PANGKEP, UJUNGJARI.COM – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Universitas Hasanuddin (UNHAS) Gelombang 116 menghadirkan inovasi Lubang Resapan Biopori di Kelurahan Bori Appaka, Kecamatan Bungoro, Kabupaten Pangkep.
Program yang berlangsung pada 19–23 Juli 2026 ini menjadi solusi sederhana untuk mengatasi persoalan sampah organik sekaligus mengurangi genangan air di lingkungan permukiman warga.
Program tersebut diprakarsai oleh Ahmad Rifaldi dan Lailah Zaahirah bersama tim KKN-T dengan membuat delapan lubang resapan biopori berdiameter 4 sentimeter dan kedalaman 50 sentimeter di sejumlah halaman rumah warga.
Ahmad Rifaldi menjelaskan, Lubang Resapan Biopori merupakan metode sederhana yang dapat diterapkan masyarakat untuk menjaga kelestarian lingkungan.
Sampah organik seperti dedaunan dan limbah dapur dimasukkan ke dalam lubang tersebut agar terurai secara alami menjadi kompos yang bermanfaat bagi kesuburan tanaman.
“Selain mengolah sampah organik, biopori juga mampu mempercepat penyerapan air hujan ke dalam tanah sehingga dapat mengurangi genangan air dan meminimalkan risiko banjir,” ujar Rifaldi.
Ia menambahkan, ide pembuatan biopori muncul setelah tim KKN melakukan observasi di Kelurahan Bori Appaka. Hasil pengamatan menunjukkan banyak rumah warga memiliki pohon dengan tumpukan daun yang selama ini lebih sering dibakar pada sore hari.
“Untuk mengurangi sampah organik sekaligus menjaga kualitas udara, kami menilai pembuatan Lubang Resapan Biopori sangat tepat diterapkan di Kelurahan Bori Appaka,” katanya.
Selama proses pembuatan, mahasiswa KKN juga melibatkan masyarakat secara langsung dalam menggali lubang. Kegiatan ini bertujuan memberikan pemahaman kepada warga mengenai teknik pembuatan biopori sehingga mereka dapat membuatnya secara mandiri di lingkungan masing-masing.
Sementara itu, Lailah Zaahirah mengatakan pembuatan biopori tidak memerlukan biaya besar dan dapat diterapkan di berbagai lokasi, seperti halaman rumah, sekolah, perkantoran, taman, hingga fasilitas umum.
Menurutnya, agar manfaat biopori tetap optimal, lubang perlu dirawat dengan menambahkan sampah organik secara berkala serta membersihkan bagian atas lubang agar tidak tersumbat.
“Melalui penerapan Lubang Resapan Biopori, setiap masyarakat dapat berperan menjaga lingkungan. Meski sederhana, biopori memiliki banyak manfaat, mulai dari mengurangi genangan air, mengolah sampah menjadi kompos, hingga menciptakan lingkungan yang lebih bersih, hijau, dan sehat,” tutur Lailah.
Ia berharap inovasi tersebut dapat menjadi langkah kecil yang memberikan dampak besar bagi kelestarian lingkungan di masa depan.
Melalui program KKN Tematik Gelombang 116 ini, mahasiswa UNHAS menargetkan inovasi biopori dapat menjadi contoh praktik baik pengelolaan lingkungan berbasis masyarakat.
Dengan keterlibatan aktif warga, program tersebut diharapkan terus berlanjut dan memberikan manfaat jangka panjang meski masa pengabdian mahasiswa telah berakhir. (Daus)
