SOPPENG, UJUNGJARI.COM – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah IV Makassar memprediksi sebanyak 14 daerah di Sulawesi Selatan akan mengalami puncak musim kemarau ekstrem akibat pengaruh fenomena El Nino pada Agustus hingga September 2026.
Salah satu daerah yang masuk dalam wilayah terdampak adalah Kabupaten Soppeng. Kondisi kekeringan ekstrem di daerah ini diperkirakan masih berlangsung hingga September 2026 dan mulai mengalami penurunan intensitas setelah November 2026.
Meski demikian, pengaruh fenomena El Nino diprediksi masih akan terasa dalam beberapa bulan berikutnya hingga sekitar April 2027, meskipun secara bertahap intensitasnya mulai melemah.
Berdasarkan hasil prakiraan BMKG Wilayah IV Makassar, fenomena El Nino tahun ini menyebabkan berkurangnya curah hujan secara signifikan di sebagian besar wilayah Sulawesi Selatan.
Dari 14 daerah yang diprediksi mengalami kekeringan ekstrem, Kabupaten Soppeng menjadi salah satu wilayah yang perlu mendapat perhatian serius.
“Puncak kondisi kering ekstrem diperkirakan terjadi pada Agustus dan September. Setelah itu intensitasnya secara bertahap mulai menurun,” kata Farid Mufti, Staf Operasional sekaligus Prakirawan Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah IV Makassar, dalam keterangan persnya.
Kondisi kemarau ekstrem tersebut berpotensi menimbulkan sejumlah dampak, mulai dari berkurangnya ketersediaan sumber air, meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan, hingga terganggunya sektor pertanian dan perkebunan.
BMKG juga mengingatkan bahwa gejala pengaruh El Nino masih berpotensi dirasakan hingga April 2027. Karena itu, kesiapsiagaan pemerintah daerah dan masyarakat dinilai penting untuk meminimalkan dampak yang ditimbulkan.
Kondisi tersebut menjadi perhatian serius, terutama dalam memastikan ketersediaan air bersih untuk memenuhi kebutuhan masyarakat selama musim kemarau.
Pemerintah daerah diharapkan segera menyiapkan langkah-langkah mitigasi, termasuk pemantauan daerah rawan kekeringan, antisipasi krisis air bersih, serta penguatan kesiapsiagaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan.
Masyarakat juga diimbau untuk menggunakan air secara bijak dan menghindari aktivitas pembakaran lahan yang dapat memperparah kondisi serta meningkatkan risiko terjadinya kebakaran selama musim kemarau.
Dengan puncak kekeringan yang diprediksi berlangsung hingga September, warga di wilayah terdampak, termasuk Kabupaten Soppeng, diharapkan tetap meningkatkan kewaspadaan dan mengikuti perkembangan informasi cuaca serta iklim yang dikeluarkan BMKG. (*/Daus)
