GOWA, UJUNGJARI.COM — Potensi El Nino atau kemarau panjang saat ini cukup tinggi. Saking tingginya, membuat kantong-kantong air mengalami kekeringan. Sejumlah wilayah saat ini pun mengalami krisis air.
Di Kabupaten Gowa sejumlah kecamatan sangat rentan mengalami krisis air bersih diantaranya Kecamatan Bontonompo, Pattallassang, Barombong hingga kecamatan datara tinggi seperti Tompobulu.
Menyikapi kondisi riskan ini, Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Air Bersih Tirta Jeneberang terus melakukan pemantauan terhadap ketersediaan air baku yang bersumber di Sungai Jeneberang.
Di tengah kondisi El Nino saat ini, menurut Direktur Teknik sekaligus Plt Direktur Utama Perumda Air Minum Tirta Jeneberang Irianto Razak, pihaknya lebih fokus berada di lapangan memantau kondisi ketersediaan air baku.
“Saat ini saya lebih banyak turun ke lapangan untuk memastikan ketersediaan air baku dan memantau kondisi saluran distribusi air bersih ke pelanggan. El Nino ini tidak bisa kita hindari, tetap kita hadapi. Ini kondisi alam. Tapi meski demikian, pihak kami banyak melakukan pemantauan lapangan dan menunggu laporan masyarakat pelanggan mana jaringan sambungan yang tersendat atau kah mengalami kebocoran atau tidak, ” kata Irianto Razak pada Rabu (12/8).
Irianto mengatakan, pihaknya harus selalu
memastikan suplai air baku di seluruh unit instalasi tetap tersedia, meskipun terjadi penurunan debit air di sejumlah sumber air baku karena musim kering ini.
Dikatakannya, Perumda Air Minum Tirta Jeneberang saat ini memiliki 11 unit instalasi. Dari jumlah tersebut, beberapa di antaranya terdampak cukup signifikan akibat musim kemarau. Bahkan, penurunan debit air baku di sejumlah wilayah mencapai 70 persen.
Salah satunya terjadi di wilayah Malakaji, Kecamatan Tompobulu, yang mengandalkan sumber mata air pegunungan.
“Berdasarkan hasil monitoring dan laporan petugas di lapangan, debit air baku di Malakaji mengalami penurunan drastis hingga sekitar 70–80 persen akibat musim kemarau yang berkepanjangan. Karena itu,
agar masyarakat tetap mendapatkan pasokan air, kami menerapkan sistem distribusi bergilir. Dengan aturan 12 jam ke wilayah satu, 12 jam berikutnya ke wilayah lainnya. Jadi bergilir sehingga dalam waktu 1×24 jam masyarakat di Tompobulu tidak kehabisan air,” kata Irianto.
Sistem gilir ini dilakukannya sebagai satu strategi menjaga pelayanan kepada masyarakat di tengah keterbatasan sumber air baku.
Karyawan senior yang sudah 37 tahun lebih di PDAM Gowa (sekarang bernama Perumda) mengatakan, kondisi di Tompobulu cukup menantang lantaran sumber air yang digunakan berasal dari mata air pegunungan dan belum memiliki sumber alternatif lain yang dapat diandalkan ketika debit air menurun drastis.
Diakuinya, fenomena El Nino memberikan dampak cukup besar terhadap pelayanan perusahaan air minum. Kondisi ini dialami hampir seluruh perusahaan air minum di Sulawesi Selatan.
Meski El Nino juga terasa di Gowa, namun menurutnya, kondisi Kabupaten Gowa masih relatif terbantu dengan keberadaan waduk Bilibili yang hingga saat ini masih mampu mendukung kebutuhan di Gowa dan sekitarnya.
Irianto hanya mengimbau kepada masyarakat, bagi pelanggan yang merasakan krisis air berlebihan agar menghubungi Perumda Air Minum Tirta Jeneberang ahar bisa dilayani dengan suplai air melalui mobil tangki.
Khusus keluhan krisis air bersih seperti dialami penghuni pondok pesantren di Dusun Moncongloe, Desa Paccellekang, Kecamatan Pattallassang, Kabupaten Gowa, Irianto Razak mengatakan, sejak adanya laporan masuk, pihaknya langsung mengerahkan armada mobil tangki ke lokasi dimaksud.
Diakuinya, bahwa di lokasi titik keluhan di Moncongloe tersebut, memang tidak ada jaringan perpipaan atau jaringan Perumda Tirta Jeneberang di area tersebut.
“Saya baru dapat infonya pukul 21.00 Wita saat itu, langsung saya minta personel layanan mobil tangki bergerak kesana. Terus memang, di kawasan itu, belum sampai jaringan pipa karena sangat jauh titiknya. Namun meski terdeteksi, pada intinya kita beri bantuan sebagai empati terhadap mereka disana, ” terang Irianto Razak. –
