JAKARTA, UJUNGJARI.COM – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sekitar 80 persen wilayah Indonesia saat ini sedang mengalami musim kemarau.
Sebagian besar wilayah bahkan diperkirakan memasuki puncak musim kemarau pada Agustus 2026.
Kondisi tersebut berimplikasi terhadap meningkatnya potensi kekeringan meteorologis, terutama di wilayah Indonesia bagian selatan.
Berdasarkan analisis dinamika atmosfer BMKG untuk sepekan ke depan, kondisi kering masih menjadi kecenderungan utama di sejumlah wilayah Indonesia.
Meski demikian, BMKG menyebut dinamika atmosfer tertentu masih berpotensi mendukung pertumbuhan awan hujan secara lokal di beberapa wilayah.
Kondisi kemarau yang berlangsung saat ini berkaitan dengan pengaruh El Niño kategori sangat kuat dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif yang diprakirakan masih mendominasi.
Kedua fenomena atmosfer tersebut cenderung menekan aktivitas konvektif atau pembentukan awan hujan. Dampaknya, kondisi kering diperkirakan masih berlanjut di sebagian wilayah Indonesia.
15 Kejadian Karhutla Tercatat
Musim kemarau juga masih diwarnai kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah daerah.
BMKG mencatat sedikitnya 15 laporan kejadian karhutla pada periode 25-27 Agustus 2026. Kejadian tersebut tersebar di delapan provinsi.
Wilayah yang melaporkan kejadian karhutla antara lain Kabupaten Aceh Besar, Aceh; Kabupaten Subang, Jawa Barat; serta Kabupaten Banyumas, Sragen, Klaten dan Sukoharjo di Jawa Tengah.
Karhutla juga dilaporkan terjadi di Belitung Timur, Kepulauan Bangka Belitung; Kutai Barat, Kalimantan Timur; Toli-Toli dan Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah.
Di Sulawesi Selatan, laporan karhutla tercatat di Pinrang, Enrekang dan Sidenreng Rappang. Sementara di Papua Barat Daya, kejadian dilaporkan terjadi di Kota Sorong.
Selain kejadian karhutla, pemantauan BMKG melalui citra satelit Himawari-9 pada 25 Agustus 2026 menunjukkan adanya peningkatan titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi di sejumlah wilayah Kalimantan.
Di Kalimantan Barat, titik panas meningkat dari 92 menjadi 140 titik. Kalimantan Tengah mengalami kenaikan signifikan dari 113 menjadi 352 titik, sedangkan Kalimantan Timur meningkat dari 30 menjadi 63 titik.
Sebaliknya, sejumlah wilayah mengalami penurunan titik panas. Riau turun dari 9 menjadi 0 titik, Jambi dari 15 menjadi 1 titik, Sumatera Selatan dari 298 menjadi 63 titik, dan Kalimantan Selatan dari 89 menjadi 60 titik.
Asap Meluas Terbawa Angin
BMKG juga mendeteksi adanya sebaran asap di sejumlah wilayah Indonesia. Sebaran tersebut terpantau di Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Lampung, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur.
Selain itu, asap juga terdeteksi di Maluku, Papua Barat, Papua Tengah, Papua Pegunungan hingga Papua Selatan.
Sebagian sebaran asap tersebut terbawa oleh pola angin sehingga meluas ke wilayah di sekitarnya.
Kondisi ini menjadi perhatian di tengah puncak musim kemarau yang berlangsung di banyak wilayah. Masyarakat, pemerintah daerah, serta pihak terkait diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kekeringan maupun karhutla, khususnya di wilayah yang memiliki kondisi lahan kering dan rawan terbakar. (**)
