemilikan masing-masing tidak dipublikasikan karena PT Fajar Indonesia Corporindo masih berstatus perusahaan tertutup.
“Tak bisa disebut satu per satu karena perusahaan ini masih perusahaan tertutup, bukan perusahaan terbuka,” katanya.
Sementara itu, Aksa Mahmud mengaku keputusan membeli saham yang dilepas Jawa Pos dan Dorothea Samola sama sekali tidak masuk dalam rencana bisnis Bosowa sepanjang 2026. Keputusan tersebut diambil setelah mendapat penawaran pembelian saham dengan batas waktu tertentu.
Ia mengungkapkan, sebelum memutuskan membeli, dirinya lebih dahulu menawarkan kesempatan tersebut kepada Komisaris Utama Fajar Group sekaligus putra almarhum Alwi Hamu, Agus Salim. Namun karena belum memungkinkan untuk mengambil alih saham tersebut, Aksa akhirnya memutuskan membeli seluruh saham yang ditawarkan.
“Awalnya saya meminta Agus untuk mengambil saham Jawa Pos, tetapi karena tidak memungkinkan, saya memutuskan maju sendiri. Tujuannya sederhana, agar Fajar tetap berada dalam suasana kekeluargaan dan semangat tiga pendiri tetap terjaga,” ujar Aksa.
Menurutnya, langkah tersebut dilakukan agar kepemilikan perusahaan tidak berpindah ke pihak lain sehingga nilai historis yang telah dibangun sejak awal tetap terpelihara.
“Supaya tetap kita pertahankan trio pendiri daripada Fajar Indonesia Corporindo, itu historisnya. Saya bicara dengan Agus, dia tidak bisa, supaya jangan lepas, saya terpaksa mengambil sahamnya Jawa Pos dan Bu Dorothea Samola,” katanya.
Ia juga mengenang perjalanan awal berdirinya Harian Fajar. Ia mengungkapkan bahwa ketika perusahaan didirikan, dirinya justru menjadi pemegang saham dengan porsi paling kecil dibandingkan Jusuf Kalla dan Alwi Hamu.
“Saya sebenarnya dari tiga berteman, saya paling kecil sahamnya. Saya hanya sekitar 3,75 persen, Pak JK 5,6 persen, sedangkan Pak Alwi yang paling besar,” ungkapnya.
Sejak awal, lanjutnya, dirinya bersama Jusuf Kalla sepakat menyerahkan sepenuhnya pengelolaan Harian Fajar kepada almarhum Alwi Hamu karena dinilai memiliki kapasitas, dedikasi, serta pengalaman yang kuat di dunia jurnalistik.
“Kami bertiga sepakat mendirikan Fajar, tetapi yang mengelola adalah Pak Alwi. Beliau memiliki kelebihan di bidang jurnalistik, rajin menulis, sementara saya dan Pak JK sudah sibuk mengurus perusahaan masing-masing. Karena itu kami percaya penuh kepada beliau,” tuturnya.
Ia juga menceritakan proses awal Fajar menentukan mitra strategis. Saat itu terdapat dua pilihan besar, yakni Kompas Group dan Jawa Pos Group. Setelah melalui berbagai komunikasi dan pertimbangan, ketiga pendiri akhirnya sepakat memilih Jawa Pos sebagai mitra pengembangan perusahaan.
“Kami akhirnya memilih Jawa Pos. Saat itu ada Pak Dahlan Iskan dan kami melihat kerja sama tersebut menjadi pilihan terbaik untuk membangun Fajar,” kenangnya.
Ia menegaskan hubungan antara Jusuf Kalla, Aksa Mahmud, dan almarhum Alwi Hamu sejak awal tidak hanya dibangun atas dasar kepentingan bisnis, melainkan persahabatan yang kemudian melahirkan salah satu kelompok media terbesar di kawasan Indonesia Timur.
Dengan perubahan struktur kepemilikan tersebut, Fajar Group diharapkan tetap mempertahankan independensi perusahaan, mempercepat transformasi di tengah disrupsi industri media, sekaligus melanjutkan visi besar yang telah dirintis tiga pendiri Harian Fajar sejak pertama kali berdiri.
