GOWA, UJUNGJARI.COM — Event Beautiful Malino untuk pelaksanaan tahun 2026 resmi ditunda setelah Pemkab Gowa melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Gowa mengeluarkan surat edaran penundaan event destinasi wisata nasional tersebut awal Juli lalu.
Penundaan event tahunan inipun belum ditentukan kapan akan dilaksanakan lagi sebab belum ada kejelasan dan petunjuk dari Bupati Gowa sementara bulan Juli sebagai jadwal paten pelaksanaan pun segera berakhir.
Karena penundaan ini, seluruh masyarakat baik masyarakat Tinggimoncong selaku tuan rumah pelaksanaan event, masyarakat Gowa dan luar Gowa selaku pengunjung maupun para pelaku usaha UMKM, pengusaha penginapan, homestay, hotel, wisma hingga pengusaha kuliner, rumah makan dan resto, mengeluh.
Keluhan mendasar karena para pelaku usaha berbagai sektor ini telah melakukan persiapan besar. Calon pengunjung pun sudah banyak yang memesan penginapan dan sebagainya hingga membayar uang muka tanda reservasi. Para UMKM pun juga bablas telah mengeluarkan modal besar sebagai persiapan mereka memperbanyak produksi yang akan dijajakan kepada pengunjung.
Kondisi ini pun menjadi ramai dibahas sehingga kian memicu kekhawatiran yang meluas. Hal ini tentu berdampak pada pendapatan pelaku usaha yang semula mampu mencapai omzet besar namun karena ditunda, pemasukan mereka pun anjlok.
Dengan penundaan event inipun jelas berisiko Gowa tidak masuk lagi dalam KEN atau Kalender Event Nusantara. Padahal Kabupaten Gowa sudah menjalankan event BM ini lima tahun. Pada tahun 2025, BM Gowa tak masuk KEN karena penilaian Kementerian Pariwisata ada agenda event BM yang tidak bersyarat masuk KEN. Namun pada tahun 2026 ini, nama event Beautiful Malino Pemkab Gowa kembali masuk daftar KEN, namun sayangnya justru tidak dilaksanakan.
Secara nasional, event BM Gowa terjadwal paten pada bulan Juli pada tanggal 14, 15 dan 16 (atau menyesuaikan waktu weekend).
Miliaran rupiah uang bisa masuk ke Kabupaten Gowa seandainya Event BM terlaksana Juli ini. Namun lagi-lagi sayang, event tak kunjung dilaksanakan.
Banyak persepsi liar yang muncul akibat BM ditunda. Berbagai kalangan menyebutkan bahwa tertundanya pelaksanaan BM kali ini karena situasi pemerintahan di Kabupaten Gowa dalam kondisi kurang baik. Namun hal itu disangkali pihak Pemkab Gowa seperti dinyatakan oleh Kadis Pariwisata dan Kebudayaan Gowa Ary Mahdi Aspari bahwa tahun ini event BM bukan ditiadakan tapi hanya ditunda berhubung kondisi infrastruktur jalan menuju kota Malino (lokasi pelaksanaan BM) tidak mendukung.
Jalanan menuju kota Malino masih dalam proses pekerjaan betonisasi dan pengaspalan yang butuh waktu lama dan pengerjaan itu merupakan ranah Pemerintah Provinsi Sulsel. Dikhawatirkan jika dipaksakan terlaksana maka pengunjung akan terkendala kemacetan jalan dan sudah pasti akan memicu cerita baru dan keluhan panjang.
Calon pengunjung pun ramai-ramai membatalkan reservasi penginapan disertai permintaan refund atau pengembalian dana. Ada juga uang muka reservasi yang hangus karena persyaratannya demikian dari pihak pemilik penginapan.
Bukan main besarnya kerugian masyarakat dan berbagai pihak lainnya, padahal, berdasarkan laporan pemerintah kabupaten kepada DPRD Gowa, event Beautiful Malino ini mampu menghasilkan perputaran ekonomi besar yakni mencapai sekitar Rp11 miliar (capaian penyelenggaraan BM tahun 2025). Uang yang masuk berasal dari belanja wisatawan atau pengunjung baik pada sektor akomodasi, kuliner, transportasi hingga belanja produk UMKM.
Kini pendapatan Rp11 miliar itu hilang di tahun 2026. Ancaman besar lainnya adalah Beautiful Malino berpotensi keluar dari Kalender Event Nasional apabila tidak terselenggara pada tahun berjalan. Dan kemungkinan Gowa akan kembali dari nol jika ingin masuk dalam daftar KEN ini. Sementara proses untuk masuk KEN sangat berat dan ketat. Minimal pemerintah kabupaten harus bisa melaksanakan event ini dulu tiga tahun berturut-turut dan harus konsisten pada jadwal (ketentuan tanggal dan bulan serta agenda event yang ditampilkan).
