Site icon Ujung Jari

Ekspor Udang BOMAR Tembus 859 Ton, Karding: Indonesia Bisa Jadi Pemain Nomor Satu Dunia

MAKASSAR, UJUNGJARI.COM – Keberhasilan udang Indonesia menembus pasar internasional tidak hanya ditentukan oleh kualitas produk, tetapi juga oleh sistem karantina yang memastikan setiap komoditas memenuhi persyaratan kesehatan, keamanan, mutu, dan ketertelusuran sesuai standar negara tujuan.

Untuk memastikan sistem tersebut berjalan optimal, Kepala Badan Karantina Indonesia (Barantin) Abdul Kadir Karding meninjau langsung implementasi pelayanan karantina di PT Bogatama Marinusa (BOMAR), salah satu eksportir seafood di Sulawesi Selatan yang secara konsisten memasok produk udang ke berbagai negara.

Kunjungan tersebut dilakukan di fasilitas PT BOMAR, Makassar, Jumat (7/8/2026).

Karding meninjau langsung proses pengolahan udang ekspor, mulai dari breaded process hingga packing.

Peninjauan itu sekaligus untuk melihat penerapan sistem jaminan kesehatan komoditas, standar sanitasi, keamanan pangan, hingga efektivitas pelayanan sertifikasi ekspor yang menjadi salah satu prasyarat dalam perdagangan internasional.

Karding menilai PT BOMAR telah menerapkan standar produksi yang sangat tinggi dan berpotensi menjadi bagian penting dalam pengembangan industri udang nasional.

“BOMAR merupakan salah satu perusahaan yang ada di Sulawesi Selatan, tepatnya di Makassar. Perusahaan perikanan yang bergerak dalam budidaya atau membangun ekosistem udang yang saya datangi hari ini untuk melihat dan mendapatkan gambaran bahwa sebenarnya Indonesia ini bisa menjadi pemain udang nomor satu di dunia,” ujar Karding.

Menurutnya, pengelolaan udang secara terintegrasi dengan standar yang tinggi dapat menjadi kekuatan Indonesia untuk meningkatkan daya saing di pasar global.

“Kalau udangnya ini dikelola dengan tepat, apa yang ada di BOMAR ini merupakan suatu ekosistem dengan standar yang sangat tinggi,” lanjutnya.

Karding menegaskan, Barantin memiliki tugas memastikan komoditas perikanan yang keluar maupun masuk wilayah Indonesia, termasuk untuk perdagangan antarwilayah dan antarnegara, memenuhi persyaratan kesehatan dan mutu.

“Jadi, standar yang telah diterapkan oleh BOMAR seperti ini memang standar ekspor dunia. Tugas kami memastikan bahwa semua udang atau perikanan, komoditas perikanan yang keluar, masuk, baik antarpulau maupun antarnegara itu harus betul-betul sehat, mutunya terjaga, kualitasnya terjaga,” katanya.

Layanan Karantina Jadi Bagian Penting Ekspor

CEO PT BOMAR Tigor Chendarma mengatakan, layanan karantina telah menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan ekspor perusahaan.

Menurutnya, kepastian layanan yang cepat dan kredibel membantu perusahaan memenuhi standar perdagangan internasional sekaligus mempertahankan kepercayaan mitra dagang di luar negeri.

“Layanan karantina bukan sekadar persyaratan administrasi, tetapi menjadi bagian penting dalam memastikan setiap produk yang kami kirim telah memenuhi standar kesehatan dan keamanan yang dipersyaratkan negara tujuan,” ujar Tigor.

Ia menambahkan, kepastian pelayanan karantina juga memberikan dukungan terhadap kelancaran proses ekspor.

“Kepastian layanan yang cepat dan kredibel sangat membantu kami menjaga kelancaran ekspor serta mempertahankan kepercayaan mitra dagang di luar negeri,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Karantina Sulawesi Selatan Sitti Chadidjah mengungkapkan, pelayanan karantina memiliki peran strategis dalam menjaga kelancaran ekspor berbagai komoditas dari Sulawesi Selatan.

Setiap komoditas yang akan dikirim ke luar negeri, kata dia, harus dipastikan memenuhi persyaratan kesehatan dan teknis sesuai ketentuan negara tujuan sebelum sertifikat karantina diterbitkan.

“Komitmen kami adalah memastikan setiap komoditas yang diekspor telah memenuhi seluruh persyaratan karantina sehingga dapat diterima negara tujuan tanpa hambatan,” ungkapnya.

Di sisi lain, Karantina Sulsel terus melakukan peningkatan kualitas pelayanan agar proses pemeriksaan dan sertifikasi dapat berlangsung cepat, akurat, serta memberikan kepastian kepada pelaku usaha.

Ekspor BOMAR Capai 859,4 Ton

Sitti Chadidjah menjelaskan, sepanjang Semester I 2026, PT BOMAR telah mengekspor 859,4 ton udang dengan nilai mencapai Rp148,2 miliar.

Volume ekspor tersebut terdiri atas 765.132 kilogram udang vaname dengan nilai sekitar Rp122,5 miliar, serta 94.292 kilogram udang windu senilai sekitar Rp25,7 miliar.

Seluruh komoditas tersebut telah melalui tindakan karantina dan diterbitkan sebanyak 69 sertifikat karantina sebagai persyaratan ekspor ke sejumlah negara tujuan.

Beberapa negara tujuan ekspor udang PT BOMAR di antaranya Jepang, Vietnam, dan Tiongkok.

Data tersebut menunjukkan besarnya kontribusi komoditas udang terhadap aktivitas ekspor perikanan Sulawesi Selatan sekaligus pentingnya dukungan sistem karantina yang mampu memberikan jaminan mutu dan kesehatan produk.

Kunjungan kerja Kepala Barantin tersebut turut didampingi Tenaga Ahli Utama Barantin dan Inspektur Barantin.

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat sinergi antara pemerintah dan pelaku usaha dalam memastikan kelancaran ekspor, sekaligus mendorong peningkatan daya saing komoditas perikanan Indonesia di pasar internasional. (rhm)

Exit mobile version