Site icon Ujung Jari

Mahasiswi KKN Unhas Ciptakan Solusi Penangan Sampah

MAKASSAR, UJUNGJARI.COM — Seorang mahasiswi bernama A Walimatussadiyah Mansur ternyata punya bakat keren. Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Gelombang 116 Universitas Hasanuddin
dari Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota ini mampu menciptakan solusi penanganan sampah.

Alatnya sederhana, namun diyakini mampu mengurangi volume sampah di Makassar. Walimatussadiyah pun mulai memperagakan sekaligus memperkenalkan hasil karyanya itu di Kelurahan Paccerakkang, Kecamatan Biringkanaya, Kota Makassar, pada Jumat (31/7) lalu.

Kepada masyarakat Paccerakkang, mahasiswi KKN ini mengatakan dirinya melaksanakan program kerja individu berupa pembuatan dan sosialisasi alat bottle press (pengepres botol plastik). Kepada para ketua RT dan RW di Paccerakkang, Walimatussadiyah mensosialisasikan hasil kerjanya.

Menurut dia, program ini digagas sebagai respons atas tingginya volume sampah plastik di Kota Makassar, yang menurut data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menyumbang sekitar 19,64 persen dari total komposisi sampah nasional pada 2024.

Di tingkat lokal, Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Tamangapa bahkan telah mengalami kelebihan kapasitas sejak 2019, sementara implementasi Peraturan Wali Kota Makassar Nomor 21 Tahun 2023 tentang pelarangan kantong plastik di Paccerakkang dinilai belum berjalan optimal.

“Alat bottle press manual berbahan kayu dengan sistem pengungkit (lever press) dirancang untuk memadatkan botol plastik berkapasitas 600 ml hingga 1.500 ml. Alat ini dipilih karena konstruksinya sederhana, “Respons terhadap program ini sangat positif. Antusiasme tersebut tidak lepas dari fakta bahwa program ini memang lahir dari keresahan warga sendiri, yang selama ini mengeluhkan sampah botol plastik yang menggelembung dan banyak memakan ruang penyimpanan,” katanya.

Diakuinya, cara ini membebani biaya operasional pengangkutan sampah menuju bank sampah maupun TPS.

Walimatussyah berharap masyarakat Paccerakkang semakin mudah memilah dan menempatkan sampah botol plastik dari sumbernya, sehingga turut memperpanjang. –

MAKASSAR, UJUNGJARI.COM — Seorang mahasiswi bernama A Walimatussadiyah Mansur ternyata punya bakat keren. Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Gelombang 116 Universitas Hasanuddin
dari Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota ini mampu menciptakan solusi penanganan sampah.

Alatnya sederhana, namun diyakini mampu mengurangi volume sampah di Makassar. Walimatussadiyah pun mulai memperagakan sekaligus memperkenalkan hasil karyanya itu di Kelurahan Paccerakkang, Kecamatan Biringkanaya, Kota Makassar, pada Jumat (31/7) lalu.

Kepada masyarakat Paccerakkang, mahasiswi KKN ini mengatakan dirinya
melaksanakan program kerja individu berupa pembuatan dan sosialisasi alat bottle press (pengepres botol plastik). Kepada para ketua RT dan RW di Paccerakkang, Walimatussadiyah mensosialisasikan hasil kerjanya.

Menurut dia, program ini digagas sebagai respons atas tingginya volume sampah plastik di Kota Makassar, yang menurut data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menyumbang sekitar 19,64 persen dari total komposisi sampah nasional pada 2024.

Di tingkat lokal, Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Tamangapa bahkan telah mengalami kelebihan kapasitas sejak 2019, sementara implementasi Peraturan Wali Kota Makassar Nomor 21 Tahun 2023 tentang pelarangan kantong plastik di Paccerakkang dinilai belum berjalan optimal.

“Alat bottle press manual berbahan kayu dengan sistem pengungkit (lever press) dirancang untuk memadatkan botol plastik berkapasitas 600 ml hingga 1.500 ml. Alat ini dipilih karena konstruksinya sederhana, tidak memerlukan listrik, murah dan mudah direplikasi oleh masyarakat maupun kader lingkungan, ” kata Walimatussadiyah.

Pada kesempatan itu, Walimatussadya mendemonstrasikan cara kerja alat, yang kemudian dipraktikkan langsung oleh peserta yang hadir.

“Respons terhadap program ini sangat positif. Antusiasme tersebut tidak lepas dari fakta bahwa program ini memang lahir dari keresahan warga sendiri, yang selama ini mengeluhkan sampah botol plastik yang menggelembung dan banyak memakan ruang penyimpanan,” katanya.

Diakuinya, cara ini membebani biaya operasional pengangkutan sampah menuju bank sampah maupun TPS.

Walimatussyah berharap masyarakat Paccerakkang semakin mudah memilah dan menempatkan sampah botol plastik dari sumbernya, sehingga turut memperpanjang. –

Exit mobile version