Site icon Ujung Jari

Wabup Gowa Ajak Masyarakat Pahami Makna Bela Negara dan Perbanyak Literasi Digital

GOWA, UJUNGJARI.COM — Bela negara bukan hanya saat berada di medan perang tapi bela negara juga harus dimaknai ketika warga menjaga persatuan, menjaga kerukunan dan menjaga kedamaian antardaerah.

Hakikat bela negara ini disampaikan Wabup Gowa saat hadir pada workshop Pembinaan Kesadaran Bela Negara (PKBN) yang digelar Kementerian Pertahanan Republik Indonesia di Kabupaten Gowa yang berlangsung di Gedung Serbaguna LL Kabupaten Gowa pada Kamis (27/8).

Dikatakan Wabup Gowa, sikap seorang warga dapat dikatakan melakukan bela negara ketika warga mampu menciptakan kerukunan dan kedamaian diwilayahnya.

“Bela negara itu bukan hanya ketika kita berada di medan perang, berjuang, tapi bela negara itu kita telah lakukan bilamana kita sudah mampu menjaga persatuan, kerukunan dan kedamaian di daerah sendiri. Jadi disini yang perlu dipahami adalah bagaimana setiap warga negara mengambil peran dalam menjaga bangsa agar tetap aman, damai, rukun dan terus berkembang dalam kondisi yang kondusif,” kata Wabup Gowa.

Wabup menegaskan, bela negara tidak semata-mata berkaitan dengan peperangan atau tugas TNI dan Polri saja. Bela negara merupakan tanggung jawab seluruh warga negara yang dapat diwujudkan melalui upaya menjaga keamanan serta mendorong kemajuan bangsa.

Wabup Gowa pun mengapresiasi kegiatan PKBN ini. Karenanya Darmawangsyah berharap kegiatan ini dapat dikembangkan hingga ke lapisan masyarakat terbawah.

“Kami merasa tersanjung karena kegiatan ini dilaksanakan di Gowa. Kami berharap program seperti ini ke depan bisa dilaksanakan di seluruh kabupaten dan kota, khususnya di Gowa secara menyeluruh hingga ke kecamatan,” kata Darmawangsyah.

Dikatakannya, pembinaan kesadaran bela negara sejalan dengan upaya pemerintah dalam memperkuat nasionalisme dan membangun kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Darmawangsyah mengapresiasi peran pemerintah desa dan kelurahan di Gowa dalam menjaga keamanan dan ketenteraman. Ia pun mengakui kondisi keamanan yang relatif kondusif tidak terlepas dari kerja sama pemerintah daerah dengan TNI dan Polri hingga ke tingkat wilayah.

“Kami sangat mengapresiasi keamanan di Gowa. Pemerintah desa dan kelurahan mampu menjaga keamanan dan ketenteraman masyarakat. Kerja sama TNI, Polri dan pemerintah terus terjalin sehingga pemerintahan dapat berjalan dengan baik,” tambah Wabup yang akrab disapa DM ini.

Sebagai pemerintah kabupaten, Wabup Gowa memastikan Pemerintah Kabupaten Gowa membuka peluang agar kegiatan PKBN ini dapat dikembangkan dan dianggarkan untuk pelaksanaan pada tahun berikutnya.

“Insyaallah, di Kabupaten Gowa, apapun kegiatannya kami akan support. Ini merupakan pilot project dan kami berharap bisa dilaksanakan kembali pada tahun selanjutnya,” ucap wabup.

Sementara itu, Kepala Pusat Bela Negara Badan Cadangan Nasional Kementerian Pertahanan Republik Indonesia Brigjen TNI Parluhutan Marpaung, mengapresiasi Pemerintah Kabupaten Gowa atas dukungan terhadap kegiatan workshop ini.

Ia menegaskan, seluruh elemen masyarakat, termasuk pemerintah daerah, memiliki peran dalam membangun kesadaran bela negara.

“Bela negara bukan hanya tanggung jawab Kementerian Pertahanan, TNI atau Polri. Ini merupakan tanggung jawab bersama, termasuk pemerintah kabupaten dan seluruh masyarakat. Karena itu, seluruh sumber daya manusia dan sumber daya alam yang dimiliki Indonesia harus diarahkan untuk memberikan kontribusi terhadap kepentingan bangsa dan negara,” kata Parluhutan.

Menurutnya, kesadaran bela negara pada dasarnya merupakan panggilan hati dan jiwa karena setiap warga negara memiliki rasa memiliki terhadap daerah dan negaranya.

“Workshop ini merupakan bagian dari upaya membangun sikap mental dan karakter masyarakat. Penguatan karakter dinilai semakin penting di tengah perubahan zaman dan perkembangan teknologi digital yang begitu cepat. Generasi muda kini tumbuh dalam lingkungan digital dengan akses informasi yang sangat luas melalui media sosial. Era sekarang sudah berbeda. Generasi kita sudah masuk dalam pembelajaran media digital yang hampir tidak terkontrol dan tidak terkendalikan, baik oleh guru maupun orang tua. Karena itu, membangun karakter pada era kekinian sangat sulit dibandingkan zaman dulu,” kata Parluhutan.

Namun dia ingatkan besarnya ancaman terhadap negara saat ini tidak hanya berbentuk ancaman militer atau fisik. Ancaman nonmiliter juga dapat muncul melalui bidang ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, hingga ruang siber.

“Penyebaran informasi palsu, misinformasi, serta konten yang dapat memecah persatuan masyarakat menjadi bagian dari tantangan yang harus dihadapi bersama. Karena itu, masyarakat harus meningkatkan literasi digital, khususnya dalam menyikapi informasi yang beredar di media sosial. Masyarakat jangan terburu-buru mempercayai maupun membagikan setiap informasi yang diterima. Setiap informasi perlu diperiksa terlebih dahulu, baik dari sisi kebenaran, sumber maupun manfaatnya. Hati-hati dalam membagikan berita atau informasi. Literasi digital perlu kita tingkatkan,” tandasnya.

Dalam workshop yang dihadiri Asisten Teritorial Kepala Staf Kodam XIV Hasanuddin Kolonel Arm Muh Saifuddin Kholiruzzamani, Kepala Badan Kesbangpol Provinsi Sulawesi Selatan Bustanul Arifin serta unsur Forkopimda dan jajaran Pemerintah Kabupaten Gowa, Parluhutan menekankan perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) akan semakin memengaruhi kehidupan masyarakat dalam dua dekade mendatang. Ada positif dan negatifnya.

Menurutnya, penguasaan AI menjadi salah satu kunci penting bagi Indonesia untuk mengoptimalkan bonus demografi dan mengubahnya menjadi kekuatan ekonomi. Generasi muda, perlu dipersiapkan agar tidak hanya menjadi pengguna teknologi tapi mampu menguasai dan memanfaatkannya secara produktif. Namun AI ini jangan disalahgunakan sebab bisa menjadi pemicu besar perpecahan dalam menyebarkan info bohong. –

Exit mobile version