Site icon Ujung Jari

Kongres Perdana MGBKGI di Unhas Soroti Ketimpangan Layanan, Ruslin Dorong Transformasi Kedokteran Gigi

MAKASSAR,UJUNGJARI.COM – Kongres Nasional Perdana Majelis Guru Besar Kedokteran Gigi Indonesia (MGBKGI) di Universitas Hasanuddin, Makassar, Jumat, 7 Agustus 2026, menyoroti ketimpangan layanan kesehatan gigi, distribusi dokter yang belum merata, serta lambatnya pemanfaatan riset di tengah laju kecerdasan artifisial dan teknologi digital.

Forum yang menghimpun 60 guru besar dari 18 institusi pendidikan kedokteran gigi di Indonesia itu juga mendorong transformasi pendidikan dan profesi kedokteran gigi dari hulu ke hilir.

Ketua MGBKGI Prof drg Muhammad Ruslin menyatakan dunia pendidikan kedokteran gigi di Indonesia dituntut bergerak cepat agar semakin kompeten dan kompetitif, termasuk lewat penguatan kurikulum, hilirisasi riset, dan kolaborasi lintas lembaga.

Ruslin mengatakan ekosistem lama tidak bisa terus dipertahankan jika perguruan tinggi ingin melahirkan lompatan besar bagi kemajuan bangsa.

“Sebab bila ekosistem selama ini terus berlangsung, jangan heran bila kita makin sering menjadi pengguna hasil riset negara lain daripada penciptanya. Universitas memang tetap ramai. Wisuda tetap meriah. Tetapi laboratorium bisa semakin sepi dan sulit lahir lompatan besar bagi kemajuan bangsa,” kata Ruslin.

Ia menilai guru besar memiliki tanggung jawab strategis untuk membina dosen muda menuju publikasi ilmiah dan paten, membuka jejaring riset internasional bagi mahasiswa, serta memperkuat budaya research to impact di lingkungan departemen.

Menurut dia, peran itu juga mencakup perluasan internasionalisasi kampus melalui peningkatan visibilitas publikasi ilmiah, visiting professorship, dan kolaborasi riset lintas negara.

“Guru besar adalah pemimpin di era digital. Di tengah disrupsi teknologi, perguruan tinggi harus mampu menghadirkan ruang yang mendorong sivitas akademika terus berinovasi. Forum MGBKGI membuka peluang memperluas kolaborasi dengan pemerintah, industri, dan berbagai mitra strategis,” ujar Ruslin.

Dalam panel ilmiah kongres, Prof drg Suryono juga mengingatkan masih adanya persoalan mendasar, mulai dari distribusi dokter gigi dan dokter gigi spesialis yang belum merata hingga akses layanan yang terbatas akibat pembiayaan dan kondisi geografis, terutama di wilayah 3T.

Ia juga menyoroti standar sarana dan prasarana fasilitas pelayanan kesehatan yang belum sepenuhnya merata, sementara sebagian besar material dan peralatan kedokteran gigi masih bergantung pada produk impor.

Ruslin menambahkan perkembangan teknologi justru membuka peluang baru bagi sektor ini, termasuk lewat adaptasi kecerdasan artifisial, 3D printing, dan teledentistry dalam pengembangan kurikulum pendidikan kedokteran gigi.

Ia menilai forum MGBKGI perlu ikut merumuskan target riset prioritas, kebutuhan pembiayaan, serta arah pengembangan kurikulum yang adaptif agar fakultas kedokteran gigi dapat menopang terwujudnya universitas riset.

Exit mobile version