MAKASSAR,UJUNGJARI.COM–Satu lagi capaian membanggakan ditorehkan Universitas Negeri Makassar (UNM). Di bidang akademik, kampus ini menjadi rujukan pembelajaran transformatif (transformative learning) dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek).
Wakil Rektor bidang akademik UNM Makassar, Prof Dr Andi Aslinda mengatakan selain menjadi penyelenggara Pelatihan Fasilitator Pembelajaran Transformatif Kemdiktisaintek, UNM juga dipercaya menjadi salah satu pilot project nasional dalam pengembangan dan implementasi program tersebut.
“Ini bukti bahwa kualitas sumber daya manusia dan kapasitas kelembagaan UNM dinilai mampu mendukung agenda transformasi pembelajaran secara nasional,” kata mantan Wakil Dekan II FISH UNM itu usai penutupan Pelatihan Fasilitator Pembelajaran Transformatif yang berlangsung di Hotel Four Points by Sheraton Makassar, Kamis (30/7/2026).
Pakar kebijakan publik itu mengatakan penunjukan UNM sebagai penyelenggara sekaligus bagian dari pilot project nasional bukan proses yang mudah. Alasannya, perguruan tinggi yang terlibat harus melalui tahapan seleksi, baik dari sisi kelayakan program maupun kesiapan sumber daya manusia.
“Program ini tidak gampang diperoleh. Ini sangat penting untuk peningkatan kapasitas dosen dalam pembelajaran transformatif. Dari awal memang melalui proses seleksi yang ketat,” ujar mantan Sekretaris Prodi Administrasi Bisnis UNM Makassar itu.
Di Indonesia, kata dia, sejak pertama kali program ini diluncurkan, hanya dua perguruan tinggi yang mendapat kepercayaan untuk menjalankannya. Dan UNM Makassar menjadi salah satu kampus yang dinilai memenuhi persyaratan dan memiliki kapasitas untuk melaksanakan program tersebut.
Kepercayaan itu kemudian berlanjut pada tahun berikutnya. Menurut Prof Andi Aslinda, kembali ditunjuknya UNM sebagai penyelenggara menjadi indikator bahwa kualitas pelaksanaan program dan sumber daya manusia yang dimiliki kampus mendapat pengakuan dari kementerian.
“Kalau kualitas penyelenggaraan dan SDM kami tidak bagus pada tahun sebelumnya, tentu kami tidak akan kembali dipercaya. Jadi ini menunjukkan kualitas UNM diakui,” katanya.
Namun, peran UNM dalam program pembelajaran transformatif tidak berhenti pada pelaksanaan pelatihan. Kampus yang dikenal sebagai salah satu perguruan tinggi besar di kawasan timur Indonesia itu juga ikut berkontribusi dalam pengembangan materi pembelajaran transformatif yang akan digunakan secara lebih luas.
Di samping bimtek, UNM Makassar juga terlibat dalam penyusunan modul pembelajaran transformatif yang nantinya menjadi salah satu bahan rujukan untuk meningkatkan kompetensi dosen di berbagai perguruan tinggi di Indonesia.
“UNM bukan hanya melatih, tetapi juga menyusun modulnya. Nantinya modul itu digunakan untuk melatih dosen-dosen di perguruan tinggi lain di seluruh Indonesia,” ungkapnya.
Menurutnya, keterlibatan tersebut memberikan nilai strategis bagi UNM. Sebab, dosen-dosen yang telah mengikuti program pembelajaran transformatif tidak hanya memperoleh peningkatan kompetensi untuk diterapkan di lingkungan kampus sendiri, tetapi juga dipersiapkan menjadi fasilitator yang dapat berbagi pengetahuan dengan perguruan tinggi lain.
Dengan demikian, kapasitas yang dibangun melalui program tersebut diharapkan dapat memberikan efek berantai. Dosen UNM yang telah memiliki kompetensi sebagai fasilitator dapat ditugaskan untuk mendampingi perguruan tinggi lain dalam mengembangkan model pembelajaran yang lebih adaptif dan berpusat pada mahasiswa.
Sementara itu, Plt Rektor UNM, Prof Farida Patittingi, menilai penunjukan kembali UNM oleh Direktorat Strategi dan Sistem Pembelajaran Transformatif (SSPT) Kemendiktisaintek menunjukkan adanya pengakuan terhadap kapasitas UNM dalam mendukung transformasi pembelajaran di perguruan tinggi.
Dalam sambutannya saat membuka kegiatan, Prof Farida mengatakan UNM tahun ini kembali dipercaya menjadi salah satu dari tiga perguruan tinggi penyelenggara Pelatihan Fasilitator Pembelajaran Transformatif di Indonesia.
“Kepercayaan ini merupakan amanah yang sangat berarti bagi Universitas Negeri Makassar untuk terus berkontribusi dalam mendukung transformasi pembelajaran di perguruan tinggi Indonesia,” ujar Prof Farida.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Direktorat SSPT Kemendiktisaintek atas kepercayaan yang kembali diberikan kepada UNM. Para peserta juga didorong memanfaatkan pelatihan tersebut untuk memperkuat kompetensi sekaligus membangun jejaring kolaborasi antarperguruan tinggi.
Selain UNM, dua perguruan tinggi lainnya yang ditunjuk sebagai penyelenggara adalah Universitas Negeri Malang (UM) dan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung.
