MAKASSAR, UJUNGARI – Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Makassar (FIP UNM) melalui Program Studi Bimbingan dan Konseling (BK) bersiap menyambut sekitar 50 mahasiswa baru Program Magister (S2) dan Program Doktor (S3) Bimbingan dan Konseling tahun akademik 2026.
Para mahasiswa baru tersebut dijadwalkan mengikuti kegiatan penyambutan pada Jumat, 14 Agustus 2026, di Gedung Convention Hall FIP UNM. Mereka akan diterima secara resmi oleh Dekan FIP UNM sebagai bagian dari keluarga akademik di lingkungan fakultas.
Kegiatan penyambutan ini tidak sekadar menjadi agenda seremonial. Momentum tersebut sekaligus menjadi pintu masuk bagi mahasiswa untuk mengenal lingkungan akademik, sistem pembelajaran, serta kultur keilmuan yang akan mereka hadapi pada jenjang magister dan doktoral.
Ketua Program Studi S2 dan S3 Bimbingan dan Konseling UNM, Dr. Sahril Buchori, M.Pd., mengatakan mahasiswa pascasarjana perlu memahami sejak awal bahwa kultur akademik pada jenjang magister dan doktoral memiliki tuntutan yang berbeda dibandingkan pendidikan pada jenjang sebelumnya.
“Mahasiswa baru akan kita sambut sebagai bagian dari keluarga akademik Bimbingan dan Konseling FIP UNM. Ini menjadi awal bagi mereka untuk mengenal iklim akademik kampus pada jenjang magister dan doktoral, termasuk budaya akademik, kurikulum, pola perkuliahan, penelitian, publikasi, serta tanggung jawab sebagai mahasiswa pascasarjana,” ujar Sahril, Senin (10/8/2026).
Menurutnya, mahasiswa pascasarjana dituntut memiliki kemandirian akademik, kemampuan membaca secara kritis, keberanian berdiskusi, serta kecakapan membangun argumentasi berdasarkan kajian ilmiah.
Jika pada jenjang pendidikan sebelumnya proses pembelajaran lebih banyak berpusat pada penyampaian materi di ruang kelas, maka pada jenjang magister dan doktoral mahasiswa dituntut mengambil peran yang jauh lebih aktif dalam proses akademik.
Pada jenjang S2, misalnya, mahasiswa akan banyak bersentuhan dengan kajian literatur, diskusi akademik, presentasi, analisis kasus, pengembangan proyek, penulisan ilmiah hingga penelitian. Pemahaman teori tidak lagi cukup. Mahasiswa juga harus mampu menghubungkan teori dengan berbagai persoalan nyata dalam praktik Bimbingan dan Konseling.
Sementara pada jenjang doktoral, tuntutan akademiknya semakin tinggi. Mahasiswa diarahkan untuk memperdalam teori, mengkaji secara kritis penelitian terdahulu, mengikuti seminar akademik, mengembangkan gagasan ilmiah, melakukan penelitian mandiri, serta menghasilkan pengetahuan baru melalui disertasi dan publikasi ilmiah.
“Di jenjang pascasarjana, dosen bukan satu-satunya sumber pengetahuan. Mahasiswa harus datang dengan hasil bacaan, membawa gagasan, mengkritisi teori, berdiskusi, dan membangun argumentasi akademik. Terutama pada jenjang doktoral, mahasiswa harus mulai berpikir tentang kebaruan dan kontribusi apa yang dapat diberikan kepada ilmu Bimbingan dan Konseling,” jelas Sahril.
Ia mendorong mahasiswa baru mulai membangun kebiasaan akademik sejak awal masa studi. Di antaranya dengan rutin membaca artikel jurnal, mengikuti perkembangan penelitian, menulis secara ilmiah, aktif dalam seminar, serta membangun kolaborasi dengan dosen dan sesama mahasiswa.
Tahun 2026 juga menjadi momentum penting bagi Program Doktor Bimbingan dan Konseling UNM yang kini memasuki angkatan kedua. Kehadiran mahasiswa doktoral baru diharapkan semakin memperkuat ekosistem penelitian dan pengembangan keilmuan Bimbingan dan Konseling di FIP UNM.
Selain itu, tahun ini menjadi fase baru bagi pengelolaan pendidikan S2 dan S3 Bimbingan dan Konseling yang mulai berjalan dalam lingkup Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Makassar, setelah sebelumnya berada di bawah pengelolaan Program Pascasarjana.
Perubahan tersebut diharapkan turut membentuk iklim akademik baru yang semakin terintegrasi dengan lingkungan keilmuan FIP UNM.
Sahril menegaskan, pendidikan magister dan doktoral tidak semata-mata menjadi perjalanan untuk memperoleh gelar akademik. Lebih dari itu, proses tersebut merupakan ruang untuk membangun kematangan berpikir, kapasitas riset, serta identitas sebagai akademisi dan profesional.
“Karena itu, sejak awal kami berharap mahasiswa mempersiapkan diri. Kenali budaya akademiknya, nikmati proses belajarnya, bangun jejaring, dan jadikan kampus sebagai ruang bertumbuh serta melahirkan inovasi keilmuan. Pascasarjana bukan hanya tempat menyelesaikan studi, tetapi tempat membangun kapasitas untuk memberikan kontribusi yang lebih besar,” tutup Sahril. (*)