Bukan hanya itu, juga harus melalui proses seleksi dan evaluasi yang ketat. Pihak KEN akan menilai keeksisan penyelenggaraan, kualitas penyelenggaraan, dampak ekonomi, promosi destinasi dan unsur budaya lokal hingga konsistensi pelaksanaan setiap tahun.
Hal itu dibenarkan Ketua Komisi IV DPRD Gowa Ardiansyah Sabir. Ardiansyah mengaku hingga kini pihaknya belum menerima penjelasan resmi dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Gowa terkait alasan penundaan tersebut.
“Dalam waktu dekat kami akan memanggil Dinas Pariwisata Kebudayaan untuk meminta klarifikasi mengenai kondisi Beautiful Malino ini. Kami butuh penjelasan utuh sebelum menentukan langkah lanjutan. Yang jelas semakin lama ketidakpastian berlangsung, semakin besar pula dampak ekonomi yang dirasakan masyarakat. Padahal event ini telah menjadi agenda tahunan yang ditunggu-tunggu masyarakat Gowa, ” jelas Ardiansyah saat ditemui di kantornya, Kamis (23/7).
Legislator Partai Demokrat ini menyebutkan bahwa event Beautiful Malino bukan sekadar hiburan tapi menjadi sumber penghasilan bagi para pelaku usaha baik kecil maupun menengah di kawasan wisata Malino.
“Yah, dampaknya sangat luas, terutama bagi pelaku UMKM, pemilik vila, penginapan, restoran, hingga masyarakat yang selama ini menikmati efek ekonomi dari Beautiful Malino. Tentunya saat ini keluhan itu mengalir dari masyarakat tidak secara langsung tapi juga melalui media sosial. Saya termasuk salah satu calon pengunjung yang sudah melakukan reservasi penginapan untuk keluarga saya. Iya istri saya sudah membayar tanda jadi namun BM ditunda, ” ungkap Ardiansyah tertawa.
Menurut Ardiansyah, komisinya akan berupaya mendorong agar event tersebut tetap dapat dilaksanakan dan eventnya dilaksanakan jauh lebih baik lagi.
“Kami akan komunikasikan dengan dinas terkait agar Beautiful Malino ini bisa dimaksimalkan pelaksanaannya. Harapan kami tentu tetap bisa digelar karena dampaknya langsung dirasakan masyarakat,” tambahnya.
Ardiansyah mengingatkan ancaman keluarnya Beautiful Malino dari Kalender Event Nasional apabila tidak terselenggara tahun ini. Karena itu, persoalan tersebut akan dibahas lebih serius DPRD bersama Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Gowa.
“Sangat disayangkan jika event yang sudah menjadi event tahun keenam akhirnya hilang. Insya Allah kami akan memaksimalkan agar Beautiful Malino tetap bisa dipeetahankan dan dilaksanakan. Kami mengimbau masyarakat khusus para pelaku usaha di Malino dan sekitarnya untuk sabar menunggu kepastian resmi pelaksanaan BM ini dari Pemkab Gowa. DPRD akan menindaklanjuti segera,” imbuhnya.
Terkait anggaran BM kata Ardiansyah pada APBD TA 2026 ini anggaran event tersebut dihilangkan. Menurut informasi dari pemerintah kabupaten, sengaja dihilangkan karena pengelolaan atau pelaksanaannya akan dipihakketigakan (sepenuhnya dibiayai oleh swasta).
“Kami baru mendengar alasan anggaran BM ditiadakan dalam APBD tahun ini karena akan dipihakketigakan. Kami ingin tahu apa pertimbangannya sehingga mesti diswakelolakan ke pihak ketiga dan bagaimana sistem kelolanya. Sebab BM sebelumnya tetap dianggarkan Pemkab sebesar Rp1 miliar dan pelaksanaannya tetap melalui EO (perusahaan swasta). Itu yang harus dijelaskan detil Pemkab, ” terang Ardiansyah.
Menurut Ardiansyah, jika akhirnya BM batal digelar tahun ini bukan hanya potensi perputaran ekonomi miliaran rupiah yang hilang tapi juga peluang promosi pariwisata Kabupaten Gowa di tingkat nasional serta keberlangsungan BM sebagai salah satu ikon pariwisata Sulawesi Selatan, akan hilang.
Hal senada disampaikan anggota Komisi II DPRD Gowa yakni Muhammad Kasim Sila. Menurut legislator PAN ini, dampak penundaan BM jauh lebih besar dibanding sekadar batalnya sebuah agenda wisata.
