MAKASSAR, UJUNGJARI – Dosen Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Negeri Makassar (UNM), Prof. Dr. Erma Suryani Sahabuddin, M.Si, resmi menyampaikan pidato pengukuhan sebagai Guru Besar dalam Bidang Pendidikan Lingkungan Hidup pada Sidang Terbuka Luar Biasa Senat Universitas Negeri Makassar, Kamis (30/7/2026).
Dalam pidato ilmiahnya yang berjudul “Ekopedagogi Digital dan Transformasi Kesadaran Ekologis untuk Membangun Generasi Berkelanjutan”, Prof. Erma menegaskan bahwa tantangan lingkungan hidup saat ini tidak cukup dijawab hanya dengan kemajuan teknologi, tetapi membutuhkan transformasi cara pandang dan kesadaran manusia terhadap keberlanjutan bumi.
Di hadapan pimpinan universitas, anggota senat, sivitas akademika, mahasiswa, serta para tamu undangan, Prof. Erma menyampaikan bahwa jabatan profesor bukanlah akhir dari perjalanan akademik, melainkan amanah intelektual sekaligus tanggung jawab moral untuk menghadirkan ilmu pengetahuan yang berpihak pada kehidupan dan masa depan peradaban.
“Guru Besar bukan sekadar pengakuan atas capaian ilmiah, tetapi panggilan untuk menjaga martabat ilmu pengetahuan agar tetap berpihak pada kehidupan, kemanusiaan, dan masa depan peradaban,” ungkapnya.
Dalam pidatonya, ia menggambarkan ironi zaman modern. Di satu sisi, perkembangan teknologi digital berlangsung sangat pesat, namun di sisi lain kerusakan lingkungan terus meningkat. Hutan kehilangan ruang hidup, sungai tercemar, laut dipenuhi sampah, dan manusia perlahan kehilangan kedekatan dengan alam.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi kegelisahan akademik yang telah lama mendasari perjalanan riset dan pengabdiannya di bidang pendidikan lingkungan hidup.
Prof. Erma mengungkapkan, kegelisahan itu tidak hanya lahir dari teori dan hasil penelitian, tetapi juga dari pengalaman langsung saat mendampingi mahasiswa dan masyarakat di berbagai wilayah, mulai dari kawasan pesisir, sekolah hingga lingkungan permukiman yang menghadapi berbagai persoalan ekologis.
“Dari pengalaman itu saya melihat bahwa kerusakan lingkungan sering berjalan beriringan dengan melemahnya kesadaran manusia terhadap makna keberlanjutan,” ujarnya.
Kondisi tersebut kemudian melahirkan pertanyaan mendasar yang menjadi titik tolak pengembangan gagasan akademiknya, yakni apakah sistem pendidikan selama ini benar-benar mampu membangun kesadaran ekologis peserta didik.
Berangkat dari refleksi tersebut, Prof. Erma menilai Pendidikan Lingkungan Hidup tidak cukup hanya menyampaikan konsep-konsep konservasi. Pendidikan harus mampu membangun empati ekologis, membentuk karakter, serta menumbuhkan tanggung jawab moral manusia terhadap alam.
Sebagai jawaban atas tantangan tersebut, Prof. Erma memperkenalkan konsep Ekopedagogi Digital, sebuah pendekatan pendidikan yang mengintegrasikan teknologi digital dengan pengalaman ekologis, refleksi kemanusiaan, dan nilai-nilai keberlanjutan.
Menurutnya, teknologi seharusnya tidak hanya menjadi sarana penyebaran informasi, tetapi juga menjadi media yang mampu membangun kesadaran, menggerakkan aksi nyata, dan membentuk generasi yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan.
Melalui konsep tersebut, Prof. Erma berharap lahir generasi yang tidak hanya cakap memanfaatkan teknologi digital, tetapi juga memiliki karakter ekologis yang kuat sehingga mampu menjadi bagian dari solusi atas berbagai persoalan lingkungan di masa depan.
Pidato pengukuhan tersebut sekaligus menegaskan komitmen akademik Universitas Negeri Makassar dalam mengembangkan inovasi pendidikan yang adaptif terhadap perkembangan teknologi tanpa mengabaikan tanggung jawab terhadap kelestarian lingkungan dan pembangunan berkelanjutan.