Padahal kata Kasim, event tersebut merupakan salah satu penggerak utama ekonomi masyarakat Malino secara khusus dan Kabupaten Gowa secara umum.
“Jika Beautiful Malino, wisatawan pasti membludak datang ke Kabupaten Gowa membawa uangnya masuk ke Gowa. Itu yang kemudian berputar di masyarakat. Jika event ini hilang maka merugikan pelaku usaha kecil dan menengah. Saya hanya melihat dari sisi pemberdayaan UMKM dan pelaku usaha kecil lainnya. Pada dasarnya sih kami DPRD sendiri tidak memahami alasan penundaan karena seluruh kebijakan penyelenggaraan memang adalah ranah pemerintah kabupaten, ” jelas Kasim.
Hanya Ditunda Bukan Dihilangkan
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Gowa Ary Mahdi Aspari yang dikonfirmasi ujungjari.com, Jumat (24/7) siang di kantornya menjelaskan bahwa event BM tidak dihilangkan tapi hanya ditunda.
Penundaan ini dilakukan karena alasan infrastruktur jalan ke lokasi dan soal EO yang akan menyelenggarakan belum memasukkan proposalnya.
“Iya, event ini tidak dihilangkan tapi hanya ditunda karena persoalan jalanan masih dalam perbaikan dan perbaikan itu masuk kewenangan Pemprov. Selain itu, EO (Event Organizer) yang akan menyelenggarakan belum memasukkan proposalnya. Proposal itu harus masuk pada Juni kemarin. Nah, akhirnya kan kementerian mempertanyakan, kenapa sampai hari detik ini belum ada proposal perusahaan penyelenggara. Jadi, kita masih menunggu semua. Mungkin pertimbangan-pertimbangan lainnya bagaimana kekuatan-kekuatan pihak EO untuk melaksanakan event itu sendiri, bagaimana kesiapan pemerintah kabupaten juga, bagaimana kesiapan dari pihak keamanan sebab itu paling utama juga. Selain itu untuk soal waktu pelaksanaan kami masih menunggu petunjuk ibu bupati. Yang jelas pelaksanaannya kami upayakan dilaksanakan dalam tahun ini juga, ” kata Ary.
Kadis Parbud Gowa juga mengatakan jika harus dipaksakan digelar Juli ini sudah sangat tidak bisa sebab butuh persiapan. Selain itu, pihaknya juga mencoba mengecek kondisi infrastruktur dan menghitung jarak tempuh dari kota Sungguminasa ke kota Malino selama perbaikan jalan, maka waktunya masih sangat lamban.
Jarak tempuh dalam kondisi jalan diperbaiki masih menampakkan kondisi macet dan perjalanan lambat.
“Secara berkala setiap minggu kami melakukan perjalanan ke Malino hanya untuk mengecek kondisi dan situasi aktivitas pengunjung Malino sambil kami menghitung berapa lama jarak tempuh ke Malino selama jalanan masih dalam proses perbaikan. Ternyata jarak tempuh masih belum bisa stabil satu jam-an, rerata jarak tempuh masih dua jam lebih bahkan hingga tiga jam karena terkendala pengaturan arus lalulintas padat dan macet. Inilah salah satu faktor kenapa BM harus ditunda dulu, ” jelas Ary.
Diapun menjawab sedikit keraguan pihak DPRD yang menilai event Gowa ini bisa hilang dari daftar KEN.
“Tidak seperti itu. Meski kita belum sempat melaksanakan Juli ini atau pun tahun ini, event BM tidak akan hilang dalam daftar KEN. Tetap terdaftar, cuma untuk pelaksanaan kalender wisata nya kita tidak berjalan, ” kata Kadis.
Terkait Pemkab mencoba mengalihkan ke pihak ketiga dan menghilangkan anggarannya, menurut Ary, karena Pemkab mau coba full pembiayaan dari EO. Jadi tidak dibackup lagi anggaran daerah.
“Kita ingin, bagaimana caranya event itu bisa terlaksana dan bisa meningkatkan PAD tanpa menggunakan anggaran daerah. Itu yang mau dicoba. Jadi Pemkab tinggal menerima saja. Jadi ada pemasukan untuk pemerintah kabupaten. Itu tujuan sebenarnya. Kalau selama ini kan digelontorkan terus anggaran untuk BM, kenapa tidak dicoba dengan model lain dengan mempihakketigakan. Namun jika ke depannya itu berat dilakukan oleh EO maka kita kembalikan lagi ke posisi sebelumnya, dianggarkan di APBD, ” papar Ary. –
